
Kian hari perubahan pada diri Alda semakin nampak. Perempuan itu terlihat lebih dewasa juga begitu lucu dengan perut besarnya.
"Udah siap?" tanya Renal.
Alda mengangguk. Mereka akan ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu. Membeli beberapa lembar pakaian untuk calon bayi. Athena mereka titipkan pada Aina.
Renal menggandeng tangan istrinya, mendekati stand satu hingga stand lainnya.
"Yang mana?" tanya Alda sambil mengangkat dua pasang pakaian bayi ditangannya.
"Yang biru deh" jawab Renal.
Alda mengangguk. Mereka lalu membayarnya.
Acara belanja mereka tidak berlangsung lama sebab Alda sekarang mudah kelelahan. Mereka bertolak ke kediaman Lathief yang ternyata sedang ramai.
Ada Angga dan Randi yang sedang menyuapi Athena anggur secara bergantian, ada Mika dan Ivana yang mengawasi anaknya yang dibiarkan berbaring diatas karpet.
Disana juga ada Aina dan Karina. Karina sudah tidak semuda dulu, ia sudah beberapa kali terkena demam belakangan ini. Daya tahan tubuhnya tidak sekebal saat ia masih muda.
"Wehh ramai nih" komentar Alda yang mengambil duduk disebelah Aina.
"Gak tahu ni. Tumben sekali orang sibuk macam ni dua orang punya waktu kayak gini" sindir Mika.
Angga memutar bola matanya.
"Gue kemaren ada kerjaan di sebelah, makanya jarang nongol"
"Sok sibuk kaliii" timpal Alda.
"Sik sibuk kiliiii. Hiliiiiih" cibir Angga.
Aina, Karina dan Ivana terkekeh mendengar percakapan tersebut. Usia boleh tua, tapi jangan harap kebiasaan akan hilang.
"Dedii, maem nggul" adu Athena.
"Bilang makasih sayang sama om Angga dan om Randi" suruh Renal.
"Nti dedii. The maci mawuu" kata anak yang sebentar lagi 3 tahun tersebut.
"Ehh, bisa-bisanya" kaget Randi.
"Santai Lo, Ran. The emang suka ngemil, apa aja yang penting ngunyah." kata Mika.
"Pantas gindut gini" Angga mencubit- cubit pelan pipi Athena.
"Mama anterin Oma istirahat dulu. Kalian kalau mau makan bisa bilang bibi" pamit Aina.
Karina mengelus puncak kepala Alda.
"Ka, gue pinjam anak Lo satu, sehari aja" pinta Angga yang kini berpindah ke samping Mika, sebab Ivana sedang ke dapur.
Jitakan cantik mendarat sempurna di jidat Angga.
"Pinjam noh" sarkasnya.
"Enak benar pinjam-meminjam. Ya kali mereka boneka." lanjut Mika.
"Bikin deh, bang" celetuk Renal.
"Sama guling" sambung Randi yang mengundang gelak tawa dari Alda dan Mika.
Alda bahkan beberapa kali mengelus perutnya karena merasa kram saat tertawa.
"Pelit banget" cibir Angga.
"Bukan pelit, Angga. Anaknya masih kecil gini, yakin kamu bisa momong. Orang gue aja dan mamanya masih di bantu mbak Ni. Anak sekecil ini masih rawan, mesti dijaga dengan baik, gak boleh sembarang. Apalagi belum bisa ngomong. Belum bisa duduk. Mau makan aja gak bisa bilang, mau pup juga yah pup aja. Kalau udah seperti Athena kan udah bisa. Dia udah bisa bilang apa yang dia mau atau rasakan" jelas Mika.
"Denger tuh kata bapak dua anak" lanjut Alda.
Angga masih mupeng melihat dua bayi laki-laki yang ngolet ngolet lucu.
"Al, gue pinjam Athena boleh nggak?" tanya Randi.
Alda mengangkat alisnya,
"Gimana?"
"Athena aku bawa ke kantor, sehari" jawab Randi.
Alda menoleh ke arah Renal, seolah bertanya.
"Sanggup Lo bang? Ni anak gak bisa diam. Apa-apa ditanya apa cu apa cu" kata Renal.
Randi menggaruk belakang kepalanya. Ia rada takut sih, tapi penasaran juga gimana kalau bawa anak ke kantor, pasti kelihatan ayah-able banget. Keren banget pasti.
"Yakin dah gue. Kalau gak sanggup, gue pulangin detik itu juga"jawab Randi pasti.
"Yahhh, kok Randi sih yang dikasih. Gue juga mau kalii" Angga bermisuh misuh sambil makan kue yang dibawa Ivana.
"Tunggu Arvin dan Arion gede, Angga" saran Alda.