Renalda

Renalda
Famiiy Time



Kicauan burung terdengar merdu, menyambut pagi yang perlahan memberikan kehangatan pada jiwa. Tetesan embun terasa terlihat begitu jelas pada tiap daun yang ada di villa. Hamparan hijau daun teh menyegarkan penglihatan.



Dengan masih mengenakan piyama, Alda berjalan kebelakang villa. Ia begitu ingin makan anggur.



Anggur segar, dibawah terpaan sinar matahari pagi begitu menggoda. Ia memetik beberapa tangkai kemudian kembali masuk ke dalam rumah untuk mencuci anggur tersebut.


Ia melihat keadaan sekitar. Tatapannya menangkap sang papa sedang melakukan pemanasan di depan bangunan villa. Ia mendekat sambil membawa anggurnya.


Lathief yang melihat keberadaan sang anak pun mendekat, memberikan kecupan selamat pagi di pipi sang anak.


"Selamat pagi, sayang" sapanya pada sang putri.


Alda terkekeh geli mendapat kecupan dari sang papa.


"Udah ihh pa" katanya.


Melihat keadaan sang anak yang sudah lelah tertawa, Lathief pun menghentikan kegiatannya.


"Wah, adek bawa anggur" Lathief mencomot anggur anaknya.


"Iya, pa. Anggurnya seger, manis" kata Alda.


Disaat anak dan papa menghabiskan anggur di pagi hari, penghuni lain baru saja bangun dari tidurnya.


Mika dan Angga sibuk mempersiapkan segala hal untuk keperluan senam pagi ini.


Setelah semuanya siap, empat keluarga itu mulai senam. Lagu nona manise terdengar begitu syahdu mengiringi gerakan mereka. Tidak ada lagi sang pilot yang berwibawa, tidak ada lagi dokter yang begitu serius, tidak ada lagi CEO yang begitu dingin dan tidak ada lagi seorang menteri pertahanan yang disegani oleh orang banyak. Yang ada hanya para bapak-bapak kocak yang begitu kaku mengikuti setiap gerakan yang dicontohkan oleh para istri.


"Saya masih Ting Ting" teriak Angga dan Rafa barengan, mengikuti irama.


"Dijamin masih Ting Ting" sambung Mika, Randi dan Alda.


"Sama sekali belum berpengalaman" teriak semuanya.


"Uhhuiiiii, tarik mang" teriak Rafa heboh.


Alda ngakak melihat keadaan pagi ini. Tidak terasa asing, selalu begini jika mereka semua sedang bersama.


Sebelum bubar untuk membersihkan diri, Randi terlebih dulu menyiapkan kamera dengan tripod nya untuk mengabadikan momen liburan kali ini.


"Fotoin gue dong sama anak gadis yang masih make piyama" James merangkul pundak Alda.


Alda memeluk pinggang James. Melihat kearah kamera dan tersenyum manis.


Melihat James yang berfoto ria dengan anak gadis, Arwan, Lathief dan Erlan berlari menggantikan posisi James untuk difoto juga bersama anak gadis.


"Emang kita ini anak tiri kok" celetuk Rafa yang berdiri dibelakang Randi.


"Hooh. " Angga mengiyakan.


"Pa, gantian dong. Papa yang potret kami dengan dedek" kata Randi enteng yang meminta seorang menteri pertahanan untuk memotret mereka.


"Berani nyuruh papa sekarang, yah" Erlan memelintir leher sang anak kemudian mengambil kamera dari tangan sang anak.


Skill memotret Randi ternyata ia dapat dari gen sang papa. Dulu Arwan adalah seorang tentara hasil jeblosan dari akademi militer. Setiap ia di kirim untuk bertugas, ia selalu membawa kameranya. Diusia yang baru menginjak 37 tahun, ia mengundurkan diri dari satuan tentara. Dengan segala kuasa yang dimiliki oleh orang tuanya dan juga dengan keahlian yang dimilikinya, di usia yang ke 39 tahun ia menjadi seorang menteri pertahanan.


Setelah beristirahat sejenak dan membersihkan diri, mereka kemudian sarapan. Aroma kuah soto ayam begitu menggoda. Di meja juga terlihat potongan ketupat. Udara dingin puncak dan soto hangat merupakan perpaduan yang begitu serasi.


Alda makan begitu lahap. Ia meracik sotonya cukup pedas dan asem.


"Lahap banget dek makannya" tegur Aina.


"Sotonya mantap, ma" katanya.


✨✨✨


Dari sini, mereka bisa melihat matahari terbenam. Warnanya begitu cantik. Jingga.


"Habis dari sini kalian bakal lanjut liburan dimana?" tanya Aina.


"Kalau aku sih yah pulang ke rumah mama" jawab Priska.


"Aku ke Melbourne. Neneknya Rafa rewel pengen ketemu cucunya." kata Rina.


Merasa ditatap, Arwini menjawab "Ke Jepang, sih. Sekalian nge-cek proyek untuk alkes gimana"


"Lah iya, kakeknya Angga kan bikin perusahaan untuk alkes yah" celetuk Rina.


Arwini mengangguk. "Untuk Angga, katanya"


"Kamu gimana, Na?" tanya Priska.


Aina mengangkat bahunya. "Aku mah gimana maunya papa kembar aja" jawabnya.


Sementara di meja bundar yang terisi beberapa minuman kaleng dan juga cemilan para lelaki bahas kerjaan.


"Sejauh apa nih perkembangan rumah sakit yang Lo bangun?" tanya Arwan pada Lathief.


"Sudah mencapai 90% " jawab Lathief.


"Weh merambat ke dunia kesehatan juga kamu. Ku kira mentok di properti." Erlan ikut bicara.


"Yah kan biar anak bini bisa makan, bisa jajan" jawab Lathief acuh.


Mendengar jawaban acuh dari sang pengusaha, mereka terkekeh.


"Apa kabar tuh perusahaan alkes? Bolehlah kita kerjasama" Lathief kembali bicara.


Arwan mengangguk.


"Bisa tuh"


"Lo gimana, Lan?" tanya James .


"Yah, jadi menhan aja dulu. Entar gue tanya Randi maunya gimana, biar gue buka jalan kedepannya bakal ngapain" jawab Erlan.


"Dari yang gue dengar dari anak-anak sih Randi buka perusahaan untuk teknologi gitu. Mereka berlima udah ngumpulin dana dari uang jajan mereka. Kemarin nih waktu gue ngirim duit ke rekeningnya anak-anak, Mika bilang 'papa pelit bener, limit CC cuma 100 doang. Gak tahu apa, duit kakak udah ngalir sendiri dari usaha bareng Randi' canggih bener anak jaman sekarang " Lathief bukan suara.


"Lah, emang jadi?" tanya Erlan kaget.


"Lo gak tahu?" Arwan bertanya.


"Randi pernah sih ngomong, gue kira asal ngomong aja. Tahunya udah berpenghasilan aja. " jawab Erlan.


"Anak-anak kok yah pada keren. " James takjub.


"Jangan-jangan duit Randi lebih banyak lagi daripada duit Lo" seloroh Arwan ke Erlan.


"Bisa jadi sih" pasrah Arlan.


Semuanya tertawa keras mendengar jawaban pasrah dari seorang menteri pertahanan.


"Dek, tolong dong panggilin para papa" mendengar perintah sang mama, Alda berdiri dari duduknya.


"Pa, di panggil mama" kata Alda.


Semuanya berdiri, membawa minuman yang sudah terisi nampan, juga beberapa makanan ringan.


Rafa, Angga dan Mika membakar jagung, bakso dan sosis. Sementara Alda dan Randi kebagian mengolesi bumbu pada danging yang sedang dipanggang.


Erlan memotret kegiatan tersebut. Terlihat beberapa kali Alda mengucek matanya.


Mereka menghabiskan malam dengan tawa renyah, perut yang kenyang dan juga perasaan bahagia.