Renalda

Renalda
Jake



"Maaf terlambat" ucap seseorang dengan napasnya yang tidak teratur.


Semua mata memandang ke arah pemuda yang auranya cukup kuat.


"Jake" kata Lathief. Ia cukup kaget melihat kedatangan Jake.


"Tuan, nyonya, adek, Renal" sapa Jake.


Ia lalu menoleh ke arah dokter.


"Golongan darah saya Rh-Null. Lakukan transfusi segera" katanya pada sang dokter.


Dokter itu mengangguk. Ia dengan cepat menyiapkan semuanya. Jake tak lupa memberikan sebuah kertas dimana dirinya dinyatakan sehat dan layak untuk menjadi pendonor.


Alda bernapas lega. Renal bahkan sudah mengusap air matanya lega. Ia bisa bernafas sekarang, hatinya sudah cukup tenang.


"Kuasa Tuhan begitu dahsyat" Aina mengelus pundak anaknya.


"Untung saja ada Jake, ma" ucap Alda. Ia memeluk mamanya.


Alda melihat ke arah suaminya. Bajunya masih kotor, masih ada darah yang menempel disana. Ia masih takut bahkan hanya untuk meminta suaminya mengganti baju.


Pencarian dihentikan sejak kedatangan Jake. Transfusi darah telah dilakukan beberapa saat yang lalu. Jake kini sedang makan malam bersama Lathief dan Aina.


Alda tadi dipaksa makan oleh Lathief, dengan alasan bayi yang ada di perutnya lapar. Alda makan disuap oleh Aina.


Sementara Renal masih menolak untuk makan.


"Tuan, saya membawa baju ganti untuk tuan" Abdi menyerahkan sebuah paper bag.


Renal mengangguk. Ia menyimpan paper bag tersebut di sampingnya.


"Silahkan tuan mandi terlebih dahulu dan mengganti baju. Atau kakak The akan ketakutan saat melihat baju tuan"


Mendengar ucapan Abdi, Renal memasuki kamar mandi yang ada di ruang perawatan VVIP itu.


Sebentar lagi Athena akan dipindahkan ke ruang VVIP. Para tenaga kesehatan harus memastikan terlebih dahulu keadaannya sebelum dipindahkan dari ruang tindakan.


Setelah mandi, Renal meminta Abdi untuk pulang dan istirahat. Ia akan meminta laporannya besok saja. Hari ini cukup melelahkan jiwa dan pikiran.


"Kenapa bisa berada disini Jake?" tanya Lathief.


"Kakek Ares menggemparkan satu RelFath. Ia bahkan sudah menelpon beberapa pejabat negara luar, bahkan presiden di negara ini untuk membantunya mencari golongan darah Rh-Null. Saat itu saya sedang meeting dengan klien, jadi ponselnya saya mode silent. Setelah selesai meeting saya bergegas membuka ponsel karena orang-orang diluar berjalan hilir-mudik sambil memegang ponsel mereka. Ternyata putri mungil itu sedang kritis, dan ia butuh pendonor yang tidak sembarang. Saya lekas memeriksakan diri di lab, kemudian segera terbang kesini. Berharap masih ada waktu." jelas Jake.


"Kabar ini cukup tiba-tiba dan berhasil membuat kami kalang kabut. Apalagi Athena masih sangat kecil, daya tahan tubuhnya belum kuat. Kami begitu takut kehilangan dia"


"Untung ada kamu Jake. Sejauh ini dunia baru mengkonfirmasi bahwa pemilik golongan darah Rh-Null hanya ada 43 orang di bumi. Kami berhutang banyak padamu. Dulu menjaga Mika, sekarang pun harus menyelamatkan cucu kami" Aina meneteskan air matanya. Ia juga sempat kehilangan harapan atas kehidupan cucunya. Tapi Tuhan begitu baik. Tuhan memberikan keajaibannya pada detik-detik terakhir pengharapan hambanya.


"Saya yang terlalu banyak berhutang kepada kalian. Tanpa kalian, tentu saya bukan siapa-siapa. Saya hanyalah anak jalanan yang diberi nasib baik menjadi bagian dari kalian." ucap Jake.


Lathief menepuk pundak Jake.


"Kapan kau akan membawa menantu untuk kami Jake? Brian dan Brandon juga belum ada tanda-tanda bahwa ia menikah menyusul adik-adiknya. Mika akan segera menjadi ayah, Alda juga tengah hamil. Menikahlah, cari teman hidupmu, buatlah generasi mu sendiri untuk membersamai cucu-cucuku nanti" perintah Lathief.


Jake mengangguk.


"Semoga Tuhan segera mempertemukan saya dengan perempuan yang baik" katanya.


"Laki-laki yang baik tentu saja akan dibersamakan dengan perempuan yang baik." Aina menyemangati Jake.


"Mari kita pamit dulu pada Alda dan Renal. Sekarang sudah larut." Lathief membawa Aina dan Jake ke ruang perawatan Athena.


Sampai disana ternyata sudah ada Athena. Kepalanya di perban. Nampak Renal duduk di kursi samping brankar, sedangkan Alda duduk bersandar di sofa.


"Papa, mama dan Jake pamit dulu. Kalian baik-baik yah. Jaga cucu papa" kata Lathief.


Renal berdiri.


"Terima kasih, bang Jake." ucap Renal.


Jake mengangguk.


"Kalian juga jangan lupa beristirahat" pesannya.


Aina memeluk Alda.


"Minta maaf yah nak sama Renal." bisik Aina.


Alda mengangguk.


"Hati-hati ma" ucapnya.


Renal mengantar kedua mertuanya dan Jake sampai di pintu ruangan. Ia kembali masuk dan duduk di kursinya semula, sambil memandangi wajah pucat anaknya.