
Saat Alda pertama kali menginjakkan kakinya di pelataran rumah sakit, semua mata fokus memandangnya. Tentu saja perihal semalam yang menjadi alasannya, saat Andini mengeluarkan bisanya. Perempuan ular itu benar-benar berbisa.
Alda jalan dengan tenang, memikirkan kemungkinan dirinya yang mendapat teguran dari kepala instalasinya.
"Jadi bener Al, Lo anak pungut?" tanya Aira langsung saat melihat Alda sudah datang.
"Piaraan sih lebih tepatnya" jawab Alda.
"Piaraan Mika anaknya pak Arunika?" tanya salah satu temannya yang lain.
Alda menggeleng.
"Piaraannya pak Arunika lebih tepatnya" jawab Alda enteng.
Semua mata memandangnya tajam.
"Cantik doang, ternyata piaraan" cibir seseorang dari divisi lain.
"Gak nyangka gue. Ternyata orangnya liar juga" Aira mengeluarkan pendapat nya.
"Kita harus kasih tahu pak Kusuma nih. Bisa-bisanya ia Nerima anggota lulusan SMA, mana kerjaannya gak bener" sahut Mita, teman komplotan Aira.
Alda hanya diam. Bukan tak mampu melawan. Ia hanya senang melihat orang-orang berkoar-koar tentang dirinya padahal mereka tak tahu apa-apa sedikit pun.
"Pantas nih masuknya mudah, ternyata orang dalamnya yang punya rumah sakit" Aira mencibir.
"Hooh." setuju Mita.
Saat Alda sedang menyusun instrumen yang akan dipakai untuk operasi, seseorang datang dan memintanya menghadap pada kepala instalasi. Alda tentu masih ingin bekerja disini, makanya ia meminta Brian untuk memberi tahu pak Kusuma tentang dirinya dan berharap pak Kusuma bisa merahasiakannya dari yang lain.
"Alda gak diberi SP pak?" tanya Mita.
"Alda tidak membuat masalah. Sedangkan untuk rumor yang beredar diluar sana sungguh itu bukan urusan kalian. Itu masalah pribadi. Belajarlah lebih bijak" kata pak Kusuma.
Pak Kusuma memang sosok pemimpin yang baik dan bijaksana. Ia memperlakukan semua anggotanya dengan baik, tanpa ada perbedaan. Meskipun Alda hanya lulusan SMA, pengetahuan nya tentang instrumen dan kesehatan sangat baik. Alda juga tekun dalam bekerja.
"Bapak bela dia bukan karena dia piaraan yang punya rumah sakit kan?" tanya Aira.
"Saya rasa pekerjaan tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi. Kalian datang kesini untuk bekerja, bekerjalah dengan baik" kata Pak Kusuma tegas.
"Terima kasih, pak" ucap Alda sopan setelah kumpulan bubar.
"Suatu kehormatan menjadi orang pilihan untuk membimbing anda, nona" kata pak Kusuma kemudian menundukkan badannya sejenak.
"Mohon kerjasamanya menjaga identitas saya pak" pinta Alda dengan hormat.
"Dengan senang hati, nona." kata pak Kusuma.
Badan Alda serasa remuk. Operasi hari ini begitu banyak. Semua set instrumen terpakai. Untung yang kebagian shift siang adalah Mia, jadi Alda tak perlu sungkan.
"Harus banget Al nyamar kayak gini?" tanya Mia yang sedang menyusun alat.
"Seru tau." ucap Alda senang.
"Seru sih seru. Tapi kalau kayak tadi yah amit-amit. Mana ngaku peliharaan pak Arunika pula" seloroh Mia.
Mia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Mencoba sabar menghadapi sifat Alda yang kadang polos bener.
Mendapat laporan dari anak buahnya jika Alda sedang mendapat masalah, Lathief tanpa pikir panjang mendatangi anaknya di Kota C. Ia kini sedang menunggu anaknya pulang bekerja.
Tak lama kemudian, anaknya masuk dengan pakaian OK yang dilapisi sweeter. Anaknya terlihat sangat lelah.
Ia langsung menjewer telinga anaknya.
"Enak bener pake ngaku jadi piaraan papa" omel Lathief.
"Adududuu" keluh Alda.
Lathief melepaskan tangannya dari kuping anaknya. Ia memeluk anaknya, melepaskan kerinduannya.
"Papa kangen adek yah?" goda Alda sambil menyandarkan dirinya di dada bidang sang papa.
Lathief mengelus rambut anaknya.
"Udahan yah dek. Papa gak bisa liat adek capek gini. Papa gak suka orang lain buat adek sedih dengan omongan mereka"
"Papa ingat gak, papa pernah bilang gini 'Kita hanya punya dua tangan, gak akan bisa membungkam mulut mereka. Tapi dengan dua tangan itu kita bisa menutup telinga agar tidak perlu mendengar ucapan mereka' . Pa, adek sedang menapaki tangga pertama adek untuk buat papa bangga." jelas Alda.
Lathief mengeratkan pelukannya. Gadis kecilnya sudah sebesar ini.
"Pa, adek boleh minta tolong?" tanya Alda mendongak melihat papanya.
Lathief mengangguk.
"Tolong, bawa Rafa dan Athena pulang" pinta Alda.
"Tapi dengan satu syarat" Lathief mengajukan syaratnya.
"Apa pa?"
"Setelah Rafa dan Athena kembali, adek berhenti dari segalanya. Termasuk bekerja. Adek jagain Athena aja" Lathief menyampaikan syaratnya.
"Entar yang kasih makan Athena siapa pa?" panik Alda .
Lathief terkekeh.
"Rafa setahu papa cukup kaya. Uang papa juga masih banyak, masih cukup untuk menghidupi istri papa, dua anak papa, calon menantu papa, juga 10 cucu hingga turunan dan tanjakan ke tujuh" kata Lathief.
Alda tertawa lepas mendengar perkataan sang papa. Lathief juga sangat bahagia mendengar tawa lepas anaknya.
"Dek, semua hal sudah Tuhan takdirkan. Jika suatu saat nanti ada kejadian yang tidak adek inginkan terjadi, jangan terlalu sedih. Tuhan sudah menakdirkannya" ucap Lathief.
Alda mengangguk.
"Sana gih bersih-bersih, habis itu istirahat. Papa juga mau istirahat, capek banget papa ngunjungin anak gadis sampai lintas kota segala"
Alda terkekeh kecil mendengar cibiran papanya. Ia mengecup pipi papanya kemudian berlalu menuju kamarnya.