Renalda

Renalda
Back To Asrama



Sore ini Mika kembali mengantarkan adiknya ke asrama. Sisa 45 hari Alda akan tinggal di asrama tersebut. Tanpa melalui banyak drama seperti sebelumnya, ia berhasil memasuki mobil kakaknya.


"Untung aja para mama gak ada di rumah. Seandainya nggak, gue yakin adek bakal ada drama lagi seperti sebelumnya"


Alda meringis mendengar perkataan kakaknya.


"Mereka sayang tau sama adek. Makanya gitu"


"Adek kan kesayangan kita semua" ucap Mika.


Alda menyetel lagu di mobil kakaknya. Ia memilih lagu jaman dulu yang berhasil Tri Suaka cover hingga menjadi lagu favorit dikalangan remaja.


Ini salahku


Terlalu memikirkan egoku


Tak mampu buatmu bersanding nyaman denganku


Hingga kau pergi tinggalkan aku


Terlambat sudah


Kini kau t'lah menemukan dia


Seseorang yang mampu membuatmu bahagia


Ku ikhlas kau bersanding dengannya


Aku titipkan dia


Lanjutkan perjuanganku 'tuknya


Bahagiakan dia, kau sayangi dia


Seperti ku menyayanginya


'Kan kuikhlaskan dia


Tak pantas ku bersanding dengannya


'Kan kuterima dengan lapang dada


Aku bukan jodohnya


Aku titipkan dia


Lanjutkan perjuanganku 'tuknya


Bahagiakan dia, kau sayangi dia


Seperti ku menyayanginya


Dan 'kan kuikhlaskan dia


Tak pantas ku bersanding dengannya


'Kan kuterima dengan lapang dada


Aku bukan jodohnya, oh-wo-wo


Oh, aku titipkan dia


Lanjutkan perjuanganku 'tuknya


Bahagiakan dia, kau sayangi dia


Seperti ku menyayanginya


'Kan kuikhlaskan dia


Tak pantas ku bersanding dengannya


Dan 'kan kuterima dengan lapang dada


Aku bukan jodohnya


"Apaan tuh lagunya? Galau amat." cibir Mika.


"Bagus tauu kak" bela Alda.


"Seperti adek dan Renal yah lagunya" kata Mika sarkas.


"Ihh gak gitu juga, yah" Alda merajuk. Ia membuang pandangannya pada jendela.


Menyadari adiknya yang merajuk, Mika mengelus puncak kepala adiknya.


Mendengar penjelasan sang kakak, Alda kembali meluruskan pandangan nya kedepan. Benar apa yang kakaknya katakan.


Mobil berhenti, mereka sudah sampai di depan asrama. Alda masih duduk di kursi penumpang. Sementara Mika mengambil barang-barang adiknya.


Menyadari adiknya belum turun dari mobil, Mika membuka pintu untuk adiknya. Alda memeluk pinggang Mika erat, ia menenggelamkan kepalanya di perut sang kakak. Tangan Mika dengan telaten merapikan rambut sang adik.


Mika menangkup wajah adiknya agar menatapnya.


"Jangan sedih terus. Belajar yang rajin. Kakak akan selalu ada untuk adek. Adek itu separuhnya kakak, segalanya untuk kakak" ucap Mika tenang.


Ia kemudian mengecup puncak kepala adiknya agak lama.


Alda keluar dari mobil.


"Terimakasih my prince" katanya.


Mika terkekeh.


"You are welcome, my little princess"


"Hati-hati yah di jalan." Alda melambaikan tangannya. Melihat mobil kakaknya hilang dari pandangan.


Saat Alda akan menarik kopernya, seseorang lebih dulu menariknya.


"Gue bawain deh, kak" katanya.


Alda mengangguk. Ia mengikuti langkah kaki orang yang membawa kopernya.


Saat menoleh kesamping, Renal tidak mendapati kakak kelasnya. Ia lalu memutar badannya, ternyata kakak kelasnya yang imut itu berjalan dibelakangnya.


"Ngapain lo kak jalan dibelakang gue? Gue bukan imam lo" ucap Renal sarkas.


Alda mendecih.


"Siapa juga yang sudi jadi makmum kamu?"


"Siapa tahukan di masa depan gue yang jadi imam lo yang jadi makmum"


"in your dream, tuan Renaldi Maheswari"


Alda berjalan cepat menuju kamarnya. Ia tak memedulikan kopernya yang masih dibawakan oleh Renal.


Renal menyimpan koper kakak kelasnya di depan pintu bercat coklat.


"Terimakasih" kata Renal yang melihat Alda hanya diam berdiri di pintu.


"Sama-sama." sarkas Alda kembali.


Renal terkekeh melihat ekspresi dari kakak kelasnya. Ia mengelus rambut kakak kelasnya.


"Lo lucu kak kalau lagi kesel" katanya.


Pipi Alda bersemu merah.


"Pulang sana!" usirnya.


Setelah puas melihat rona kemerahan di wajah kakak kelasnya, barulah Renal memutar arah berjalan menuju kamarnya.


Setelah melihat kepergian Renal, Alda masuk ke kamarnya dan tak lupa menutup pintunya.


"Mika ikut masuk, Al?" tanya Dian yang baru saja keluar dari kamar mandi. Nampak handuk masih membungkus rambutnya.


Alda menggeleng.


"Mika ngantarnya sampai gerbang aja, kok" jawab Alda sambil merapikan perlengkapannya.


"Tadi yang ribut-ribut siapa?"


"Noh, temannya Sandi" jawab Alda.


"Rian? Alex? " tanya Dian sambil membuka keripik yang Alda bawa.


"Renal, Yan. Renal" jawab Alda sensi.


"Sensi sekali anda" ucap Dian.


"Huuuuu" Alda menarik napas, lalu mengeluarkan nya pelan-pelan.


"Di kulkas ada ice cream" kata Dian.


Ia tahu betul apa yang Alda butuhkan untuk mengembalikan moodnya.


Mata Alda berbinar mendengar kata 'ice cream' . Ia kemudian berjalan ke sudut kamar untuk mengambil ice cream.