Renalda

Renalda
Arunika berduka



Pagi-pagi sekali dunia digemparkan dengan kabar kepergian pasangan Ares-Weni Arunika. Entah bagaimana caranya, kedua sejoli itu memilih untuk pergi bersamaan. Inikah yang dinamakan cinta sejati? Cinta sehidup semati? Keturunan Arunika memang tidak perlu diragukan lagi soal kesetiaan, keroyalan dan juga ketulusannya.


Lathief dengan cepat mengkonfirmasi kepergian Ares dan Weni pada rakyat RelFath dan juga Athena. Lathief meminta para orang-orang nya untuk tidak mengizinkan siapapun yang tidak memiliki Id untuk masuk ke kompleks Arunika.


Alda duduk disamping sang mama, juga papanya. Ada Dina, Priska dan Arwini juga. Athena ia titip pada Ivana di kamar atas, bersama beberapa pelayan rumah.


Saat hendak membangunkan mertuanya untuk sarapan, Aina malah yang dibuat kaget. Ia tidak mendapati lagi napas keduanya. Ia telah memeriksa alat vitalnya. Hingga ia berteriak begitu keras, Lathief dengan dengan cepat mendatangi asal suara.


Hal yang sama juga dilakukan Lathief, ia bahkan terjatuh, tidak mampu menopang berat badannya sendiri.


Hans duduk di pojok, bersama istrinya. Tadi ia lebih dulu duduk disamping besannya, kemudian menepi sebentar. Membiarkan yang lain melihat jasad-jasad yang begitu berpengaruh di dunia. Ia kembali mengingat percakapannya dengan Ares beberapa waktu lalu, saat mereka menyampaikan wasiatnya. Ares mengingkari janjinya, ia pergi lebih dulu, belum melihat cicit dari Alda.


Kematian selalu menjadi hal yang penuh misteri. Tanpa aba-aba, tanpa pemberitahuan juga tanpa peringatan. Hal itu sudah menjadi kuasa Tuhan. Hans mengusap sudut matanya, ia merangkul istrinya.


Abraham dan ketiga anaknya langsung berangkat saat mengetahui kabar buruk tersebut. Beberapa orang pribumi RelFath dan Athena juga mulai berdatangan. Mereka berhutang terlalu banyak pada keluarga ini.


Keluarga Arunika memang memiliki tempat pemakaman sendiri. Dari generasi ke generasi semuanya dimakamkan ditempat itu.


Alda sedang berdiri di balkon kamarnya, kamar sewaktu ia masih gadis. Ia mengelus perutnya yang sudah membesar.


"Kenapa hmm?" tanya Renal yang datang membawa air.


"Kenapa kakek dan nenek pergi begitu cepat? Mereka bahkan belum melihat cicitnya yang sedang aku kandung" Alda begitu terpukul atas kepergian kakek dan neneknya.


"Sayang, semuanya terjadi atas kehendak Tuhan. Kamu yang ikhlas. Waktu kakek dan nenek sudah habis di dunia. Mereka akan melihat kita semua dari surga" Renal memeluk pinggang Alda. Ia ikut mengelus perut istrinya yang sudah membesar. Sesekali ia bisa merasakan tendangan kecil dari dalam.


Alda menikmati perlakuan Renal. Kepergian kedua orang tersayangnya cukup tiba-tiba. Tapi mau tidak mau ia harus ikhlas melepaskannya.


"Mama mana mana?" sayup-sayup terdengar suara balita dari luar.


Renal melepaskan pelukannya. Ia mengecup sekilas pipi Alda sebelum membuka pintu untuk putrinya.


"Mama mana mana?"


"Didalam, sayang. Ayo, kita hibur mama" Renal menggendong Athena.


Alda duduk di sofa, menunggu suami dan anaknya tiba. Renal mendudukkan Athena diantara dirinya dan Alda.


"Mama anyiiis?"


Alda menggeleng.


"Mama gak nangis. Lihat nih, senyuuuuum" kata Alda kemudian tersenyum lebar.


"Ti Van biyang nenek cama kakek pigi auhh" adu Athena.


"Kakek dan nenek udah meninggal sayang. Udah pergi jauh" jelas Alda.


"Auhh mana mana?"


"Jaaauuuuuuuuh kesana" jawab Renal tanpa diminta.


"Nda boyeh yiat The yagi?"


Alda mengangguk.


"Yaaah" sedih The.


Alda mengelus pundak anaknya.


"Kenapa sayang?"


"Nda da beyi belbi" ucap Athena polos.


Alda membawa Athena dipangkuannya. Ia cukup terhibur akan kehadiran anaknya ini