
Semenjak menginjakkan kakinya di pulau RelFath, Raka beberapa kali mendengar hembusan napas kasar istrinya.
"Kenapa, ma?" tanya Raka.
"Ini surga bukan sih pa?" tanya Dina balik.
Raka menghela napasnya.
"Ini tentu saja surga dunia, ma. Bukan surga yang sesungguhnya." jawab Raka.
"Arunika, selain baik ternyata mereka juga sangat kaya raya. Pantas Renal selalu berkecil hati, butuh waktu lama untuk meyakinkan dirinya melamar seorang Arunika." kata Dina panjang lebar.
Raka mengangguk.
"Mereka begitu terbuka menyambut kita sebagai keluarga barunya. Papa rasa Renal tak perlu mengkhawatirkan apapun. Mereka sangat baik"
"Negeri dongeng aja pak Ares bangun." takjub Dina.
Percakapan mereka terhenti karena Mu meminta mereka untuk segera makan. Mereka ditempatkan di penthouse, lantai teratas hotel yang disulap bak rumah. Ada beberapa kamar, ruang keluarga, ruang tamu, ruang makan dan dapur. Ukuran tiap ruangannya tidak main-main. Mereka, para Arunika selalu totalitas dalam membangun sesuatu.
"Mu, apakah kau sudah bekerja cukup lama pada mereka?" tanya Raka saat mereka dalam perjalanan menuju ruang makan.
"Sejak pertama kali pulau ini dibeli oleh tetua Arunika, tetua kami mengabdi sejak itu. Sejak saya lahir, saya sudah bersama mereka " jawab Mu sopan.
Raka mengangguk.
"Terlalu banyak pertanyaan yang muncul didalam pikiranku Mu. Maaf karena saya tidak sopan hingga bertanya demikian" ucap Raka sesal.
Mu mengangguk.
"Anda tentu saja bukan yang pertama bertanya demikian. Bahkan para menantu yang pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini, mereka akan bertanya dari matahari terbit hingga bulan menggantikannya."
"Kenapa demikian, Mu?" tanya Dina.
"Mereka tidak akan dibawa kesini sebelum menjadi menantu Arunika. Sedangkan untuk keturunan mereka, mereka akan menginjakkan kakinya disini jika mereka sudah berumur 17 tahun. Tentu saja pengecualian untuk Athena dan tuan Renal. Athena baru akan berusia 2 tahun tapi sudah menginjakkan kaki di pulau ini. Dan Renal baru akan menyandang gelar menantu tapi sudah diberi izin." jelas Mu.
"Bagaimana dengan tetangga kami di Arunika, mereka juga sepertinya bisa keluar masuk dengan bebas?" bingung Raka.
Mu menggeleng.
"Mereka akan kesini jika bersama para keturunan Arunika." jawabnya.
"Kenapa harus bilang begitu nyonya? Sebentar lagi kalian akan menjadi keluarga. Saya pamit untuk memanggil ibu anda" kata Mu sebelum pergi memanggil Luna untuk bergabung menyantap makanan.
Di dinding yang menjadi pembatas antara ruang keluarga dan ruang makan, terdapat beberapa foto yang berjejer rapi. Nampak foto keluarga dari generasi ke generasi. Hanya difoto terakhir terdapat 4 orang anggota keluarga. Yang lain hanya bertiga. Nampaknya Aina sudah mematahkan kutukan satu orang anak dikeluarga mereka.
"Kapan Renal dan yang lain akan tiba, pa?" tanya Dina yang sudah duduk di ruang keluarga.
Setelah makan, mereka memilih untuk bersantai. Urusan pernikahan sudah diambil alih oleh orang-orang Arunika.
"Renal maupun Angel belum menghubungi papa, ma." jawab Raka.
"Angel gimana? Dia gak apa-apa kan yah naik pesawat jauh gini?" tanya Luna khawatir.
"Mereka pasti baik-baik aja, ma" Raka menenangkan mamanya.
"Maaf menyela, tuan, nyonya. Mereka akan segera tiba. Mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki area hotel. Anda tidak perlu cemas" kata Mu sopan.
"Darimana kamu tahu, Mu?" tanya Raka.
Mu menunjuk sebuah benda kecil yang berada dekat dari lubang telinganya.
"Apakah kau dan teman-temanmu adalah anggota intelejen yang ditugaskan khusus untuk mengawal keluarga Arunika?" tanya Raka.
Mu menggeleng.
"Kami hanya manusia biasa, tuan. Kami menjalani pendidikan seperti manusia pada umumnya, namun jika keluarga Arunika mempercayai kami untuk menjaganya, barulah kami menjalani pendidikan khusus." jawab Mu sopan.
"Maafkan aku Mu, lagi-lagi bertanya hal yang tidak seharusnya." kata Raka setelah mendapat teguran lewat mata dari istrinya.
"Bukan masalah, tuan" jawab Mu sopan sebelum pamit untuk membuka pintu karena Renal, Angel dan Rian sudah berada diluar.
Angel masuk dengan tergesa-gesa.
"Mama, apakah kita sedang berada di negeri dongeng?" tanya Angel.
Dina menggelengkan kepalanya.
"Kita sedang berada ditempat yang dinamakan surga, nak" jawab Dina yang sama takjubnya dengan sang Putri.