
"Al, minta bunganya dong" kata Rafa yang duduk persis dibelakang Alda.
Tanpa pikir panjang, Alda memberikan bunga yang dikasih Alex dan Rian tadi pada Rafa.
"Nih, Raf" katanya.
"Yang begini aku juga punya banyak kali, dikasih sama adik kelas" gerutu Rafa.
"Yeuuh, sok iye" Angga memulai perkara.
"Lah emang iye. Tampan, cerdas dan tentu saja bercuan" bangga Rafa.
"Iyain aja, Ga. Yang waras ngalah" kata Randi sarkas.
Mika dan Alda tertawa ringan mendengar percakapan dibelakang mereka.
"Ayolah Al, minta bunga baby breath nya dong" rengek Rafa.
"Bunganya buat apa Raf?" tanya Mika.
"Buat kanjeng ratu" jawab Rafa singkat.
"Raf, Lo udah miskin banget yah sampai minta bunganya adek?" tanya Angga sarkas.
"Yeuhhh, lemes banget itu mulut. Aku kan cuma mancing dia, bakal dikasih apa nggak bunganya." jujur Rafa.
"Bunganya keren tauu Raf. Makanya Alda gak ngasih" ucap Alda.
"Yang keren bunganya apa yang ngasih, dek?" goda Mika.
"Apa sih?" kata Alda kemudian membuang pandangannya ke jendela mobil.
"Ya orangnya lah" sambar Rafa.
"Gitu-gitu tuh anak punya nganu. Kata bokap gue pak Maheswari habis akusisi perusahaan sini, terus dikasih Renal suruh ngurus. Meskipun yang jadi CEO masih tangan kanannya pak Maheswari" jelas Randi.
"Tahu banget Lo, Ran. Habis nge-stalking Lo?" tanya Rafa.
"Sueeeee."umpat Randi.
"Dibilangin yang ngomong bokap gue"
"Ngapa jadi kesono sih ngomong nya?" heran Angga.
"Yah kan kita ini bahas masa depan Alda." jawab Rafa.
"Masa depan apa sih Raf? Noh, jadi bahan omongan kalian aja adem ayem." lerai Mika.
"Yah masa depan lah." sewot Rafa.
"Tengkar teruuus" ucap Alda setelah lama diam.
"Kak, depan belok kiri. Alda lapar" perintah Alda.
"Awas Lo Raf. Entar Lo yang nyetir" ancam Mika.
Rafa mengangkat tangannya.
"Thanks, tapi Lo aja. Lo ada bakat buat jadi supir"
"Supir pesawat ya Raf?" tanya Alda sebelum kakaknya kembali judes.
"Noh, Alda aja tahu" kata Rafa.
"Oke. Sampai rumah gua ngomong sama papa deh buat masukin gue sekolah pilot" Mika mematikan mesin mobilnya kemudian turun meninggalkan kemudi.
"Ohh tidak bisa." kata Alda mengejar Mika kemudian bergelayut manja di lengan kakaknya.
Mika mengelus kepala adiknya sambil menyebutkan pesanan. Sementara tiga orang lainnya duduk anteng disudut resto.
"Alda jadi pilih gap year?" Tanya Angga.
Alda mengangguk.
"Yap."
"Gak pengen kuliah aja? Ambil kedokteran lah." Rafa menyampaikan pendapatnya.
"Yap, masuk FK. Abis itu pegang deh rumah sakitnya" Randi menyetujui pendapat Rafa.
Alda menghela napasnya.
"Aku belum tahu passion ku dimana" ucapnya jujur.
"Terus yang bakal handle rumah sakitnya pak Arunika siapa? Lo, Ka?" tanya Angga.
Mika menggeleng.
"Gue ambil manajemen, bro"
"Enak bener jadi kalian berdua. Kayaknya kalian cukup bernapas aja" celetuk Randi.
"Yah, gak gitu Ferguso. Lo kira gue dan Alda gak pusing mikirin ini itu. Alda masih mending, yang tahu dia anaknya pak Arunika cuman beberapa orang. Lah gue? Napas aja dipantau orang, apalagi begini begitu" curhat Mika.
"Santailah. Nikmati segalanya. Ikuti alurnya" nasehat Angga.
Alda memeluk Mika erat, memberikan semangat lewat pelukannya.
"Kalau aku udah nemu passion aku, aku bakal lanjut sekolah kok" ucap Alda.
Obrolan mereka terhenti saat pelayan datang membawa pesanan.
"Silahkan mbak, mas" ucap pelayan itu sopan.
"Terimakasih, mbak" ucap mereka bersamaan.