
Alda sedang selonjoran depan TV menunggu Mika yang belum pulang dari kampus. Ia sibuk memainkan game Onet pada ponselnya.
"Sorry, tadi macet" Mika baru saja tiba, ia mendekati Alda.
"Iya, gak apa-apa. Istirahat dulu gih." kata Alda sambil merentangkan tangannya.
Seakan mengerti kode dari sang adik, Mika menggapai tangan adiknya kemudia menariknya hingga berdiri.
"Manja bener sih" ejek Mika tapi tetap merangkul adiknya berjalan ke lantai atas.
"Biarin ah." Alda bergelayut manja di lengan kakaknya.
"Gak buat sambel hari ini?" tanya Mika iseng.
Alda menggeleng.
"Tiba-tiba mager, gak pengen ngapa ngapain" katanya.
"Tidur bareng gak nih?" tanya Mika saat melihat Alda masih berdiri di depan pintu kamarnya.
Alda mengangguk, kemudian berlari masuk ke kamar kakaknya.
Mika menghela napasnya. Ia begitu takjub akan perilaku sang adik. Ia melihat jam tangannya, masih jam 2 siang. Bentar aja berangkatnya. Pikirnya.
Yah, kemarin ia berjanji akan mengajak Alda untuk jalan-jalan. Mamanya sedang ke kota C menemani papanya. Alda diajak tapi gak mau. Ia merasa kasihan melihat adiknya yang hanya goleran di kasur atau bersantai di taman seorang diri.
Mika kini berbaring di kasur nya, dengan sebelah tangannya menjadi bantalan untuk Alda yang sudah lebih dulu berada di alam mimpi. Walaupun sudah genap berusia 17 tahun, nyatanya adiknya ini masih begitu manja kepadanya. Ia melihat wajah adiknya dengan seksama. Semoga hal-hal baik selalu mengiringi setiap langkahnya, ucap Mika dalam hati untuk sang adik.
Mika juga ikut tertidur bersama adiknya.
✨✨✨
"Dek, udah siap belum?" tanya Mika di depan pintu kamar adiknya.
Tak lama, pintu terbuka.
Terlihat Alda dengan gayanya yang khas. Celana kulot 3/4 dengan baju kaos yang kakinya ia masukkan ke dalam celana. Nampak rambutnya diikat kecil-kecil hingga membentuk bando bagian depan. Sementara sisanya tergerai indah.
"How cute you are" ucap Mika melihat penampilan adiknya.
Mika terkekeh melihat kelakuan sang adik. Ia kemudian merangkul adiknya ke bawah untuk memulai petualangan sore ala twins Arunika.
"Kemana kita?" tanya Mika ala-ala presenter di TV.
"Makan-makan" jawab Alda semangat.
Alih-alih jalan-jalan di mall, mereka malah memilih untuk mendatangi jajanan kuliner yang buka pada sore hingga malam hari. Kedai berjejer teratur, nampak berbaris rapi.
Orang belum terlalu banyak, hanya terlihat pedagang yang sibuk menyiapkan masakan mereka, juga beberapa pembeli yang memilih datang lebih awal agar tidak terdesak.
"Kak, makan pentolan dulu ayoo" ajak Alda yang sedari tadi bergelayut di lengan kakaknya.
Mika tanpa protes mengikuti kemana kaki adiknya melangkah. Ia senang, karena adiknya masih bergantung padanya. Entah kapan, tapi pasti, rela tidak rela ia akan melepaskan adiknya bersama lelaki lain.
"Bang, pentolannya 2 porsi. Yang satu sambelnya agak banyakin" seru Alda pada pedagang pentolan.
"Iya, dek. Silahkan duduk dulu" ucap pedagang itu.
Disetiap kedai, masing-masing tersedia kursi untuk para pembeli. Ada 4 hingga 6 kursi yang sengaja disediakan agar pembeli tidak capek berdiri dan bisa makan dengan tenang jika memilih makan di tempat.
"Makan disini atau dibungkus, dek?" tanya pedagangnya.
"Makan sini aja, bang" jawab Mika karena Alda sedang sibuk meneliti tempat ini.
Tak lama, pesanan mereka sudah jadi. Alda makan dengan tenang, menikmati setiap biji pentolan yang dibaluri kocokan telur , daun bawang dan juga penyedap rasa. Sambel kacangnya juga begitu nikmat.
"Enak bener ini" ucap Alda.
Mika yang melihat adiknya makan dengan lahap pun ikut lahap makan. Alda itu mood booster nya Mika.
Saat di kampus ada yang membuatnya rada jengkel, atau saat ia begitu sangat lelah karena kegiatan kampus, setelah pulang dan melihat adiknya yang selalu ceria itu, rasanya moodnya kembali baik.
Selain menemani adiknya kuliner-an, tentunya Mika juga bertugas menjadi bendahara sukarela untuk sang tuan putri.
Sore itu mereka habiskan dengan jajan, mendatangi satu persatu kedai yang menurut mereka menarik. Hingga malam menyapa, Alda meminta untuk pulang karena perutnya terasa begitu penuh.