
Alda sedari tadi sibuk menghubungi Renal. Ponsel Renal tidak aktif, ponsel Abdi juga. Ia bingung harus bagaimana. Saat mendapat kabar dari supirnya tadi, ia begitu kaget. Tidak percaya. Dengan langkah yang dibuat secepat mungkin, ia mendatangi rumah kakaknya, menitip Nevan pada Mbak Ni dan Ivana.
Alda ke rumah sakit bersama Aina dan Lathief dan juga supir papanya. Sepanjang jalan ia terus gelisah. Ia bahkan belum melihat sedikit pun wajah anaknya, karena anaknya sedang ditindaki.
Seperti yang pernah terjadi, anak perempuan kecil itu kehilangan banyak sekali darah. Tanpa pikir panjang Lathief meminta Jake untuk segera ke kota A.
Setelah menelpon Jake, Lathief meminta Min menghadap dirinya.
"Apa yang bisa kau laporkan?" tanya Lathief.
"Maaf beribu maaf, tuan. Kami datang terlambat, sangat terlambat. Kami melihat nona kecil diseret oleh seorang wanita. Tanpa pikir panjang saya menembaki kaki wanita itu, tapi ternyata hal diluar dugaan terjadi, ia mendorong nona kecil yang sudah tidak berdaya ke jalan raya, tapi naas kepalanya terbentur di trotoar jalan. Barulah kami menembaki tangan perempuan itu lagi. Ini salah saya, tuan." Min membungkuk sejenak setelah menjelaskan apa yang ia lihat dan lakukan.
"Kemana perempuan itu?"
"Diamankan oleh Ran dan Rum, tuan"
"Apakah semuanya aman?"
"Kami sudah meretas cctv tempat kejadian. Aman dari orang-orang dan media. Tuan bisa ketemu perempuan itu kapan pun tuan mau"
"Jika keadaan cucuku sudah bisa dipastikan aman, kembali lah ke RelFath, ambil hukumanmu disana. Jika masih diizinkan untuk menjadi penjaga Athena, saya minta tolong untuk kau benar-benar menjaganya."
Min mengangguk.
"Terima kasih, tuan" katanya.
Di ruang tunggu, Alda sudah tertidur dalam pelukan papanya.
"Anak kita sepertinya kecapekan, pa" Aina mengelus kepala anaknya yang bersandar di dada sang papa.
"Anaknya sudah sebesar ini tapi masih tidur dalam pelukan papanya." canda Lathief.
Aina terkekeh. Disaat seperti ini, hanya dukungan yang bisa ia berikan pada sang putri.
"Renal kok belum ada yah?"
"Papa sudah kirim orang untuk menjemputnya" jawab Lathief menenangkan istrinya.
✨✨✨
BRRAAAAK
Pintu terbuka dari luar. Beberapa orang berseragam hitam masuk. Tanpa sungkan ia menarik Renal. Abdi yang melihat bossnya ditarik, merasa tidak terima.
"Kembalikan boss saya. Meeting nya belum selesai" teriak Abdi sambil mengikuti orang-orang yang membawa Renal secara paksa.
Sementara temannya membawa Renal, dua orang diantara mereka tinggal dalam ruangan.
"Jangan sampai berpikir untuk membocorkan kejadian ini. Atau kalian tidak akan selamat sampai rumah" ucap salah satunya.
Salah satu pengusaha tertawa mencomooh.
"Kenapa kami harus takut pada kalian? Ini berita yang bagus. Seorang Renaldi Maheswari diseret keluar dari ruang meeting oleh orang tidak dikenal."
Orang suruhan Lathief melipat tangannya di dada.
"Anda terlihat begitu ingin menjatuhkan tuan Renaldi Maheswari. Bukan begitu pak Budi yang terhormat? Tidak perlu melakukan apapun. Cukup tutup mulut kalian dan kalian akan aman" katanya sambil memperlihatkan sebuah lambang di telapak tangannya.
Mereka semua terbelalak kaget, beberapa orang bahkan melarikan diri. Demi apa mereka dipertemukan dengan anggota organisasi kematian itu. Mereka tahu betul jika wajah mereka adalah palsu.
✨✨✨
Mobil yang membawa Renal sudah sampai di halaman rumah sakit. Renal enggan untuk bertanya. Ia sudah menghabiskan waktunya sepanjang perjalanan untuk bertanya.
"Rupanya papa memang harus mengirim mereka hanya untuk membawamu kemari" sarkas Lathief yang baru datang. Ia mendapat pesan dari anak buahnya, jika Renal sudah tiba.
"Ada apa, pa?" bingung Renal.
Lathief mengangkat bahunya.
"Ruang tunggu operasi lantai 3" katanya sebelum meninggalkan menantunya.
"S*it" Renal mengumpat sebelum berlari menuju tempat yang mertuanya sebutkan tadi. Pikirannya sudah kemana-mana.