
Setelah memutuskan untuk gap year, Alda begitu senang membantu mama, Oma dan neneknya memasak. Entah memasak makanan atau membuat kue. Sedangkan Renal, Angga, Rafa dan Randi sibuk dengan urusannya sebelum kuliah.
"Papa kemarin udah konfirmasi pembelian yacht, katanya untuk kakak dan adek" Aina memberitahu Alda.
"Uang papa banyak yah, ma?" tanya Alda pada mamanya.
"Mama gak tahu, gak pernah ngitung" jawab Aina
"Lagian papa ada-ada aja sih. Beli yacht segala" gerutu Alda.
"Lho bagus kan. Besok-besok kalau mau bikin party atau mau ke kota C kan mudah" jelas Aina.
"Dek, papa beli ini itu pasti udah diperhitungkan. Gak mungkin papa hamburin uang untuk hal yang gak penting. Beli yacht untuk kakak dan adek memang labelnya, jadi judulnya. Kita gak tahu isinya apa."
Alda mengangguk. Ia mengerti penjelasan mamanya.
"Adek sayang mama" katanya kemudian mengecup pipi sang mama.
Hari berganti begitu cepat. Lathief menyiapkan liburan untuk anak-anaknya dan sahabatnya dengan begitu apik. Semua keperluan telah ia siapkan.
"Enak bener jadi orang kaya" lirih Arwan.
"Situ kayak orang gak punya aja" respon Lathief yang pendengaran nya begitu tajam. Lirihan saja dia dengar.
"Pura-pura miskin dia yah" tawa James pelan.
"Miskin bener tahu rasa Lo" Erlan menimpali.
"Lemes banget itu mulut" cibir Arwan.
Mereka sedang duduk di teras rumah sultan Arunika, membicarakan liburan anak-anak.
Alda duduk disofa melingkar yang ditata dengan begitu rapi.
"Baru 17 tahun aja udah dibeliin yacht, kalau umur 23 kira-kira dikasih apa?" Kagum Rafa.
"Di kasih Arunika's Group dia" jawab Randi.
"Jangan merendahkan diri deh." Omel Mika sambil menyisir rambut adiknya yang tergerai menggunakan jari-jarinya.
"Nanti tiap liburan kita mesti ngumpul. Wajib lengkap" Angga membuka suaranya.
Semuanya mengangguk menyetujui.
"Kalau ada masalah, langsung ngomong. Meskipun jauh, kita harus saling membantu" kata Mika.
"Alda, jangan gak enakan sama orang." Pesan Rafa.
Terasa baru kemarin mereka bertemu, bermain bersama, bikin pusing para nanny. Sekarang sudah sebesar ini. Masing-masing mencoba berdiri dengan kakinya sendiri.
"Masing-masing dari pasti akan merasakan jatuh, sakit, jangan ragu untuk meminta bantuan. Persahabatan kita bisa terjalin hingga hari ini karna kita saling berpegangan, saling menopang. Khusus untuk princess kita, jangan ragu untuk merepotkan kami para lelaki"
Alda terharu mendengar perkataan Angga. Ia tanpa sungkan memeluk Angga, menyandarkan kepalanya di dada bidang Angga.
"Uluh uluh, adek nangis yah" goda Rafa.
"Ingat gak, dulu Alda digangguin Randi terus Alda nangis. Mika langsung nonjok muka Randi" Rafa mengenang awal pertemanan mereka.
"Terus Randi minta maaf dan kita semua maafin dia. Jadilah kita seperti sekarang" sambung Mika.
"Saat itu Mika masih jadi posesif brother." Kata Rafa.
"Emang sekarang udah gak posesif?" Tanya Alda.
"Ya masihlah" kompak Mika, Angga, Rafa dan Randi.
Matahari kian bergeser ke ufuk barat. Empat jetski sudah tersedia di dekat deck kapal. Mereka akan menyambut cahaya jingga diatas jetski.
"Alda pilih yang mana?" Tanya Rafa dengan irama dangdut.
"Pilih yang ganteng-ganteng aja" sambung Angga.
Alda terkekeh mendengar nyanyian absurd temannya.
"Alda juga pengen naik jatski sendiri" katanya.
Mendengar jawaban Alda, Rafa dan Angga mulai bermain jatski, bergabung dengan Mika dan Randi. Alda dengan jahil menyem air ke arah Randi. Randi yang menjadi korban kejahilan Alda pun tak tinggal diam.
"Awas yah dek" teriak Randi mengejar Alda.
Mereka saling kejar-kejaran, saling mem air hingga kuyup.
"Yok pulang" ajak Mika setelah puas bermain jetski.
Mereka berlomba untuk sampai di deck kapal.
"Bang Jake, minta tolong fotoin" teriak Alda pada Jake yang sedang menikmati secangkir kopi dan cookies.
Jake memotret lima orang remaja yang kini beranjak dewasa tersebut. Posisi Alda berada paling tengah, di sebelah kirinya ada Randi dan Angga sedangkan disebelah kanannya ada Mika dan Rafa.
Perpaduan jingga, emas dan merah menjadi background foto mereka.
Matahari terbenam bersama tawa bahagia lima orang remaja yang terdengar begitu merdu. Tawa yang begitu tulus, ringan tanpa beban.