
Rupanya penjelasan Sandi siang tadi membuat Mika berpikir hingga selarut ini.
Tiga tahun lalu, setelah ia meninggalkan adiknya di RelFath, ia secara tak langsung bertemu Renal di cafetaria. Ia tentu saja sedang mengerjakan tugasnya sedangkan Renal mengambil pesanan mamanya.
Dengan senyum wibawanya Mika membalas sapaan Renal.
"Duduk, Ren" kata Mika saat itu.
Renal duduk didepannya.
"Maafin gue, bang" ucap Renal.
Mika menaikkan sebelah alisnya. Menunggu Renal menyelesaikan ucapannya.
"Maafin gue karena secara tidak langsung menyakiti adiknya bang Mika." lanjut Renal.
Mika terkekeh.
"Ren, Alda bukan tipe perempuan yang mudah sakit. Tapi jujur kemarin, gue sempat khawatir pas liat berita kalau Lo udah tunangan dengan Angel. Gue aja syok, sempat emosi, gimana dengan adek gua yang gue tahu waktunya beberapa kali dihabiskan bareng Lo. Okelah, gua dan Alda tahu lebih dulu tentang kalian lewat cerita opa gua, tapi tetap aja gue kaget"
Renal menghela napasnya.
"Gue mesti gimana, bang?" pasrah Renal.
Mika menatap Renal. Mencoba membaca ekspresi dari lawan bicaranya. Benar, disana terpancar wajah putus asa seorang Renaldi Maheswari.
"Rian gimana?" tanya Mika.
"Rian gak masalah. Malahan ia menyarankan untuk mengikuti kemauan opa dulu, sambil kita semua a.k.a saya, Angel dan Rian cari jalan keluarnya. Rian diberitahu lebih dulu sama Angel, makanya sekarang baik-baik aja." jelas Renal.
"Dan Lo biarin adek gua gak tahu apa-apa dan tiba-tiba Lo tunangan?" tanya Mika.
Renal diam.
"Seharusnya Lo bisa pakai cara Angel untuk meyakinkan Rian. Seharusnya Lo bisa ngasih tahu situasi Lo sama adek gue dulu." Ceramah Mika dengan tenang.
"Maaf, bang" ucap Renal.
"Ren, maaf Lo gak bakal bikin adek gua balik kesini." kata Mika.
Renal menatap Mika.
"Adik Lo dimana, bang?"
"Setelah tahu Lo udah tunangan, tiba-tiba dia nelpon papa untuk ikut private course. Opsi terakhir yang seharusnya Alda pilih dalam hidupnya, karena gue tahu ia tidak pernah tertarik dengan perusahaan dan antek-anteknya. Ia minta agar tidak diganggu. Kami, keluarga dan sahabatnya hanya bisa berharap banyak pada kakek dan nenek juga Brandon yang sementara ini menemani Alda." Mika menjelaskan dengan tenang.
"Gue nyakitin Alda banget kayaknya" lirih Renal.
Untung cafetaria belum terlalu ramai, karena hujan sangat deras diluar sana. Hal itu nampak dari penglihatan Mika yang mencoba mengatur emosinya.
"Bang, gue boleh minta tolong?" pinta Renal.
Mika diam, menunggu Renal mengutarakan pintanya.
"Tolong, jaga adik Abang untuk gue." kata Renal.
"Apa jaminan yang bakal Lo kasih?" tantang Mika.
"Gue bakal berusaha lebih keras buat batalin perjodohan gue dan Angel. Gue bakal minta pengertian opa. Dan tunggu gue buat datang minta adik Lo secara resmi. Tolong bang." iba Renal.
"Gue kasih Lo waktu sebelum private course Alda selesai. Kata opa, private course Alda cukup lama, 2 tahunan" Mika mengeluarkan syaratnya.
"Terima kasih, bang. Sekalian gue juga mau pamit" kata Renal.
"Mau kemana Lo?" tanya Mika.
"Perusahaan alkes yang papa gue bangun lagi bermasalah. Gue akan sekolah di negara G, sambil menyelesaikan masalah." jawab Renal.
"Wao, hebat. saingan dong Lo sama Angga"
"Emang bang Angga usaha alkes juga sekarang?" tanya Renal.
"Iya. Cuman dia lebih ke instrumen aja."
"Tetap beda, bang. Kalau gue lebih ke alat yang dipakai untuk perawatan instrumen" jelas Renal.
"Sebelum permasalahan Lo selesai, jangan pernah muncul dihadapan adik gue." peringat Mika.
Renal mengangguk paham.
✨✨✨
Setelah pertemuan hari itu, Renal benar-benar menghilang. Yang Mika lihat hanya Bu Dina, Pak Raka dan Angel yang beberapa kali berpapasan dengannya.
Hingga berita kematian Mr. Gio mengagetkan Mika dan seluruh penghuni Arunika's Residence.
Beberapa hari setelahnya, sebuah pesan tak dikenal masuk ke ponsel Mika.
9482948***
Dua pekan sebelum opa meninggal, pertunangan gue dan Angel diputuskan. Tunggu gue bang untuk jemput adik Lo .
Mika hanya membacanya. Pesan tersebut ternyata dari Renal. Ia berusaha dengan baik selama dua tahun terakhir. Hingga sebelum ajal menjemput Opanya, ia berhasil menepati janjinya pada Mika.