
Dekorasi resepsi di pernikahan Dian dan Sandi begitu mewah. Putri tunggal bapak Nugraha Pertama dan ibu Ayuwandari melepas masa lajangnya. Meskipun tak se-kaya Arunika, keberadaan seorang Nugraha Pratama cukup diperhitungkan di kota A.
Tamu-tamu dari segala penjuru berdatangan. Beberapa teman SMA Dian juga Sandi terlihat hadir menyaksikan kedua mempelai dalam balutan gaun yang indah juga jas mahal.
"Woi Renal tuh" seru Alex yang melihat Renal datang seorang diri.
"Jomblo abadi akhirnya datang" cerca Rian.
Angel terkekeh mendengar ucapan calon suaminya.
"Yang mau nikah omongannya beda yah Lex" kata Angga yang memilih duduk bersama mereka. Disana juga ada Mika dan Randi.
"Hooh, bang. Makin pait gitu" Alex mengiyakan ucapan Angga.
Renal datang, menyapa penghuni meja 07. Ia melihat sekitar, seolah mencari keberadaan seseorang.
"Cari siapa Lo?" tanya Randi.
"Adiknya bang Mika" jawab Renal jujur.
"Jujur bener itu mulut" kata Angga gemes.
"Setelan dari lahir bang. Omongannya bukan sekedar modus" bela Alex .
"Gak kayak mulut Lo yah Lex" skak Mika yang sejak tadi diam.
Menyadari tatapan Renal kini mengarah padanya, Mika berkata "Alda udah balik" .
"Gak datang kesini?" tanya Renal.
"Waktu akad ia datang. Habis akad langsung pulang" jelas Mika.
Raut wajah Renal kian berubah. Ia mengira akan bertemu dengan wajah cute itu setelah sekian lama. Ternyata jauh dari perkiraan.
"Alda sakit. Makanya pulangnya cepat" Randi ikut menjelaskan.
"Lho, kak Alda sakit apa?" tanya Angel.
Meskipun ia berada di kompleks yang sama dengan Alda, ia belum bertemu Alda barang sedikit pun. Apalagi Angel kini sedang sibuk-sibuknya mengurus segala keperluan pernikahannya.
"Agak kecapean aja" jawab Mika sambil mengode Randi dan Angga untuk tidak menceritakan tentang kejadian kemarin.
"Ohiya, bang Rafa mana? Kok gue gak liat?" Alex baru mengingat. Rafa ternyata juga tidak ada.
"Rafa sibuk. You know lah jadi eksekutif muda itu gimana" canda Angga.
"Hooh, bang. Teman gue juga gitu. Paling sibuk seantero raya" cibir Rian.
Renal hanya terkekeh mendengar cibiran Rian untuk dirinya.
"Mumpung masih muda yah kerja keras. Di waktu tua tinggal nikmatin" bela Mika.
Renal dan Mika berhi-five kemudian terkekeh.
Foto bersama mempelai seolah tidak pernah terlupakan dalam pesta pernikahan. Diatas pelaminan, 7 orang eksekutif muda menjadi bahan perhatian bagi para bapak-bapak. Tak terkecuali Sandi dan Rian yang sudah membawa gandengan.
"Anaknya pak Arunika itu"
"Iya, auranya cukup kuat seperti magnet."
"kalau yang itu anaknya pak Maheswari" kata seseorang sambil nunjuk Renal.
"Sungguh beruntung anaknya Pak Anugrah dan pak Halim menjadi bagian dari mereka" ucap seseorang pada papanya Dian dan Sandi.
Mereka berdua terkekeh.
"Kalau Dian kebetulan seangkatan dengan anaknya pak Arunika dan kawan-kawan. Bahkan anak saya pernah tinggal satu asrama dengan putri pak Arunika." kata pak Anugrah.
"Seorang Arunika tinggal di asrama?" tanya seseorang yang lain.
Anugrah mengangguk.
"Seorang Arunika memang seperti itu. Tetap merendah meskipun mereka sudah sampai di langit." kata Halim.
"Sebaiknya orang-orang memang hidup seperti itu. Meskipun ia telah sampai di puncak, ia harus tetap menapaki tanah." sambung Anugrah.
"Sungguh beruntung orang yang akan menjadi calon besan mereka" kata seseorang.
Semuanya mengangguk menyetujui ucapan dari pria berjas tersebut. Siapa yang tidak ingin menjadi seorang Arunika.