
Sekarang sudah jam 3 sore, semua orang sudah berkumpul. Ada Erlan, Priska, Randi dan istrinya Inayah, juga anak laki-lakinya yang baru berumur 7 tahun. Angga juga datang bersama istrinya yang dipanggil Dewi juga anak laki-lakinya yang berumur 5 tahun.
Mika, Lathief, Raka, Renal dan para laki-laki lainnya sudah mengambil tempat di ruang keluarga. Aina, Alda, Ivana dan Priska menyiapkan makan sore untuk mereka semua. Sementara Dewi sedang dekat-dekat dengan Inayah yang sedang hamil kedua, barangkali ia ketularan hamil.
"Maaf, terlambat" ucap Athena yang baru datang. Wajahnya sudah tak serapi tadi, ada raut kelelahan di wajahnya. Ia menyalami punggung tangan Renal, Mika, Lathief, Raka, Angga, Randi dan Erlan.
"Sudah besar kesayangan aku" kata Erlan.
"Terima kasih, kakek" ucap Athena sopan.
"Akak The bersih-bersih dulu sayang" suruh Renal.
"Siap, daddy" katanya kemudian berlalu meninggalkan ruang keluarga. Saat akan menaiki tangga, ia dipeluk dari berbagai arah.
"Kakak aku" teriak Arvin.
"Ini kakak aku. Kakak kamu Arion" balas Nevan.
Athena menghela napasnya. Ia lalu melihat ke arah ruang keluarga. Seolah meminta tolong pada orang-orang dewasa yang ada disana.
"Arvin, Arion, Nevan, kakaknya mandi dulu. Capek itu baru pulang sekolah" tegur Mika yang mengerti kode dari Athena.
Ketiganya nyengir, lalu melepaskan pelukan mereka pada tubuh sang kakak.
"Sayang kakak" ucap ketiganya bersamaan.
Ketiganya lalu kembali memasuki ruangan yang ada di dekat tangga. Ruangan game milik Nevan.
Revan dan Azka ikut memasuki ruangan.
"Gak kebayang jadi Athena. Punya tiga orang adik yang manjanya astaghfirullah" lirih Angga.
"Selain manja mereka juga posesif. Nevan bahkan sudah minta percepatan agar bisa ujian tahun ini" keluh Renal.
"Si kembar juga minta ujian tahun depan, biar bisa nyusul kakaknya masuk SMA" kata Mika.
"Nevan masih kelas 5 ini lho" heran Erlan.
"Si kembar juga masih kelas 1 SMP. Ehh, tapi umurnya baru 10 tahun" heran Lathief.
"Untung anak aku masih kecil" ucap Randi.
"Untung anak aku masih on proses yang kedua" Angga ikut nimbrung.
Semuanya terkekeh mendengar ucapan Angga.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Semua orang kemudian ikut melakukan kunjungan. Hari sudah akan malam. Alih-alih semobil dengan Daddy dan mommy nya, Athena malah berada di mobil lain bersama ketiga adiknya. Mereka bertiga ternyata sudah melakukan hom pim pa siapa yang akan duduk di sebelah supir, ternyata Arvin yang kalah. Jadilah Alda duduk diantara Arion dan Nevan.
Mereka sampai di sebuah kompleks pemakaman milik Arunika. Pemakaman yang tertata rapi dan begitu epik. Setiap sebulan sekali, mereka akan mengunjungi tempat ini. Sekedar menyapa mereka yang telah mendahului, menyampaikan rindu dan juga mengirimkan untaian doa.
Athena lebih dulu ke makam Rafa. Ia sudah tahu jika ia bukan anak dari Alda dan Renal. Setelah berpikir panjang, meminta pendapat dari yang lain, hingga Okan yang berada di negara G, mereka sepakat memberitahu Athena jika ia adalah anak Rafa. Athena pernah bertanya tentang mamanya dan Alda menjawab mamanya meninggal saat berjuang melahirkan Athena. Ia juga hanya memberitahu jika Rafa pulang dari negara D membawa dirinya yang masih bayi, dan Alda yang membesarkannya. Athena menerima semua itu dengan lapang dada.
Hari itu ia menangis cukup lama. Dan hanya Renal yang bisa menenangkannya. Athena tetap bersyukur mengetahui jika Rafa sempat merawatnya bersama Alda, bersama Okan dan Indi, hingga napas terakhirnya.