
Setelah drama 'warna pink' berlalu, semuanya kembali normal. Masa ngidam Alda sudah terlewati. Ia beberapa kali juga ikut membuat Renal dan Mika kelabakan. Jika Renal diminta untuk memanjat pohon mangga saat jam 11 malam, berbeda lagi dengan Mika yang dibangunkan tengah malam oleh Alda karena lapar. Ia meminta Mika memasakkan Coto Makassar untuknya saat pukul 1 tengah malam.
"Gak apa-apa lah, Ka. Demi ponakan itu" kata Angga saat ia diceritakan oleh Mika ke esokan harinya.
Usia kehamilan Ivana juga mendekati hari hari perkiraan lahiran. Ia diminta oleh Aina untuk tinggal sementara dikediaman 05.
Alda mengganti pakaian sekolah Athena dengan gaun bayi selutut. Ia akan membawa Athena mengunjungi kantor sang suami untuk membawakan makan siang.
"Mana mana mama?" Athena sekarang lebih fasih ketika berbicara.
"The temanin mama yah nak, ke kantor Daddy. Kita bawain makan siang untuk daddy" jawab Alda.
Athena mengangguk.
Alda mengendarai mobilnya sendiri. Alexia sedang ke kota C, menggantikan dirinya untuk melakukan pertemuan. Disana juga ada Brian yang mau tidak mau memegang rumah sakit milik keluarga Arunika.
Alda memarkirkan mobilnya di tempat parkir perusahaan. Ia mengambil bekal yang ia bawa, juga menuntun Athena. Saat akan memasuki lobi, ponsel Alda berbunyi. Ia menerima telponnya, hingga tak sengaja melepaskan tangan Athena.
Setelah menerima telponnya, Alda memandang ke bawah, mencari dimana Athena. Hingga orang-orang berlarian ke jalan raya mengalihkan perhatiannya.
DEG
Jantungnya berdetak sangat cepat. Ia menggelengkan kepalanya, mengusir segala hal yang melintas dipikirannya. Tapi ia tetap berjalan keluar, mencari anaknya.
Sebuah mobil yang hendak masuk ke halaman perusahaan berhenti karena banyak orang yang berlarian.
"Ada apa, Abdi?" tanya Renal.
Abdi menahan salah satu karyawan yang hendak berlari.
"Mau kemana?" tanyanya.
Renal turun dari mobilnya.
Bisik bisik terdengar.
"Itu anaknya pak boss"
"Iya, kak The"
"cepat telpon ambulans"
Mendengar bisikan itu, Renal dengan cepat membelah kerumunan. Tubuhnya mendadak kaku, lalu terjatuh. Di depannya, bayi mungil itu sudah terkapar tidak berdaya, darah mengalir dari kepalanya.
Ia memeluk sang anak begitu erat, memeriksa nadinya. Ambulans datang, ia langsung menaikinya, membawa anaknya dalam pangkuannya. Perawat yang ikut dalam ambulans tersebut mulai melakukan tugasnya, memberikan pertolongan pertama sebelum sampai di rumah sakit.
Jalan cukup bersahabat. Ambulans tersebut sampai di rumah sakit dengan cepat.
Renal duduk di ruang tunggu, ia memijat pelipisnya.
"Maaf, Ren" ucap Alda yang baru datang. Ia duduk di samping Renal.
Tampilan Alda cukup kacau. Rantang yang tadi dibawanya jatuh menggelinding, makanannya sudah tidak berbentuk lagi saat ia diberitahu oleh karyawan suaminya jika anaknya sedang menjadi korban tabrak motor. Untunglah ada Abdi yang kebetulan akan menyusul tuannya untuk ke rumah sakit, jadi ia ikut kesini.
"Abdi, minta pihak kepolisian untuk menyelidiki ini." kata Renal dengan wajahnya yang begitu datar. Ia bahkan mengabaikan kedatangan Alda yang berada di dekatnya.
"Baik, pak" kata Abdi sopan. Ia lalu mengeluarkan ponselnya, menelpon pihak yang berwajib.
Renal menyandarkan tubuhnya di kursi tunggu. Peristiwa ini begitu membuatnya kaget dan nyaris mati rasanya. Apalagi melihat sosok mungil itu yang penuh darah. Hendak dibawa kemana dirinya yang begitu lalai menjaga amanah dari Rafa, dari sahabatnya yang lain.