Renalda

Renalda
Talk (2)



Setelah menidurkan Athena, Alda menuju ruang keluarga yang ada dilantai 2, tepat di depan kamarnya. Ia tidak menutup rapat pintunya, takut Athena bangun dan menangis.


"Jadi?" Randi membuka obrolan malam ini.


Sudah lama mereka tidak berkumpul seperti ini.


"I'm so sorry, guys. Lo semua pada tahukan setelah orang tua gue meninggal, gue gimana. Kanker paru-paru tiba-tiba nyapa gue. Saat itu gue putus asa banget, makanya gak peduli dan biarin semuanya terjadi. Hingga saat gue liat Athena untuk yang pertama kali, gue ngerasa menyesal banget gak ngobatin sakit gue." cerita Rafa.


"Lo kok nyembunyiin ini? Lo gak anggap kita lagi?" tanya Angga.


Rafa menggeleng.


"Seperti yang gue bilang tadi, gue gak peduliin sakit gue sebelumnya. Gue pengennya kalau mati yah mati aja, kalian gak perlu tahu gue sakit. Tapi serius sejak Athena lahir, gue berobat sana sini, sampe Athena dibesarkan oleh Alda."


"Sekarang gimana Raf? Kamu berhasil lawan penyakit itu?" tanya Alda yang sejak tadi menundukkan kepalanya.


"Sorry, Al. I'm loser" ucap Rafa lirih.


"Ayo Raf, aku bawa kamu ke RelFath, kakek pasti bisa minta orang-orangnya buat nyembuhin kamu" Alda menarik tangan Rafa.


Ia benar-benar putus asa sekarang. Sahabatnya yang paling konyol, paling suka membuat masalah, paling banyak tertawa, ternyata menyembunyikan sakitnya, penderitaannya.


"Al, tenang Al." Rafa membawa Alda kepelukannya.


"Sorry, Raf. Kita gak ada saat Lo butuh" ucap Mika.


"Apa sih kalian? Kalian udah nerima Athena aja udah cukup buat gue. Gue mohon banget sama kalian buat jagain Athena." kata Rafa.


Alda yang masih dalam pelukan Rafa semakin terisak.


"Gue udah buat surat kuasa untuk Alda besarin Athena. Sorry, Al gue repotin Lo lagi" lanjut Rafa.


"Lo tenang, Ka. Gue yakin orang yang bakal sama Alda bakal nerima Athena dengan baik. Jika tidak, Lo bisa jauhin Athena dari Alda, dan balikin ke Indi."


"Iya, gue ngerti. Lagian waktu itu gue benar-benar pengen habisin waktu sama Athena." respon Rafa. Rafa tak berhenti mengelus kepala Alda yang masih terisak-isak.


Alda kini jauh lebih dewasa, tapi masih terlihat seperti anak-anak jika sedang menangis. Alda masih adik kecilnya yang dulu.


"Gimana Ka persiapan pernikahan Lo?" tanya Rafa.


"99 % aman. Sisa eksekusi" jawab Mika.


"Bentar lagi Mika nikah oiii." teriak Angga.


"Es batu kita udah mencair. Sukanya sama yang muda muda ternyata" celetuk Rafa.


"Hooh, masih 19 tahun cuii" goda Angga.


Alda masih diam. Enggan berbicara. Hubungannya dengan Mika masih belum baik. Ia masih sedih jika mengingat kepergian Athena beberapa saat lalu.


"Lo gak senang Al liat Mika bakal nikah?" tanya Randi yang paling mengamati situasi.


"Senang" jawab Alda singkat.


"Al, semuanya udah berlalu. Gue dan Athena udah kembali ke hadapan Lo. Athena kembali ke mamanya. Lo dan Mika juga harus baikan." Ceramah Rafa.


"Aku minta maaf, dek" ucap Mika.


"Never mind." jawab Alda sambil tersenyum.


"Baikan gini kan enak. Sudah berabad-abad rasanya gak ngumpul kayak gini" ucap Angga.


"Huuu, lebay" Rafa menimpuk kepala Angga menggunakan sofa.