Renalda

Renalda
Ekspedisi



Sebelum melakukan perjalanan, lima orang warga Arunika's Residence berdoa. Memasrahkan diri kepada sang pencipta. Menjelajah bukan hal yang mudah. Butuh kesiapan mental dan juga fisik.


Tiga hari sebelum keberangkatan, lima orang anak itu melakukan pemanasan dengan berlari di pagi dan sore hari di sekitaran kompleks.


Mendaki gunung bagi sebagian orang adalah pekerjaan yang membuat lelah, ribet dan cukup sulit. Sementara bagi sebagian lainnya mendaki gunung adalah hal yang bermanfaat dan bisa menjadi hobby.


Langit sudah berubah menjadi gelap. Yang menjadi leader tentu saja Angga. Dibelakangnya ada Rafa, Randi, Alda dan terakhir Mika.


Angga berhenti. "Kita istirahat atau lanjut?" tanya nya.


"Lanjut aja. Gak jauh dari sini sudah nyampe pos 5. Kita istirahat dan bengun tenda disana" jawab Mika.


"Alda, gimana? Rafa, Randi?" tanya Angga.


Ketiganya mengangguk. Mengiyakannya ucapan Mika.


Setelah sepakat untuk melanjutkan perjalanan, Angga kembali berjalan di ikuti oleh yang lain.


Tiga puluh menit berjalan, sampailah mereka di pos 5. Tempat yang sedikit datar, bisa untuk membangun tenda. Rupaya disana sudah ada pendaki lain yang sudah membangun tendanya.


"Salam lestari!" sapa Mika.


"Tetap lestari!" balas para pendaki yang berjumlah 4 orang itu.


Jika diliat dari segi fisik, mereka sudah duduk di bangku kuliah.


"Dari mana bang?" tanya Mika.


"Dari kota C." jawab salah satu dari mereka, namanya Andi.


"Wahhh jauh, bang" celetuk Angga.


Keempat orang itu terkekeh.


"Kalian bangun tenda dulu gih, kasian teman ceweknya." saran Nandu, lelaki yang duduk di samping Andi.


"Pamit yah, bang" Mika pamit.


Dengan cekatan Angga dan Rafa membangun dua tenda. Satu untuk Alda dan Mika, satu lagi untuk Angga, Rafa dan Randi.


Tanpa dikomando Alda menyiapkan makanan untuk mereka santap di dinginnya malam. Di dekatnya, Randi menyiapkan minuman hangat.


Setelah tendanya siap, Mika mengangkat carrier dan daypack ke dalam tenda masing-masing. Kemudian membentang matras untuk di pakai duduk.


Angga mendekat ke abang-abang yang tadi.


"Ayo bang, makan bersama-sama" ajaknya.


Keempatnya menggeleng.


"Sebelum kalian tiba, kami baru saja menghabiskan makan malam" kata Nandu.


"Owalaah. Kalau gitu gue dan yang lain makan dulu bang." Angga pamit.


Alda duduk bersebelahan dengan Mika. Ia dan Mika makan dalam satu piring. Seperti peraturan di rumah, tidak ada suara saat makan, di hutan pun demikian.


Setelah semuanya beres, mereka ikut berkumpul dengan pendaki yang lain. Bernyanyi bersama di depan api unggun, menikmati dinginnya malam.


"Abang baru akan naik apa sudah mau pulang?" tanya Angga.


Saat sedang asyik bercanda ria, beberapa pendaki dari arah bawah datang. Alda menengok kebelakang, ia mengenal dua orang pendaki itu.


"RENAL!" teriak Mika.


Renal yang merasa namanya disebut pun melihat ke arah segerombolan pendaki itu. Disana terlihat lima orang kakak kelasnya bersama empat orang yang tidak dikenalnya. Ia dan Sandi pun mendekat.


"Beneran mereka ternyata" kata Randi saat melihat dua orang adik kelasnya berjalan kearahnya.


"Siapa?" tanya Nandu.


"Adik kelas, bang" jawab Alda.


Setelah menyimpan carrier yang sedari tadi menjadi beban dipundaknya, Sandi dan Renal membentang matras untuk mereka duduki.


"Selamat malam, bang" sapa Renal.


disampingnya, Sandi hanya mampu tersenyum. Seolah ia sedang menyapa para orang disini.


Mereka semua mengangguk.


"Lo pada udah makan, belum?" tanya Angga.


Sandi dan Renal nyengir. Mengerti ekspresi yang sedang adik kelasnya nampakkan, Randi berdiri mengambil makanan. Ia memberikan kepada Sandi dan Renal.


Dengan tenang Sandi dan Renal menghabiskan makanannya. Sementara yang lainnya kembali menikmati dinginnya malam. Sambil menunggu dua orang itu selesai makan.


Waktu menunjukkan angka 11. Waktunya istirahat.


Alda tentu saja tidur dengan Mika. Sementara di tenda sebelah bertambah dua orang.


"Adek, gak apa-apa?" tanya Mika.


Alda terkekeh mendengar pertanyaan sang kakak. Ia hanya menjawab dengan memeluk pinggang sang kakak. Mika mengelus rambut adiknya agar segera tertidur. Besok pagi mereka akan melanjutkan perjalanan.


Di tenda yang berisi lima orang tersebut, Renal berpikir mengapa Alda dan Mika harus berada di tenda yang sama. Sementara ketiga teman lainnya seperti tidak masalah dengan hal itu.


Terang kembali menyapa. Kicau burung dan tiupan angin menyambut mereka.


Alda menyiapkan sarapan berupa roti, biskuit, kopi dan susu untuk dirinya sendiri.


Mereka kemudian sarapan. Kemudian melanjutkan perjalanan masing-masing.


"Gue dan teman-teman pamit yah. Kami harus mengejar penerbangan malam untuk kembali ke kota C" pamit Nandu.


Tujuh orang yang masih duduk di bangku sekolah itu pun mengangguk.


"Kalian hati-hati. Harus tetap saling menjaga satu sama lain" pesan Andi.


"Terimakasih, bang" ucap Mika.


Mereka bersalaman sebagai tanda perpisahan. Setelah langkah kaki empat orang itu sudah tidak kedengaran, Angga yang kini memimpin 6 orang pejalan mulai melangkahkan kakinya menjadi penunjuk jalan.


Medan pendakian dari pos 5 ke pos 9 cukup berat. Beberapa kali mendaki, menurun dan mendapati tempat landai. Setiap 15 menit sekali mereka istirahat 5 menit hingga 10 menit.


Bunga edelweis sudah terlihat sejak di pos 7 tadi. Alda selalu merasa jatuh cinta pada setiap tangkai bunga itu. Bunga yang melambangkan keabadian.