Renalda

Renalda
Pesona Jingga



Alda melangkah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia baru saja mendatangi SPA kemudian salon kecantikan. Ia berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan ini, ternyata yang dibelinya hanya lima gelang unik, jepitan rambut dan case ponsel.


Jam makan siang telah tiba. Alda memasuki salah satu warung bakso pinggir jalan. Ia memesan untuk dirinya dan tentu saja untuk Brandon.


"Tumben banget makan bakso" ucap Brandon.


"Lagi ngiler aja sih. Kuahnya pedas dan asem, uhhh." Alda membayangkan.


"Terus minum es teh, seger" Brandon ikut membayangkan.


Mereka makan dalam diam. Setelah makan mereka kembali ke villa.


Alda merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah. Sejak pagi tadi ia berjalan berkeliling hingga kakinya terasa kebas.


Sejuknya udara di dalam kamar membuat mata Alda begitu berat, hingga ia tertidur.


✨✨✨


Alda berjalan menyusuri pantai dengan kaki tanpa alas. Ia melihat para wisatawan berfoto ria, menikmati sapuan ombak dan juga lembutnya pasir. Tak lupa langit sore yang terlihat begitu mempesona.



Alda memotret banyak hal.



Alda kemudian duduk disebuah kursi yang ada dipinggir pantai. Ia berpikir untuk duduk sambil menikmati waktu senja. Ia begitu amat terpesona dengan cahaya jingga itu.



"May I sit?" tanya seorang lelaki yang berdiri menjulan di depan Alda.


Alda mendongak melihat wajah lelaki itu.


"Take a sit, please." ucapnya.


Orang itu terkekeh.


"Kak Alda ngapain disini? Sendiri pula" tanya Renal.


Yah, lelaki tersebut adalah Renaldi Maheswari.


"Lagi me time. Tapi seseorang datang ingin duduk bersamaku. " jawab Alda sarkas.


Lagi-lagi Renal hanya terkekeh mendengar jawaban sarkas Alda. Ia menoleh kesana kemari mencari keberadaan sahabat dari kakak kelasnya ini.


"What are you looking for?" tanya Alda.


"Bang Mika dan yang lain." jawab Renal.


"Mika dan yang lain gak ikut. Aku kan bilang, aku itu lagi me time."


Renal hanya mengangguk. Ia menatap Alda begitu dalam.


"Cantik." lirih Renal.


"Iya, senjanya cantik. Selalu mempesona" respon Alda.


"Kak Alda yang cantik. Senjanya mah kalah jauh" Renal menggoda Alda.


"Bisa ae ngalusnya, bang" cibir Alda.


Tawa Renal meledak mendengar cibiran Alda.


"Kak Alda, look at me" ucap Renal tenang.


Alda melihat ke arah Renal. Lagi-lagi ia terhanyut dalam tatapan yang begitu menenangkan dan tegas sekaligus itu.


Alda mengangkat sebelah alisnya seolah berkata 'kenapa'.


Mengerti ekspresi Alda, Renal berucap dengan tegas.


"How if I love you?"


"How if I love you?"


"Jangan ngadi-ngadi deh. " Alda memutuskan pandangannya. Ia kembali melihat ke arah senja yang hampir dilahap oleh kegelapan.


Renal menarik sebelah tangan Alda. Hal itu membuat Alda kembali menatap Renal.


"Apaan sih Ren?" tanya Alda berusaha melepaskan tangannya.


"Kamu kenapa?" tanya Renal.


"Kamu?" kaget Alda.


"Iya, kamu. Not kak Alda anymore" tegas Renal.


"Ren, listen to me. Kamu yang kenapa?" tanya Alda.


"Aku kenapa?" tanya Renal.


"Kamu sebentar lagi jadi tunangan orang lain. Dan seenak jidatnya kamu berlaku kayak gini ke aku. Apa segitu murahannya aku dimata kamu, Ren." marah Alda.


Renal menggeleng.


"Gak gitu, Al. Yaudah, kita lupain hal ini."


Renal mencoba mengalah dengan keadaan saat ini. Tidak sedikit pun ia memandang rendah gadis didepannya ini. Entah mengapa ia sampai kelepasan berucap seperti tadi.


"Aku minta maaf" ucap Renal.


"Alda juga minta maaf." Alda ikut meminta maaf.


Brandon datang dengan napas ngos-ngosan. Ia menjitak kepala Alda.


"Apaan sih?" tanya Alda kesal.


"Hp lo mana?" tanya Brandon ikutan kesal.


Alda menunjuk ponselnya yang terletak di meja depannya.


"Telpon gue gak lo angkat. Kenapa?" tanya Brandon.


Alda membuka ponselnya. Melihat banyak panggilan dari Brandon.


"Aku silent tadi" jawab Alda.


Mendengar jawaban Alda, ubun-ubun Brandon terasa panas kembali. Ia sepertinya akan meledak.


"Bangun gue cari lo, gak dapat. Gue telpon gak diangkat. Khawatir gue. Lo berharap banget pasti gue digantung sama Mika" tuduh Brandon.


Renal hanya diam menyaksikan perdebatan dua orang didepannya ini.


"Yah maaf. Aku kan gak tahu kamu khawatir" mata Alda berkedip-kedip.


Melihat Alda yang sudah meminta maaf, kemarahan Brandon hilang perlahan.


"Pesan makan gih" ucapnya seenak jidat.


Alda memberenggut. Tapi ia tetap memesan makanan untuk mereka bertiga.


"Lo adik kelasnya Alda, kan?" tanya Brandon pada Renal.


Renal mengangguk.


"Iya, kak"


"Ngqpain lo jauh-jauh kesini? Lo ngikutin Alda?" tuduh Brandon.


"Gak, kak. Pagi tadi ada event lari maraton. Yah, gue kemari. Event nya diadakan disini" jawab Renal.


Brandon mengangguk percaya. Ia juga mengetahui hal itu.