
Ruang keluarga kini sedang ramai. Ada Abraham yang datang mengunjungi rumah tuannya yang juga merangkap jadi sahabatnya, yaitu Lathief Arunika.
Orang yang ia temui saat masih kecil, mereka tumbuh bersama. Saat mengetahui ayahnya datang ke kota ini, Brandon dan Brian dengan galak meminta Alda untuk tidak kemana-mana. Yang jadi nona siapa, yang yang jadi pengawal siapa, yang memerintah siapa.
Alda sebagai seorang gadis yang penurut dan gak neko neko serta baik hati, tentu saja dengan senang hati menuruti apa kata si kembar. Lagian ia benar-benar malas gerak hari ini. Perutnya terasa begitu sakit karena baru pagi tadi ia mendapat tamu bulanannya.
"Paman, perut adek sakit" adu Alda pada Abraham.
Abraham tentu saja begitu menyayangi gadis yang sedang memeluknya ini.
"Anak gadis ayah sakit noh" kompor Brandon.
Mika mendelik ke arah Brandon. Disana juga terlihat Brian yang sedang tertidur.
"Sabar yah, bentar lagi Mika datang bawa kompresannya" Abraham mengelus rambutnya.
Mika datang membawa baskom yang berisi air hangat dan sebuah handuk.
"Paman istirahat aja dulu. Papa pulangnya agak siang sepertinya." kata Mika.
"Yausudah. Paman istirahat dulu." Abraham menuju paviliun yang berada di belakang rumah tersebut.
"Kalau gue ngapain boss?" tanya Brandon pada Mika.
"Lari keliling kompleks sana" sarkas Jake yang datang membawa jus alpukat.
"Enak banget kalo gue sama Alda pada libur, kalian bisa bebas" cibir Mika.
"Tuh tau" kompak Brandon dan Jake.
"Kalian siap-siap. Kalau Alda udah sembuh, gue bakalan bikin kalian ketar ketir" ancam Mika.
"Yok dek"
Alda melangkah menuju kamarnya diikuti Mika. Ia kemudian berbaring.
"Kakak mandi gih. Udah siang ini" usir Alda pada sang kakak.
"Yaudah, kakak tinggal dulu yah. Habis mandi kakak kesini. Adek bisakan kompres sendiri?"
Alda mengangguk.
"Bisa kak"
Mika mengelus kepala adiknya lalu pergi menuju kamarnya.
✨✨✨
"Pekan depan rumah sakit kita akan diresmikan." Lathief memberitahu pada kedua anaknya.
Semua orang berkumpul di taman belakang rumah. Perantara antara rumah dan paviliun.
"Waaah" takjub Alda.
"Nggak apa-apa, ma" kompak Alda dan Mika.
"Kan ada Jake dan Brian" timpal Brandon.
"Lo kemana?" tanya Mika.
"Ikut ayah guelah ke kota sebelah" sewot Brandon.
Semuanya terkekeh mendengar jawaban sewot Brandon.
"Habis peresmian paman bakal tinggal disini, kan?" tanya Alda.
Abraham mengangguk.
"Paman minta pensiun dini"
"Nanti adek yang bakal pegang rumah sakitnya, dibantu Brian dan Brandon yah." ucap Aina lembut.
Alda menggeleng.
"Kakak aja, ma" katanya.
"Kakak bakal pegang perusahaan, dek." ucap sang papa, Lathief.
"Kak Jake aja, pa"
"Lho, yang anaknya papa Adek atau Jake?" seloroh Aina.
Alda mengerucut kan bibirnya.
"Adek, dong ma. Kak Jake kan anaknya paman Abraham"
"Adek belajar aja dulu. Biar Brandon dan Brian yang urus untuk sementara. Adek nikmatin masa sekolah aja dulu" jelas Lathief.
Alda memeluk Lathief erat.
"Papa yang terbaik" katanya.
Lathief terkekeh mendapat perlakuan tersebut dari sang anak.
"Kayak bayi aja. Nemplok terus" cibir Brian.
Alda mulai mencureng.
"Iri? bilang boss" katanya sarkas.
"Iri? Ya kagaklah. Gue juga punya kali." Brian merangkul bahu ayahnya manja.
Para orang dewasa terkekeh kecil melihat perdebatan itu. Abraham begitu bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Keluarga yang memberinya hidup, menemaninya ketika kehilangan sang istri dan membantunya disegala hal.