
Athena mengintip lewat celah pintu yang sengaja Lathief buka tadi. Nampak keluarganya sedang tertawa, entah apa yang mereka tertawakan. Athena berjalan ke dapur. Berharap ada orang disana. Renal yang melihat siluet anak berjalan pun, berdiri.
"Mau kemana?" tanya Alda.
"Ke dapur." jawab Renal.
Di pintu penghubung antara ruang makan dan ruang keluarga, Renal tinggal. Anaknya sedang celingukan seolah mencari sesuatu.
"Cari apa sayang?" tanya Renal lembut.
Alda menoleh ke belakang. Ia memperlihatkan gigi kelincinya yang rapi.
"Mau mam" jawab Athena.
Renal terkekeh. Ia mengelus rambut anaknya yang tergerai. Ia mengambil makan untuk Athena, yang kebetulan masih tersedia di meja makan. Renal mendudukkan Athena di baby chair yang sengaja diselipkan diantara kursi lainnya.
"Anaknya daddy lapar hmm"
Athena mengangguk. Ia menerima suapan demi suapan dari sang daddy.
"The katanya ke rumah Oma tapi gak bilang sama mama yah?" tanya Renal.
Athena mengangguk.
"Nda yiat mama"
"Kan biasanya cari di kamar"
"Kut cama mama" oceh Athena.
Renal terkekeh.
"Kok takut? Mommy nya baik gitu, sayang sekali sama akak The"
Athena diam. Tidak menanggapi perkataan Renal. Ia mengambil minum kemudian meminumnya sendiri.
"Maaci dedii." ucap Athena sebelum meminta turun dari baby chair yang dia duduki.
"Sama-sama, sayang" Renal lalu menggandeng tangan kecil anaknya ke ruang keluarga.
Alda yang kebetulan membelakangi jalan dari arah dapur, sedikit penasaran saat orang-orang melihat ke belakangnya.
"Wah, anaknya papa Mika udah bangun yah sayang" Mika dengan cepat menyapa Athena.
Athena mengangguk. Ia ikut duduk disamping daddy nya.
Alda yang kebetulan duduk di sisi lain Renal, mengelus kepala putrinya.
"Mommy minta maaf yah" ucap Alda.
Athena mengangguk.
"Coyiii mama" lirihnya kemudian menangis.
Alda terkekeh. Ia mendekati anaknya, kemudian memeluknya.
"Kenapa akak The yang coyii?" tanya Ivana iseng.
"The mawu piigang Pan, mama mayah. The biyang coyii. Nti nda piigang Pan yagii" jawab Athena setelah tangisnya tenang.
"Lho, gak gitu kak. Ntar siapa yang bakal main sama dek Nevan kalau akak gak nemenin?" Renal dengan cepat meralat maksudnya.
"Gak boleh gitu yah. Adiknya dijaga, ditemenin main, nanti opa gak bawa pergi lagi" bujuk Lathief.
Hans dan Karina sudah di kamarnya. Tubuh tuanya membuatnya lebih banyak di kamar.
"Nti mama mayah. Teyiak" lirih bayi kecil itu.
Alda mengusap air matanya.
"Mama minta maaf. Mama janji gak bakal marahin akak The, gak bakal teriakin akak The lagi" ucap Alda.
Ia membawa tubuh gempal Athena ke gendongannya.
"Anaknya dewasa atau gimana nih? Atau emang ngambekan?" goda Mika.
Ivana meng-kode suaminya untuk diam. Ia pasti akan merasa sedih seperti Alda jika anaknya takut terhadap dirinya.
"Akak The sayang mommy nggak?" tanya Aina lembut.
"Cayang"
"Nah. Kalau sayang gak boleh takut yah. Mommy nya kan mommy paling baik di seluruh dunia"
Athena mengangguk. Bayi itu perlahan memeluk leher mamanya.
"Akak The, sini duduk samping opa." Lathief menepuk sofa kosong di antara dirinya dan sang istri.
Athena meminta turun dari gendongan sang mama. Ia lalu berjalan ke tempat yang Opanya minta.
Lathief menatap mata cucunya. Athena memang selalu menatap mata lawan bicaranya, anak kecil itu di ajar sejak bisa berbicara.
"Akak The selalu sayang sama mommy dan daddy yah, sayang sama adik-adiknya, sama opa-opa dan oma-omanya, sama papa Mika, mama Ivana, sama semua orang. Jadi anak yang baik yah sayangnya opa" Lathief sedang menanamkan sifat kasih sayang kepada Athena.
Anak perempuan kecil itu mengangguk.
"Nanti kalau The udah besar, opa kasih hadiah" janji Lathief.
"Janji terus. Nanti lupa" cibir Aina.
"Janji seorang opa ini, ma." Lathief melihat kearah istrinya.
"Mau tidur di rumah opa atau pulang ke rumah Daddy?" tanya Lathief.
"Puyang yumah dedii" jawab Athena.
Lathief mengangguk.
"Kalau liburan lagi, nanti temanin opa liat lumba-lumba yah"
Athena mengangguk antusias.
"Tapi, sekolahnya yang pintar yah. Belajar yang rajin" syarat Lathief.
Athena mengangguk.
"Siyap opa" katanya.
Akhirnya drama antara anak dan mama berakhir damai.