
Setelah menghabiskan waktu di Cappodocia, keluarga Lathief kembali bertolak ke rumah Karina.
Alda tidur di perjalanan hingga sampai dikediaman Omanya. Ia sempat terbangun sebentar untuk berjalan ke kamarnya, kemudian melanjutkan tidurnya.
"Capek banget yah, kak" celetuk Oma.
Mika menyandarkan tubuhnya di punggung sofa.
"Luar biasa capek, Oma. Lelah jiwa raga ngikutin adek kesana kemari" Keluh Mika.
Karina terkekeh mendengar keluhan cucu laki-lakinya itu.
"Sayang banget yah Oma gak ikut"
"Iya nih. Oma sibuk sih" Rajuk Mika.
"Ohiya Oma, gadis yang tinggal di rumahnya Mr. Gio siapa yah?" tanya Mika kepo.
"Owalah, nak Angel. Dia itu anak tangan kanan Mr. Gio. Saat Angel masih dalam kandungan, terjadi pembantaian di kediaman Mr. Gio. Papanya Angel berhasil menyelamatkan Mr. Gio. Tapi takdir berkata lain, papanya Angel kembali ke pangkuan Tuhan." jelas Oma.
"Terus mamanya Angel kemana, Oma?" tanya Mika, lagi.
"Saat melahirkan Angel, mamanya juga kembali ke pangkuan Tuhan. Beliau sempat pendarahan, tapi gak tertolong. Makanya dari itu Angel di rawat oleh Mr. dan Mrs. Gio" Karina kembali melanjutkan ceritanya.
Mika mengangguk mengerti. Ia merasa begitu simpati atas hal yang menimpa Angel. Ia perlu banyak-banyak bersyukur. Kedua orang tuanya masih ada, masih bisa merasakan kasih sayangnya.
"Renal, cucunya Oma Luna dekat banget kayaknya dengan Angel"
Karina mengangguk.
"Oma dengar-dengar mereka bakal ngejodohin Angel dan Renal. "
"Oma tahu nggak, adek suka dengan Renal?" tanya Mika.
Karina melotot kaget mendengarnya.
"Owalah, sejak kapan?" tanya Karina.
"Sejak Renal masuk SMA sih, Oma." jawab Mika enteng.
"Tapi Oma tenang aja, adek gak apa-apa kok." Alda terlihat berjalan kearah mereka sambil membawa segelas air.
Karina mengelus rambut cucunya dengan lembut. Memberikan ketenangan dan juga semangat.
"Oma, ayo kita buat kue" ajak Alda begitu antusias.
"Buatin juga untuk kakak yah dek" Mika ikut memesan.
Alda mengangguk. Ia begitu semangat berjalan ke dapur di ikuti oleh Karina.
"Anakmu loh, pengen buat kue" jawab Karina.
Aina ikut membantu. Tiga generasi tersebut begitu semangat membuat adonan kue. Wajah Alda mulai tak karuan, beberapa titik pada wajahnya ditempeli oleh tepung terigu.
Sementara para perempuan sedang sibuk membuat kue, Mika, Lathief dan Hans sibuk membahas bisnis yang sedang Lathief mulai kembangkan dibidang kesehatan.
"Mika pilih bisnis properti apa rumah sakit, nih?" Hans menggoda cucunya.
"Gimana kalau kakak pilih usaha kebun anggur aja, opa" ucap Mika keluar dari opsi.
Hans dan Lathief terkekeh mendengar ucapan sang anak.
"Kakek kasih deh 25 % untuk kakak."
Mika berbinar mendengar perkataan sang opa.
"Gratis kan?" tanyanya bercanda.
"Tukar dengan satu buah rumah di Arunika's, gimana?" tawar Hans mengikuti candaan sang cucu.
"Itukan punya papa, kakak cuman numpang doang ini di Arunika's" keluh Mika.
Lathief terkekeh mendengar candaan mertua dan anaknya.
"Aba ikut pulang aja. Lathief sengaja ngosongin beberapa rumah untuk aba dan umma, untuk besan aba juga" jelas Lathief.
"Iya, aba sudah bicara dengan umma untuk kembali ke tanah air. Aba dan umma sudah tua, pengennya cuma liat anak cucu. Rumah dan kebun disini biar diurus orang aja" Hans mengiyakan ajakan menantu nya .
Mika begitu senang mendengar kalau opanya akan segera kembali ke tanah air.
"Kakek sama neneknya kembar juga sudah aku minta untuk pindah ke Arunika's , Aba. Mungkin setelah dari sini, aku dan Aina bakal jemput mereka." jelas Lathief.
"Woahh, bentar lagi kita rame dong, pa" ucap Mika.
Berbagai macam kue sudah tersaji di meja. Alda berdecak kagum melihat karya sang Oma, mama dan dirinya. Ia kemudian mengambil ponselnya untuk memotret kue tersebut.
"Woaaaah" takjub Mika melihat hasil karnya dari tiga generasi tersebut.
"Adek gitu loh" bangga Alda.
"Iya deh, adek aja. Mama dan Oma ma apa atuh" goda Aina.
Sepasang twins terkekeh mendengar ucapan sang mama. Mereka kemudian memeluk sang mama, kemudian memeluk sang Oma.