
Pernikahan Renal-Alda sudah berjalan 3 bulan. Hiruk pikuk rumah tangga telah mereka rasakan. Apalagi ada Athena yang menjadikan mereka orang tua.
"Yikut deddi" Athena merentangkan tangannya, ia meminta untuk ikut Daddy nya ke kantor.
"Lho, kakak kan sekolah" ucap Alda. Ia mencoba menenangkan anaknya.
"Mawu yikut" tangis Athena makin menjadi-jadi.
"Gimana ini?" bingung Alda.
Renal menghela napasnya.
"Kak, tenang dulu " Renal membawa Athena ke gendongan nya, menangkan anaknya.
"Yikut hiks"
"Yaudah, kakak ikut daddy yah, tapi janji gak boleh nakal" Renal mencoba memberikan pengertian.
"Lho Ren?!"
"Nggak apa-apa,Al. Dari pada nangis kan, entar sakit" khawatir Renal.
"Tapi aku gak bisa ikut lho. Aku udah janji sama mama untuk nemenin Angel cek up" kata Alda.
"Kakak aku yang bawa. Kamu nemenin Angel aja. Gak usah khawatir yah, dia anak yang pintar"
Mbak Ni sudah beberapa hari ini pulang ke RelFath. Ia akan mengikuti kelas nanny kembali. Alda sebenarnya keberatan, mbak Ni juga tentu saja, tapi pelatihan ini wajib diikuti oleh seluruh nanny untuk menguji kualitasnya dan mendapatkan sertifikasi khusus.
"Yaudah, aku gantiin bajunya dulu. Kamu tolong bilang sama bibi untuk nyiapin bekal" kata Alda.
Ia mengganti baju sekolah Athena dengan rok mini yang hanya sebatas lutut bayi itu, kemudian atasannya berupa baju kaos berlengan pendek. Ia juga menyiapkan baju ganti serta popok untuk sang anak.
"Susunya? Biskuitnya? buburnya?" tanya Alda bertubi-tubi.
"Aman, nona" jawab bibi.
Alda mengangguk.
"Terima kasih, bi. Bibi bisa istirahat. Saya juga akan ke rumah mama sebentar lagi" kata Alda.
"Terima kasih, nona. Bibi permisi" pamit bibi itu.
Alda mengantar anak dan suaminya hingga ke carport.
"Hati-hati lho bawa anaknya" pesan Alda.
Renal mengecup kening Alda,
"Aman, sayang" katanya.
✨✨✨
"Pak, sebentar lagi meeting dengan para kepala bidang" kata Abdi, asisten Renal.
Renal mengangguk. Ia memperhatikan Athena yang sedang asyik bermain di atas karpet yang telah Abdi sediakan tadi. Disana banyak mainan yang sudah menyebar kemana-mana.
Renal lalu mendatangi Athena.
"Kak, daddy mau meeting. Kakak sama om Abdi yah?"
Athena menggeleng. Ia malah merentangkan kedua tangannya meminta gendong.
"Yikut" katanya.
"Tapi gak boleh rewel lho yah?"
Athena mengangguk.
"Mawa cuit, num uga"
Renal mengangguk. Ia meminta Abdi untuk membawakan biskuit dan air minum ke ruang meeting. Renal juga membawa tab yang biasa Athena gunakan di sekolah untuk belajar.
Ia duduk di kursi biasa, seperti para kepala bidang, sementara Athena ia dudukkan di kursinya.
"Adek belajar dulu yah. Daddy kerja" Renal memberikan tabnya pada Athena.
"Ciap" kata Athena kemudian mengambil tab yang Renal berikan padanya.
Meeting di mulai. Sesekali ocehan Athena terdengar, lalu kembali hilang setelah Renal mengelus kepalanya.
"Dedii, num" kata Athena.
Renal mengalihkan sejenak perhatiannya untuk memberi minum anaknya. Ia juga memberikan biskui untuk bayi itu agar tidak mengoceh.
Benar, Athena anteng. Ia bahkan menaikkan sebelah kaki kecilnya ke atas meja, dimana hal tersebut membuat roknya tersingkap. Para kepala bidang yang kebanyakan laki-laki merasa tak enak. Athena memang masih bayi, tapi tetap saja ia adalah seorang perempuan, anak boss pula.
Renal yang menyadari tatapan para kepala bidang ini, tanpa sungkan merapikan cara duduk Alda.
"Jaga mata kalian" katanya.
Semuanya mengangguk pasrah.
"Nak, duduk yang sopan" ucap Renal lembut.
"ciap dedii" kata Athena kemudian melipat kakinya hingga duduk bersila.
Setelah menikah, jiwa ke-bapakan Renal makin menjadi. Ia kian posesif terhadap putrinya. Seperti tadi, ia tak rela jika orang lain mencuri-curi kesempatan untuk melihat putrinya.