
Angel yang sedang bermain ponsel cukup terkejut melihat ins ta story Alda. Randi ternyata memilih untuk melanjutkan pendidikannya diluar negeri.
Tidak perlu diragukan lagi, dari segi otak dan finansial tentu saja orang sekelas Randi dan kawan-kawan memilih untuk melanjutkan pendidikan di universitas yang di akui dunia.
Melepas gelar dan seragam SMA tentu bukan hal yang mudah. Melepaskan kenangan masa sekolah kemudian membentuk, membuat cerita baru. Yang tentu saja bisa ditebak gak bakalan bisa seindah masa lalu. Entah akan lebih indah atau mungkin sebaliknya.
Beberapa hari setelah mengantar Rafa dan Randi ke negara D, Mika dan Angga juga mulai menjalani harinya sebagai seorang mahasiswa.
Alda yang benar-benar memilih gap year pun tinggal di rumah. Sesekali keluar, jika Mika atau Angga sedang senggang. Jika pun keluar seorang diri, tentu hanya beberapa meter dari rumah, yaitu lapangan dan taman kompleks.
Seperti sore ini, Alda sedang berlari mengitari jogging track yang mengelilingi taman. Dengan celana training selutut dan baju kaos berwarna navy, ia kelihatan begitu cantik juga manis.
Setelah di rasa cukup, Alda duduk dengan kaki memanjang. Mengatur napasnya agar kembali normal.
"Minum" seseorang menyodorkan air mineral padanya.
Alda mencari dari mana botol tersebut.
"Thank you" ucapnya pada Renal.
Yah, Renaldi Maheswari.
"Sendiri aja?" tanya Renal yang mengambil posisi duduk samping Alda.
"Kelihatannya?" tanya Alda balik sambil menaikkan sebelah alisnya.
Renal terkekeh. Ia mengusap dahi Alda.
"Gak usah pasang muka garang gitu. Bukannya aku takut, jatuhnya malah lucu, pengen ketawa terus cubitin pipi kamu" kata Renal.
Alda menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Pekan depan aku ada turnamen basket. Kamu nonton yah." Renal lagi-lagi bersuara.
"Ini pertanyaan atau perintah?" tanya Alda.
"Perintah. Turnamen aku yang beberapa bulan lalu kamu gak nonton. Kalau yang pekan depan, kamu harus nonton"
Alda menatap Renal.
"Harus banget?" tanyanya.
Renal mengangguk.
"Kenapa kamu gak panggil Angel aja sih?" pancing Alda.
"Gak usah sebut Angel kalau lagi sama aku" kata Renal judes.
"Mau pulang gak nih" tanyanya kemudian.
Alda berdiri, ikut pulang.
"Aku kesini baik sepeda. Kamu gak apa-apa berdiri sambil aku bonceng?" tanya Mika.
Mika mengangguk.
"Yaudah, aku juga jalan. Sepedanya ikutan jalan" putus Renal.
"Terserah" judes Alda.
Renal terkekeh mendengar nada bicara Alda yang terkesan judes. Entah bagaimana pun ekspresi yang Alda tunjukkan, semuanya membuatnya terhibur.
"Gak pengen yah aku boncengin?" tanya Renal.
Alda yang berjalan beriringan dengan Renal pun hanya diam.
"Al, aku nanya kamu lho ini"
"Aku lagi pengen jalan aja, Ren. Kasian juga sepedamu, aku gemukan soalnya" jawab Alda.
"Ngomong apa tadi?" tanya Renal.
"Lagi pengen jalan"
"Bukan, yang tadi"
"Kasian sepedanya"
"Lagi lagi"
"Aku gemukan" ucap Alda.
"Orang kamu kurusan gini" omel Renal.
"Aku gemukan tahuu"
Renal mengelus kepala Alda yang berdiri dihadapannya.
"Masuk gih, udah petang"
"Hati-hati pulangnya" ucap Alda.
Renal mengangguk.
"Aku pulang" katanya kemudian melanjutkan langkahnya menuju rumahnya.
Setelah Renal tidak terlihat lagi, Alda berjalan memasuki rumahnya.
"Enak bener yah kepalanya dielus gitu" cibir Angga yang sudah berdiri diteras.
"inik binir yih." cibir Alda.
"Ya enaklah" sarkasnya kemudian.
Tawa Angga meledak mendengar sarkasme Alda. Kapan lagi denger nada sarkas Alda, coba.