Renalda

Renalda
Cappodocia



Alda dan Mika kini menikmati waktunya di Turkey. Ia bepergian di sopiri oleh Jake. Cappodocia kini menjadi tujuannya.


Alda bersandar dipundak sang kakak. Mobil Van yang sudah di sulap sedemikian rupa terasa sangat nyaman.


"Berapa lama lagi kak?" tanya Alda.


"Masih lama, dek. Udah ngantuk yah?"


Alda mengangguk.


"Kebelakang gih, tidur dulu" Mika menyarankan.


"Tidur bareng yok" ajak Alda.


Mika terkekeh mendengar ajakan sang adik. Sudah sebesar ini dan adiknya masih manja. Ia kemudian menyusul sang adik yang sedang mencoba memejamkan matanya.


Merasa kasurnya bergerak, Alda tahu jika Mika benar-benar menyusulnya. Ia menyusup ke pelukan sang kakak, mencari kenyamanan.


Mika mengelus kepala sang adik, memberikan kenyamanan. Saat ia melihatnya, Alda ternyata sudah tertidur pulas. Mika tersenyum melihat ketenangan yang terpancar dari wajah sang adik. Ia tahu betul bagaimana remuknya hati sang adik di kediaman Maheswari kemarin.


Pemandangan indah memanjakan mata para pengunjung di Cappodocia. Tanahnya, terik matahari juga banyaknya pengunjung yang hilir mudik. Sepasang saudara Arunika memilih untuk mengunjungi tempat ini.


Alda mengenakan rajut berlengan panjang, juga celana jeans, tak lupa kepalanya ditutupi topi.


Melihat style sang adik, tanpa diminta Mika memotret nya dengan view balon udara.


Alda berjingkrak senang melihat hasil potret sang kakak.


"Mama udah dimana kak?" tanya Alda.


"Bentar lagi sampai kok. Kita di minta nunggu do hotel aja." jelas Mika.


Aina sedang menemani sang suami, Lathief menghadiri undangan makan siang koleganya. Yang ternyata disana bukan hanya mereka yang datang, tapi juga Mr. dan Mrs. Maheswari.


Mereka berjalan ke hotel terdekat yang tentunya sudah dibooking oleh Karina.


"Sayang, ganti baju gih." Aina memberikan Alda sebuah gaun.


Mika juga mengganti bajunya mengenakan kemeja dan celana jeans.


Setelah semuanya siap, keluarga yang di kepalai oleh Lathief menuju ke tempat dimana balon udara bertandang.


Fotografer profesional yang disewa mulai melakukan tugasnya. Ia mengambil gambar satu hingga gambar lainnya dari setiap sudut yang berbeda.


"Keren banget anak-anaknya mama" Aina begitu terkagum melihat sang anak.


"Papanya dulu dong" bangga Lathief sambil terkekeh.


Alda dan Mika hanya menghela napas pasrah mendengar ucapan kedua orang tuanya. Tapi tetap membenarkan dalam hati.


"Ayo pa, kita lagi. Mama gak mau yah kalah sama mereka" dengan semangat yang membara, Aina menarik tangan sang suami untuk mencari tempat yang bagus untuk berfoto.


"Papa romantis yah, kak" lirih Alda.


Meskipun hanya lirihan pelan, Mika tetap bisa mendengar apa yang adiknya ucapkan.


"Iyalah romantis, papa Lathief gitu" Mika membenarkan ucapan sang adik.


Setelah mengambil beberapa gambar dalam formasi lengkap, mereka kembali ke hotel. Aina sudah merasa sangat lelah.


"Pa, adek sama kakak masih pengen kesana" ucap Alda.


"Hati-hati yah, kalian. Kak, adeknya dijaga" pesan Aina.


Mika mengangguk. Mereka kembali ke tempat tadi.


"Kak, ayo kita naik balon udara" Alda begitu antusias menarik lengan kakaknya.


Mika hanya pasrah mengikuti kemana langkah kaki adiknya.


Mereka kini berada diketinggian. Menikmati udara yang begitu sejuk, melihat banyak orang dari atas dan banyak hal.


Alda selfie. Dengan gokil ia mencium pipi sang kakak. Seakan mengerti kegokilan sang adik, Mika seolah kaget mendapat ciuman dari sang adik.


Setelah menaiki balon udara, sepasang anak kembar tersebut melanjutkan perjalanan. Saat sedang asyik bercanda ria, pandangan Alda tiba-tiba berhenti pada sepasang anak remaja yang berpegangan tangan sambil tertawa.


Mika mengikuti arah pandang sang adik. Dengan lembut ia mengelus kepala sang adik.


"Gak apa-apa. Masih ada kakak" ucap Mika menenangkan.


Alda tersenyum manis. Kemudian memeluk sang kakak.


"I'm okay" katanya.


Sepasang remaja tersebut adalah Renal dan Angel.