Renalda

Renalda
Interogasi Randi



Alda sedang selonjoran di ruang tamu dengan toples yang berada disisi kanannya.


"Yuhuuu, spada" Arwini nyelonong masuk.


Diruang keluarga ia melihat anak gadis yang lagi santui bener nikmati hidup sambil nonton Crash Landing On You. Sebuah drama dari negeri sebelah yang begitu digandrungi oleh para gadis hingga ibu-ibu seperti dirinya.


"Enek bener selonjoran" kata Arwini. Ia ikut mengambil tempat disamping anak gadis.


"Filmnya lagi seru tahu." ucap Alda.


Ia kemudian menjauhkan toples tadi yang isinya sudah kosong, tak lupa melap tangannya menggunakan tissue basah. Ia kemudian barbaring sambil memeluk Arwini.


"Mama Arwini harum banget" ucapnya.


"Mama kan habis mandi ini. Terus dikasih tahu Angga kalau anak gadis baru saja dijemput Mika, yah lari dong kesini." Arwini menjelaskan.


Alda memutar tubuhnya membelakangi Arwini. Ia kembali menonton drama. Arwini mengelus rambut Alda.


"Iya ma, belum lama kok sampainya" kata Alda.


Ia begitu menikmati elusan tangan Arwini dirambutnya, sehingga ia menguap.


"Alda ngantuk, ma" ucapnya.


Ia kemudian memutar kembali badannya untuk memeluk Arwini.


Arwini dengan senang hati mengeloni anak gadisnya.


"Tidur gih" katanya.


Tak lama setelah Alda menuju alam mimpi, suara langkah kaki terdengar.


"Lhoo, tidur ternyata" kata Aina yang baru saja hendak bergabung untuk nonton drakor.


"Ngantuk dia" jawab Arwini sambil ngenakin nemplok anak gadis.


Sementara Aina, yang punya anak gadis hanya menghela napas. Ia mengerti kok, anaknya itu kesayangan semua.


"Buat cookies yokk ,Win" ajak Aina.


Arwini menggeleng.


"Kamu tunggu Rina aja. Aku ngantuk. Pengen tidur sambil peluk anak gadisku"


"Anak aku ituuu" Aina memberenggut.


"Udah sana. Telpon Rina." Usir Arwini tidak tahu tempat.


Aina dengan pasrah meninggalkan sepasang anak dan ibu jadi-jadian itu. Ia berjalan ke dapur sambil menelpon Rina.


Setelah magrib semuanya kumpul. Ada bapak Erlan, Arwan, James dan tentu saja pemilik rumah, Lathief.


"Tadi enak bener tidur sambil peluk anak gadis" Priska mulai julid.


"Tahu dari mana kamu, Pris?" Tanya Arwini.


"Noh, Rina kirimin aku poto." Priska menunjuk Rina dengan dagunya.


"Yah enak. Anget. Ngiri kamu?"


"Nganan aku." Sarkas Prsika.


Semua hanya geleng-geleng kepala melihat peristiwa itu. Sementara yang jadi bahan rebutan kini duduk santai sambil main ular tangga dengan Rafa dan Angga. Mika dan Randi tentu saja bermain play station.


"Gue berenti dahh. Dari tadi kena tendang terus" Rafa menyudahi permainan.


"Cemen bener jadi anak laki" kata Angga.


Rafa hanya mencibir. Ia mendekat ke arah Mika dan Randi.


"Ma, cacing papa udah mulai konser" Lathief mengeluarkan keluhannya.


Semuanya menepuk jidat. Bisa-bisanya mereka melupakan agenda kali ini.


"Maaf, pa. Bentar mama siapin dulu" Aina berdiri cepat menghidangkan makan malam.


Tanpa diminta, Priska dan Arwini serta Alda juga ikut berdiri.


"Sayang, skincare nya udah habis yah?" Tanya Arwini. Ia baru memperhatikan jerawat yang ada diwajah anak gadis.


"Masih kok, ma. Cuman beberapa malam belakangan Alda sering ketiduran tanpa cuci muka dan segalanya" jawab Alda.


"Di rawat lho nak, wajahnya. Biar glowing" Rina ikut memberikan komentar.


"Yaps, biar semua mata cogan pada melirik anak gadisku" kata Arwini sambil menata gelas.


"Kalau gak ada yang lirik, sama Randi aja." Priska dengan senang hati mempromosikan anak lelakinya.


"Huuuuh" teriak Arwini, Aina dan Rina.


"Randi udah punya pacar tahu" Alda mulai buka kartu.


"Siapa Al?" Tanya Priska penasaran.


"Mama tahu gak anak gadis yang tinggal di rumahnya pak Maheswari?" Tanya Alda.


Empat kepala yang mendengar pertanyaan itu mengangguk bersamaan.


"Nah, itu pacarnya" kata Alda.


"Oawalaaah, ponakannya pak Maheswari" Priska mengangguk mengerti.


"Tapi aku dengar-dengar, anak gadis itu udah dijodohin dengan anaknya pak Maheswari" Rina mulai bergosip.


"Lhaaa, terus gimana ini?" Tanya Priska.


"Udah dulu. Kita makan dulu. Papanya anak-anak udah ribut, lapar." Aina menengahi.


"Dek, panggil papa dan yang lain" perintah Aina.


Alda mengangguk kemudian memanggil para papa serta kakak dan sahabatnya untuk makan.


"Ren, kamu beneran pacaran sama ponakannya pak Maheswari?" Tanya Priska setelah makan malam usai.


"Nggak, ma." Jawab Randi acuh.


"Emang bener kok. Tuh, Alda yang bilang" ucap Priska kekeuh.


"Lo ngomong Al?" Tanya Rafa.


Alda hanya mengangguk.


Randi menepuk jidatnya.


"Dedek Al dapat gosip darimana coba?" Tanya Randi.


"Kan Randi selalu sama Angel. Ke sekolah bareng, kadang pulangnya juga iya. Ke pestanya Sandi kemarin juga bareng" jelas Alda.


"HEH, Ferguso. Gue itu cuman nebengin. Catet nih NEBENGIN. Bareng ke sekolah juga kan hal biasa" Jelas Randi.


"Gak tuh. Randi biasanya ke sekolah bareng kakak, Rafa, Angga sama Alda juga kalau lagi gak di asrama" bantah Alda.


"Gue nebengin dia baru 3 kali. Dua kali ke sekolah, terus pulangnya juga. Sekali lagi pas Sandi ulang' tahun. Noh, Mika ninggalin gue. Makanya gue bawa mobil. Dipertigaan depan liat dia, yah gue nebengin" Randi kembali menjelaskan.


"OHHH GITU" serentak Alda, Mika ,Angga san Rafa sambil bertos ria.


Randi hanya menghela napas.


"Jadi pacaran gak nih?" Goda Erlan pada sang anak.


"Ngggak, papa." Jawab Randi tegas.


"Pacaran juga gak papa." Goda Arwan.


"Apaan deh om" Randi mencebikkan bibirnya.


Semuanya tertawa melihat ekspresi Randi.


Bahagia itu sungguh sederhana. Meskipun dengan hal kecil.