
Hingga waktu makan siang, Alda masih di kamarnya, menangisi Athena yang kini tidak bersamanya. Ini adalah kali ketiga ia pulang ke rumahnya, dan selalu dalam keadaan sedih. Pertama saat kepergian papi James, kedua saat Rina menyusul James dan sekarang Athena dan Rafa yang meninggalkan nya.
Alda tentu tidak menyalahkan Mika, tidak sama sekali. Alda tahu betul kekhawatiran kakaknya itu. Alda juga tentu mengerti perasaan Rafa. Rafa, meskipun yang paling konyol, tapi Alda tahu Rafa adalah sosok yang paling perasa diantara mereka dan tentu saja sedikit sensitif.
"Adek mana, ma?" tanya Mika yang sudah mengambil posisi duduk di meja makan.
"Lagi tidur kali. Tadi pagi sempat bangun, tapi gak liat Athena jadi ia kembali tidur" jawab Aina.
"Emang Athena kemana ma?" tanya Mika.
"Dibawa jalan-jalan sama Rafa, paling agak sorean mereka pulang" kata Aina.
"Ka, panggil adikmu gih!" perintah Lathief yang sejak tadi diam.
Selalu begini, mereka tidak akan makan jika tidak dalam keadaan lengkap, apalagi sekarang ada Alda di rumah, mereka harus makan bersama. Beberapa kali mungkin tidak, jika salah satunya ada pekerjaan di luar.
"Dek" Mika berjalan mendekati tempat tidur sang adik. Alda menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Kamar Alda terasa begitu panas, pendinginnya dalam keadaan mati, pantas Mika merasa begitu gerah.
"Dek, bangun. Makan siang dulu, udah ditunggu papa dan mama" Mika dengan lembut membangunkan adiknya.
Karena tak kunjung mendapatkan respon, Mika menarik selimut yang menutupi wajah adiknya. Mata adiknya bengkak, dahinya sangat panas dan bibirnya sangat pucat.
Mika mencoba membangunkan adiknya, ia mengguncang tubuh adiknya.
"MAMAAAAA" teriaknya dari ujung tangga.
Aina berdiri dari duduknya kemudian berlari, apa yang terjadi. Lathief tentu tak ketinggalan.
"Kenapa kak?" tanya Lathief.
"Adek sakit ma" jawab Mika yang sudah mengambil posisi disamping Alda.
"Athena, anak mama" lirih Alda.
"Ka, panggil Tante Arwini cepat!" perintah Lathief.
Mika bangun dari duduknya. Alih-alih menelpon Arwini, ia malah memilih barlari ke kediaman Arwini.
"Athena" Alda lagi-lagi memanggil Athena dalam tidurnya.
"Rafa kemana coba bawa Athena?" tanya Lathief.
"Udah dibilang kok, dibawa jalan-jalan" Aina lelah ditanya, mana kondisi Alda juga sedang tidak baik-baik saja.
Arwini datang masih menggunakan dasternya juga perlengkapan dokternya. Ia memeriksa Alda dengan teliti.
"Na, Alda aku opname . Gak apa-apa?" tanya Arwini.
"Lakukan yang terbaik, Win" jawab Aina cepat.
Sesekali Alda masih memanggil Athena dalam tidurnya.
"Ka, telpon Rafa gih. Suruh pulang cepat" perintah Arwini.
Mika ke kamarnya, mengambil ponselnya. Rupanya ia juga menerima pesan dari Rafa.
Rafa Mahendra
Ka, sorry. Gue pasti repotin adek lu banget yah? Bukan cuma Alda sih, Lo juga dan yang lain pasti merasa direpotkan banget. Maaf banget Ka, gue sadarnya baru sekarang. Sorry, gue udah merepotkan kalian sejauh ini. Gue banyak banget salahnya. Tenang, Athena bareng gue kok, dia pasti baik-baik aja. Jaga Alda, jaga yang lain juga. Thank you, Ka. Bdw, jangan cari gue. Gue akan pulang kalau sudah waktunya.
Mika yang semula begitu semangat untuk menelpon Rafa, kini hanya bisa terkulai lemah di dekat tempat tidurnya. Merangkai cerita mamanya, serta pesan yang Rafa kirim, Mika tentu dengan cepat bisa menarik kesimpulan jika Raga mendengar ucapannya malam itu.
Sungguh, bukan itu maksudnya. Ia tentu juga sangat sayang Athena, ia bahkan menganggap nya seperti putrinya sendiri, bahkan mengklaim dirinya sebagai papa Athena.
"Maaf, ma. Mika gak bisa bawa Athena pulang" sesal Mika.