
Disalah satu rumah di Arunika's Residence, seorang gadis sibuk dengan aktivitas paginya.
"Nak Angel, kamu ikut sama om aja yah ke sekolah. Supirnya mau nganterin tante ke rumah teman." ucap
"Gak usah tante, Angel naik bus aja di depan. Lagian sekolah dan kantornya om Raka berlawanan arah." Angel menolak untuk diantar.
Wanita yang melahirkan Renal tersebut merasa khawatir.
"Angel kan baru disini. Belum hapal jalan"
Angel tersenyum.
"Kemarin Mika udah ngajarin Angel kok tante. Tante gak usah khawatir, yah." ucapnya menenangkan.
"Kalau ada apa-apa cepat hubungi tante yah, nak." Dina masih dengan khawatir nya.
Angel mengangguk.
"Angel pamit ke sekolah dulu yah, tante" katanya sambil mencium punggung tangan perempuan dengan hati lembut tersebut.
"Yaudah, nanti pulang sekolah tante yang jemput. Sekalian bawa Angel beli pakaian." Dina mengantar Angel sampai gerbang rumah.
Angel kemudian berjalan meninggalkan kediaman Renal. Ia bersenandung kecil menikmati perjalannya ke depan kompleks.
Karena terlambat bangun, Randi jadinya ditinggal oleh Mika. Ia kini harus berkendara sendiri menuju sekolah.
Saat hendak berbelok, ia melihat seorang gadis dengan seragam yang sama sepertinya. Ia menghentikan mobilnya.
Si anak pindahan. Pikirnya.
"Woii temannya Renal, butuh tumpangan gak?" tanya Randi.
Angel menggeleng.
"Aku tunggu bus aja, kak."
Randi melihat jam yang melingkar ditangannya. Lima belas menit lagi, bel akan berbunyi.
"Bus jam segini gak ada. Sudah lewat 15 menit yang lalu. Bus selanjutnya baru akan lewat 15 menit kemudian. Dan asal lo tahu, bel disekolah 15 menit lagi bunyi"
Angel yang merasa tidak punya pilihan lain pun memilih untuk membuka kursi penumpang dan nebeng dengan Randi ke sekolah.
"Nama kakak siapa?" tanya Angel memecah keheningan.
"Randi." jawab Randi singkat.
"Nama kamu Angel, kan?"
Angel mengangguk.
"Tau dari mana, kak?" tanyanya.
"Alda yang cerita sih. Katanya kalian ketemu di Turki yah" jawab Randi.
"Owalah, kak Alda toh. Kalian akrab banget keliatannya"
Randi mengiyakan ucapan Angel.
"Alda itu kesayangan kami semua"
"Enak banget pasti jadi kak Alda" ucap Angel.
"Gimana?" tanya Randi tidak paham.
"Dikelilingi cowok tajir, tampan, pintar, most wanted sekolah pula" jawab Angel berapi-api.
"Alda nya b aja tuh"
"Oh iya, katanya kak Alda anak ART nya kak Mika yah. Teman di kelasku bilang kak Alda selalu pulang ke rumahnya kak Mika..... Aadddduh" Angel mengusap kepala kepalanya yang terbentur di jendela mobil.
Randi mendadak menginjak rem mobilnya mendengar ucapan ngaco Angel. Ia menoleh ke samping, dimana Angel mengusap kepalanya.
"Nama teman Lo siapa?" tanya Randi.
"Amanda, kak" jawab Angel.
"Kelas?"
"10 IPA 3"
"Okay, thanks for your information. Sorry soal kepala lo yang kebentur" ucap Randi berusaha tenang.
Sesampai di sekolah, murid masih berkeliaran dilapangan, di koridor juga di kantin. Hanya beberapa yang berada dalam kelas.
"Terimakasih, kak" ucap Angel sopan kemudian membuka pintu mobil.
Randi hanya mengangguk. Ia menenangkan dirinya terlebih dulu. Kemudian mengambil tas di jok belakang dan menggantungkan di bahu kanannya. Ia berjalan, tapi bukan ke arah kelasnya.
"Itukan Randi, jauh amat jalan kesini" ucap Dian pada Sandi.
Dian hanya mengangguk.
Sesampainya di depan kelas 10 IPA 3, tanpa permisi Randi memasuki kelas tersebut.
"YANG NAMANYA AMANDA KESINI LO" teriak Randi.
Angel yang melihat Randi begitu kaget. Tidak ada lagi Randi yang tenang.
Bisik-bisik mulai terdengar.
"AMANDA, BERDIRI LO." Randi kembali berteriak.
Semua mata memandang ke arah sudut kelas, dimana seorang gadis dengan tampilannya yang waw sedang menutupi kegugupannya.
Karena belum ada yang mengaku sebagai Amanda, Randi berjalan ke arah Ricky, salah satu anggota OSIS.
"Ricky, cepat kasih tahu gue yang mana Amanda" Randi berucap lirih namun ngeri pada Ricky.
"Yang di sudut, bang. Make bando pink" jawab Ricky.
Pelan tapi pasti langkah Randi mendekati tersangka. Ia menggebrak meja hingga ekspresi Amanda menjadi begitu takut.
"Jadi lo yang namanya Amanda." tanya Randi.
Amanda hanya mampu mengangguk.
"LO BILANGIN ALDA ANAK PEMBANTU HAHHH'
"JAWAB LO" Randi kembali berteriak.
"Iya kak. RENALDA ANAK ART, TUKANG PANSOS, BELAGU, PARASIT'" Amanda dan segala keberaniannya balas berteriak didepan Randi.
Tanpa aba-aba Randi mencengkram dagu adik kelasnya itu.
"Atas dasar apa lo ngatain Alda? HAHH? SIAPA LO BERANI NGATAIN DIA?" Randi begitu marah mendengar teriakan orang ini.
Bisik-bisik mulai terdengar. Seorang gadis dengan rok diatas lutut juga baju yang pas body memasuki kelas. Ia berjalan mendekati kerumunan.
Ia menampar pipi Randi begitu kuat.
"Lepasin adek gue" katanya.
Andini, salah satu most wanted di Maheswari. Mantan ketua tim volley.
Randi menyeringai.
"Oh, jadi dia adik seorang Andini Putri. WAAAW" Randi bertepuk tangan.
"Ngapain lo labrak adek gue?"
"Karena adek lo udah ngatain ALDA" jawab Randi dan menekan nama Alda .
Andini menampilkan ekspresi seolah begitu terkejut.
"Karena anak ART ternyata."
Mata Randi kembali menggelap mendengar ucapan Andini.
"Ngapain lo marah, gue kan cuma melindungi lo dan teman-teman lo dari parasit kayak dia."
"Berhenti ngomong lo" gertak Randi. Ia mengepal tangannya, ia begitu ingin menghancurkan wajah gadis didepannya.
"ALDA ANAK PEMBANTU. NUMPANG DI RUMAH MIKA, NUMPANG EKSIS, ANAK BEASISWA, BENALU, MURAHAN"
Plaaaakkk
Tetiba teriakan itu berhenti.
Andini memegang pipinya yang baru saja mendapat tamparan dari Rafa. Ia begitu kaget.
"Sekali lagi gue dengar kata-kata menjijikkan tentang Alda, gak peduli perempuan maupun lelaki, gue pastiin muka dia hancur dengan tangan gue sendiri" ucap Rafa tenang kemudian menarik tangan Randi untuk pergi dari sana.
Semua tatapan mengikuti langkah dua pemuda tersebut. Sebagian dari mereka merasa takut dan kasihan terhadap Andini dan Amanda sebagiannya lagi merasa penasaran soal Alda yang seorang anak ART.
Di pintu terlihat Alda dengan napas yang belum teratur. Ia berlari memeluk Randi, mencoba menenangkan emosi pria itu.
Randi memeluk Alda begitu erat. Mencium aroma strawberry dari rambut anak gadis itu hingga tenang.
Sementara diluar kelas kini menjadi ramai sebab kedatangan salah satu most wanted sekolah.
"kok rame?" tanya Dian pada salah satu adik kelasnya.
"Bang Randi ngamuk, kak" jawab adik kelasnya.
Dian kaget. Ia segera menarik tangan Sandi untuk segera mengikutinya ke kelas Alda.