
Cuaca bersinar terang di tempat ini. Alda membantu para pekerja kebun memetik anggur. Sesekali ia mencomot anggur yang dipetiknya. Kebun anggur ini seluas 12 hektar, setiap hektar masing-masing diberi dua pekerja.
"Segerrr" takjub Alda.
Mika yang berada dibelakang sang adik terkekeh mendengar ucapan Alda.
"Udahan yok dek. Udah siang ini" kata Mika.
Mendengar titah sang kakak, Alda menyudahi kegiatannya. Ia mengambil beberapa tangkai anggur di keranjang yang tadi ia isi untuk dibawa ke rumah oma.
Alda berjalan di samping sang kakak menuju tempat dimana tadi ia memarkir mobil buggy yang membawanya berkeliling kebun.
"Dek, tolong ke rumah temannya Oma. Bawain ini" Kirana menyerahkan paper bag berisi cake.
"Rumah teman Oma dimana?" tanya Alda.
"Kakak tahu, kok" kata Mika.
"Nah, kakak tahu kan yah. Tolong yah kak, dek" Kirana mengantarkan cucunya sampai depan pintu.
"Hati-hati"
Alda memilih untuk menjadi penumpang kali ini. Ia duduk di belakang sang kakak, memeluk pinggangnya.
"Rumahnya jauh, kak?" tanya Alda.
"Dua kilometer" jawab Mika.
Alda mengangguk. Ia memilih memperhatikan sekitar, menikmati pemandangan hijau yang menenangkan.
Di depan ada sebuah rumah besar.
"Dek, udah sampai" kata Mika.
Alda turun dari buggy, menunggu sang kakak. Ia menenteng paper bag yang tadi dititip Oma.
"Permisi paman, kami mencari Oma Octavia" ucap Mika kepada penjaga yang berjaga di pos kecil.
"Kalian siapa?" tanya penjaga tersebut.
"Cucunya Oma Kirana" jawab Mika.
Mendengar jawaban Mika, penjaga tersebut segera membuka gerbang.
"Silahkan masuk tuan, nona" katanya.
Alda merasa bingung dengan kejadian barusan. Apaan tuan, nona.
"Terimakasih, paman" ucap Alda dan Mika sopan.
Mereka memasuki halaman rumah yang cukup luas. Mika memencet bel yang berada di salah satu tiang yang begitu kokoh di teras rumah tersebut.
Pintu terbuka dari dalam. Seorang lelaki muda keluar. Ia terkejut melihat kakak kelasnya berada di rumah sang Oma.
"Lho, Renal" Alda dan Mika kaget.
Renal berkedip lucu. Sedang mencoba memahami situasi.
"Halo kak Alda, bang Mika" sapanya setelah berhasil menguasai diri.
"Ngapain Lo disini?" tanya Mika.
"Bang Mika ngapain disini. Jauh amat mainnya" Renal kembali bertanya.
Mika menghembuskan nafasnya. "Di tanya malah balik nanya" cibirnya.
Renal terkekeh. "Inikan rumah oma gue" jawab Renal.
"Owalaah" respon kembar bersamaan.
"Siapa sayang yang datang?" tanya seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
"Cucunya teman Oma, katanya" jawab Renal.
"Cucunya Kirana, yah?" tanya Oma memastikan.
"Iya, Oma" jawab si kembar kompak.
"Owalaah, selamat datang sayang. Mari masuk masuk" Lana mempersilahkan tamunya memasuki rumahnya.
"Oma, ini titipan dari Oma Kirana" Alda menyerahkan paper bag titipan sang Oma.
"Makasih yah sayang-sayang nya Oma Luna" ucap Luna pada si kembar.
"Sama-sama, Oma" jawab si kembar.
"Kalian udah saling kenal?" tanya Luna pada ketiga anak muda disekitarnya.
"Iya, Oma. Kebetulan kami sekolah di Maheswari" jawab Mika yang diangguki Alda.
"Wahhh, satu sekolahan toh" ucap Oma.
"Oma tinggal dulu yah. Renal sayang, tolong panggil opamu. Kita makan siang dulu" titah sang Oma .
Renal berdiri dari duduknya, segera melakukan perintah sang Oma.
"Gue ke belakang dulu kak, bang" katanya.
"Kalau gitu kami pamit, Oma" Mika berdiri dari duduknya hendak pamit .
"Lho mau kemana? Tinggal dulu, kita makan siang bareng-bareng" Luna melarang mereka pulang.
"Nanti Oma Karina nyari kami Oma" takut Alda.
Luna menggeleng. Menolak alasan cucu dari sahabatnya.
"Gak ada penolakan. Kita makan sama-sama" ucap oma tegas.
Twins hanya mengangguk pasrah.
Seorang gadis cantik keluar menghampiri mereka.
"Oma, makanannya udah siap" katanya.
"Nah kan. Ayo makan dulu" Luna berseru senang.
Mika dan Alda mengikuti langkah Luna dan gadis tadi. Di meja makan sudah tertata banyak jenis makanan.
Sepasang suami-istri turun dari tangga. Ayah dan Ibu Renal.
"Halo sayang" sapa Ami, mama Renal.
Alda dan Mika menyalami tangan sepasang suami-istri tersebut.
"Selamat siang Bu, pak" Mika dan Alda kembali menyapa.
Raka dan Ami yang mendengar sapaan kaku dari twins Arunika pun tertawa.
"Gak usah formal sayang. Kita sedang di rumah" ucap Ami lembut.
Alda hanya nyengir mendengar nada lembut sang istri dari pemilik sekolah.
"Wah, ada tamu rupanya" Mr. Gio Maheswari.
Alda dan Mika tersenyum canggung.
"Silahkan duduk" kata Mr. Goi.
Semua duduk di posisinya masing-masing. Mr. Gio duduk di ujung, di sebelah kanannya ada Luna, di sebelah kirinya duduk sang anak, Raka Maheswari. Diseblah kiri Luna ada Alda dan Mika. Sementara diseblah kanan Raka ada sang istri, Ami, Renal hingga gadis cantik tadi.
Terlihat gadis cantik tadi mengambil makanan untuk Renal.
"Makasih, Angel" ucap Renal.
"You're welcome" jawab gadis cantik itu.
"Silahkan makan, sayang. Ini masakan Angel, lho" Luna mempersilahkan dua orang tamunya untuk makan.
Tak lama setelah ritual makan siang itu selesai, Mika pamit membawa pulang sang adik.
"Kira-kira cewek tadi siapa yah, kak?" tanya Alda.
"Pacarnya Renal kali." jawab Mika.
"Pacarnya cantik. Aku mah apa atuh" ucap Alda pelan.
Ia merasa insecure melihat' kecantikan gadis tadi.
"Dedeknya kak Mika gak kalah cantik" kata Mika bangga.
Alda mengeratkan pelukannya pada pinggang sang kakak. Ia sedang mempersiapkan hatinya untuk menerima hal-hal yang tidak ia inginkan.