Renalda

Renalda
Familia



Kedatangan mereka di RelFath disambut baik oleh Mi. Mi, kepala pelayan di kediaman Ares. Ares dan Weni sedang tidak di rumah. Weni sedang menemani Ares ke negara G untuk urusan pekerjaan.


"Keren bener Aunty Weni, sampai punya rumah kek istana gini" kata Priska yang duduk sambil mengepang rambut Alda.


"Hooh, berasa di negeri dongeng aku" Rina menimpali.


Para ibu-ibu sedang bersantai ria di ruang keluarga sambil nonton drama dari negeri sana.


"Cantik bener anak gadis. Cocok gitu kalau rambutnya dikepang. Berasa jadi princess Disney yah dek" puji Arwini.


"Mama Wini bisa aja" kata Alda sambil terkekeh.


"Kita enaknya ngapain yah? Gak mungkin kan selama disini kerjaannya cuma rebahan?" Rina mulai bosan nonton.


"Buat kue aja kali yah" Arwini mengeluarkan pendapat.


"Boleh tuh. Aku kasih tahu Mi dulu" Aina menyetujui. Ia kemudian mencari Mi.


"Dek, katanya anaknya Bu Dina tunangan yah?" ceplos Priska yang langsung mendapat tatapan tajam dari Wini dan Rina.


"Iya, mami. Semacam perjodohan gitu" jawab Alda kalem.


"Adek gak apa-apa kan?" tanya Rina juga.


Alda terkekeh.


"Adek baik-baik aja. Lihat nih, cantik gini kok gak cumal" jawab Alda riang.


"Adek tuh cantik, baik pula. Nanti pangerannya pasti datang" Wini mengelus rambut Alda.


"Pangeran nya yang berkuda putih" cengir Alda.


Saat Mi datang, ia memanggil para ibu-ibu untuk segera ke dapur, karena Aina sudah menunggu.


"Santai, Mi. Kamu istirahat dulu aja sana." Aina mengusir Mi dari dapur.


Alda membuat adonan bersama Rina dan Wini, sedangkan Priska dan Aina membuat cream.


Di bagian sisi lain RelFath, para lelaki sedang sibuk menunggangi kuda.


"Penangkaran kudanya elit bener" Erlan mulai mengeluarkan suaranya.


"Apa coba yang gak elit disini? Semuanya high class" Arwan menimpali.


"Rakyatnya maju, kehidupannya sejahtera. Ekonomi berjalan lancar. Thif, sisain gue rumah disini yah. Entar gue kredit" Erlan mulai ngaco ngomongnya.


"Gak ada, gak ada. Kasian orang pribumi sini kalau Lo masuk sini." tolak Lathief.


"Lo teman gue bukan sih?" murka Erlan.


"Temen sih temen, tapi tetep peraturan lah" jelas Lathief.


Orang luar memang tidak diizinkan untuk berdomisili disini. Beberapa pekerja yang berasal dari luar pulau pun tetap tidak bisa. Setiap weekend para pekerja yang berasal dari luar pulau diberi waktu libur untuk pulang ke tempat asal masing-masing. Tentu bukan hal yang sulit bagi para pekerja untuk pulang setiap pekannya, karena mereka difasilitasi oleh RelFath Group. Mereka juga cukup diistimewakan, setiap 3 bulan sekali, mereka boleh membawa keluarga mereka datang ke RelFath dan menikmati segala fasilitas yang telah disediakan. Para tetua RelFath sudah membangun kompleks untuk para pekerja. Sedangkan untuk pribumi, mereka diberi lahan kosong agar mereka bebas mendesain rumah mereka sendiri. Setiap kartu keluarga juga diberi lahan untuk bertani. Sedangkan yang memilih untuk bersekolah akan disekolahkan oleh RelFath.


"Tapi kita-kita masih bisakan kesini?" tanya James.


"Bisalah, nanti atur waktu aja" Lathief menjawab dengan pasti.


"Ehh, katanya cucunya pak Maheswari tunangan kapan hari" Erlan memulai untuk bergosip.


"Iya, Umma nya Aina nelpon pas mereka diundang" Lathief mengiyakan.


"Kalau gak jadi sama anaknya pak Maheswari, sama Rafa aja." James ikut mengajukan.


"Huuu" teriak Erlan dan Arwan.