
Hari sudah sore. Para laki-laki langsung diminta bersih-bersih kemudian ngopi. Taman yang terletak dibelakang rumah nampak indah. Mawar bermekaran cantik. Tikar sudah dibentangkan sebagai pengalas mereka duduk. Mi dan teman-temannya datang membawa nampan yang berisi cangkir dan kopi, juga teh untuk para perempuan. Kue yang dibuat oleh para perempuan juga sudah disajikan.
"Pasti putri papi nih yang buat" goda James pada Alda.
"Siapa lagi emang. Ya kali Rafa yang bikin" Arwan menimpali.
"Ribut terus" cibir Lathief.
Menikmati hari sebelum gelap dengan kopi dan juga kue merupakan perpaduan yang jarang terjadi di kota A. Di kota A mereka kerja dari pagi hingga sore, kadang sampai malam. Sesekali mereka sepakat untuk libur, meluangkan waktu untuk berkumpul.
Sekarang mereka seharusnya bisa merasakan bebas sejenak sebelum kembali menghadapi realita di kota. Lathief dengan baik hati mengajak mereka ke tempat yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan.
Di sudut rumah ini ada kebun kecil. Ada sebuah pohon apel yang sepertinya dicangkokkan dengan anggur dan buahnya begitu lebat. Ada jeruk yang tingginya kurang lebih 1 M tapi buahnya begitu banyak. Keahlian manusia benar-benar diterapkan di pulau ini. Meskipun lahan para petani tidak cukup luas, tapi hasil yang mereka hasilkan melimpah ruah. Di pulau ini ada sebuah laboratorium yang didirikan khusus untuk membuat obat-obatan, racun hingga cairan untuk tumbuhan-tumbuhan agar buahnya lebat.
"Adek gimana? Lanjut gap year atau lanjut belajar?" tanya Erlan.
"Dia pengen private course aja disini." Lathief mewakili Alda menjawab pertanyaan Erlan.
Semua mata kini memandang ke arah Alda, kecuali Mika dan Aina yang tentunya lebih santai. Mereka tahu lebih dulu.
"Gak bisa, Alda ikut pulang pokoknya" Rafa berdiri, duduk disamping Alda.
"Enak aja tinggal disini. Entar yang gue datangin di rumah Alda siapa? Ya kalii cari Mika" Angga ikut bicara.
"Pikir-pikir deh. Anak gadis kalian ini lho, satu-satunya pula" Rina memberikan saran.
Aina tersenyum.
"Kalian kayak orang susah aja sih. Ini anak pernah juga tinggal di asrama, baik-baik aja kan hingga selesai." ucap Aina menenangkan.
"Terus Rafa gimana? Ini pulau RelFath lho, jauh dari negara D " keluh Rafa.
"Yaudah, Rafa kuliahnya yang bener, biar selesainya cepat. Terus pulang deh"
"Ya kali bisa gitu" Rafa memberenggut.
"Ya bisain." timpal Mika.
Malam sebelum Lathief dan Aina berangkat, ia mendapat telpon dari sang anak. Alda lebih dulu berunding dengan Mika, setelah mendapat persetujuan, barulah Alda menelpon orang tuanya.
Lathief awalnya juga tidak setuju. Di kota A, ia punya banyak kenalan mentor yang jangkauannya sudah internasional. Alda dengan tenang meminta pada orang tuanya, membujuk dengan lembut. Dengan segala upaya dan persyaratan, akhirnya Lathief dan Aina memberikan izin.
"Nanti kalau liburan, gak usah ke kota A. Langsung aja terbang kesini" saran Randi.
"Ya kali Lo bisa masuk sini kalau gak sama mereka berdua" cibir Angga.
Randi menepuk jidatnya.
Bisa-bisanya ia lupa hal sepenting itu. Mereka bisa bebas keluar masuk RelFath tentu ada campur tangan dari si kembar. Tanpa mereka, bahkan nama RelFath pun gak mereka tahu.
"Terus yang temanin aku nyalon siapa lagi?" keluh Priska.
Ya, selama Alda gap year, beberapa kali Priska mengajak Alda untuk menemaninya ke salon atau sekedar membeli beberapa pakaian.
"Hooh, siapa lagi yang bakal nemenin aku kunjungan" keluh Rina.
"Yang bakal recokin skincare aku siapaaaaaaaa" Arwini berdrama.
Mereka memang sesayang itu kepada anak gadis.