
Beberapa mobil terparkir di dermaga. Juga beberapa lusin orang yang berjaga. Ares dan Weni berdiri menunggu kapal yang membawa anak-anak dan cucunya tiba.
"Dia aman kan, pa?" tanya Weni pada suaminya.
Ares mengangguk pasti.
"Dia aman, ma. Papa sudah me-notice dia sejak dia berkenalan dengan cucu kita. Ia tak pernah lepas dari pengawasan papa. Selain dengan perempuan yang pernah dijodohkan dengannya, ia sekali pun tak pernah terlihat dekat dengan perempuan lain. Hanya mamanya, Angel dan tentu saja cucu kita." jawab Ares.
"Kehidupannya gimana, pa?" tanya Weni lagi.
"Dia sedang melebarkan sayapnya di bidang kesehatan. Mama tentu tahu, Omanya adalah sahabatnya Karina, besan mama. Mereka punya lebih dari cukup untuk mencukupi kebutuhan cucu kita. Papa juga tentu akan membebankan banyak titipan kepadanya kelak. Seandainya pun ia tidak memiliki itu semua, papa pasti akan tetap memilihnya untuk kebahagiaan cucu papa." jelas Ares.
"Terima kasih, pa. Hingga detik ini masih bersama mama, bersama anak dan cucu-cucu kita" ucap Weni.
Ares terkekeh.
"Kita harus hidup seribu tahun lagi untuk tetap bersama. Melihat anak dan cucu-cucu kita menyambut bahagianya" kata Ares manis.
Weni mengeratkan pelukannya pada tubuh suaminya yang tidak lagi setegar dulu. Meskipun begitu, auranya masih terlalu kuat untuk menekan semua orang, bahkan hanya lewat diamnya.
Lathief mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Aina juga melakukan hal yang sama. Tak lupa mendapat balasan pelukan dari tubuh yang tidak muda lagi.
"Selamat datang kembali, besan" Ares memeluk Hans singkat.
Weni dan Karina juga saling berpelukan.
"Kenalin, calon besan kita" ucap Karina memperkenalkan Luna.
"Selamat datang, nyonya" sapa Weni sopan.
"Terima kasih, Mrs. Arunika" kata Luna sopan.
"Pa, ma, ini Mr. dan Mrs. Maheswari, calon besan kita" Lathief juga memperkenalkan calon besannya.
"Selamat datang dikediaman, kami" kata Ares sopan namun terdengar tegas ditelinga orang lain.
"Terima kasih, tuan" Ucap Raka dan Dina bersamaan.
Dari belakang nampak Athena yang sedang menangis karena sedang digoda oleh Priska.
"Mamaaaa, Oma Ka" tangisan Athena terdengar.
"Kak, lihat deh siapa yang berdiri disana" Alda mencoba mencoba mengalihkan perhatian Athena.
Alda mengusap air mata Athena agar bisa melihat jelas. Athena berkedip-kedip. Ia meronta minta diturunkan.
"Kek neeeeek" ocehnya kemudian berlari ala anak kecil.
Ares dan Weni terkekeh. Ares membuka kedua tangannya, menyambut kedatangan gadis kecilnya. Ia membawa Athena ke dalam gendongannya, mengecup permukaan wajah gadis kecil itu.
"Cicit nenek makin cantik aja" ucap Weni.
"Yah cantik dong, nek. Mamanya aja cantik gini kan" kata Alda sebelum menyalami Ares dan Weni.
"Cucu kita memang cantik, ma" Ares mengiyakan perkataan cucunya.
"Om, Tante" sapa Erlan dan Arwan juga istri mereka.
"Selamat datang sayang" Weni mencium pipi Priska dan Arwini bergantian.
"Yang lain mana?" tanya Ares. Ia mencari keberadaan Mika, Ivana, Angga dan Randi.
"Mereka memilih lewat jalur udara, pa" jawab Lathief.
Ares mengangguk.
"Baiklah. Semuanya bisa ke rumah untuk istirahat. Untuk calon besan, kami telah menyiapkan hotel untuk kalian. Sebaiknya kedua mempelai tidak bertemu sebelum akad" kata Ares.
Orang-orang yang sejak tadi menemani Ares dan Weni menunggu masing-masing melaksanakan tugasnya. Keluarga Maheswari hanya beberapa orang. Luna, Raka, Dina, Renal, Angel dan Rian. Mun, orang kepercayaan setelah Mi, diminta untuk melayani keluarga calon besan.
"Terima kasih tuan atas sambutannya." ucap Raka sopan.
"Kita sebentar lagi akan menjadi sebuah keluarga. Sebaiknya jangan sungkan begitu. Semoga senang berada disini" kata Ares. Kemudian memerintahkan orang-orangnya lewat gerakan matanya untuk segera melakukan tugasnya.
"Nona, anda sudah bisa bersih-bersih sekarang" kata Alexia yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Terima kasih, Alexia. Silahkan istirahat. Aku bisa memanggil pelayan jika tiba-tiba membutuhkan sesuatu"
Alexia mengangguk mendengar perintah nonanya. Ia mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan kamar Alda.