
Setelah pulang petang hari itu, Alda menceritakan semuanya pada Mika. Tentu saja juga perihal turnamen basket yang akan diikuti Renal.
"Maaf banget, kakak gak bisa nganterin" ucap Mika tak enak hati.
"Gak apa-apa sih, kak. Lagian aku bisa diantar Brandon. Dia lagi senggang kayaknya."
"Atau aku anterin aja. Entar pulangnya kakak minta Brandon yang jemput. Lagian searah kok ini" Saran Mika.
"Gak apa-apa anterin adek dulu?" tanya Alda memastikan.
Mika mengangguk.
"Yok." ia merangkul adiknya menuju lantai bawah.
"Wahhh mau kemana nih?" tanya Aina yang melihat penampilan anak-anaknya yang cukup rapi.
"Kakak mau ke kampus, ma" jawab Mika.
Pandangan Aina kini mengarah ke Alda.
"Adek mau nonton turnamen nya teman" kata Alda.
"Teman yang mana nih?" goda Mika.
Alda hanya menghela napasnya.
"Adek barengan sama kakaknya?" tanya Aina.
"Adek aku antar. Pulangnya nanti dijemput Brandon" jawab Mika.
"Yaudah gih, sana. Hati-hati yah anak mama"
Mika dan Alda bergantian mencium punggung tangan Aina, tak lupa dibalas dengan ciuman di pipi mereka.
Ting
Sebuah pesan masuk di ponsel Alda.
Renal
Kamu dimana?
^^^Renalda^^^
^^^Depan plaza, bentar lagi sampai^^^
Renal
Aku tunggu depan pintu masuk
"Seru banget yah chatnya" ucap Mika.
"Renal cuma nanyain aku udah dimana" kata Alda.
Mika mengangguk.
"Adek hati-hati yah. Disana pasti banyak orang. Apalagi ini sudah babak final"
Alda mengecup pipi Mika.
Bener apa yang dikatakan Mika. Banyak orang disini. Dan tak satupun orang yang ia kenal. Ia berusaha meredam rasa gugupnya berjalan seorang diri menuju pintu masuk tempat pertandingan.
Mika tersenyum melihat kedatangan Alda. Orang yang ia tunggu-tunggu. Sejak petang itu, mereka tidak pernah bertemu lagi, juga tidak berbalas pesan. Baru tadi ia memastikan kedatangan gadis yang sedang berjalan ke arahnya.
Alda mengenakan celana jeans 3/4 dipadukan dengan kaos pink. Ia terlihat begitu manis, ditambah dengan rambutnya yang ia kepang, juga tas ransel mini yang berada di punggungnya.
Renal merangkul Alda, membawanya ke pinggir lapangan. Alda tentunduk malu. Tentu saja. Ia kini menjadi center pandangan orang-orang. Seorang Renaldi Maheswari yang selama ini dikenal dingin, datang membawa seorang perempuan yang terlihat begitu manis dengan kesederhanaannya.
"Kalau lagi jalan liat jalan. Jangan nunduk terus" kata Renal.
"Aku malu tauuu" lirih Alda.
"Udah, jangan malu. Hitung-hitung belajar jadi nyonya Maheswari"
Alda mencubit pinggang Renal.
"Apaan sih Ren?" lirihnya.
Renal mengelus bekas cubitan Alda pada pinggangnya. Sedikit sakit, banyak gelinya, pikir Renal.
Pandangan itu tentu tak luput dari banyak pasang mata. Sebagian orang merasa iri melihatnya, sebagian lagi berdecak kagum melihat perpaduan dari dua makhluk Tuhan itu.
Renal yang tinggi merangkul Alda yang tingginya hanya sebatas dadanya saja. Renal dengan kaos putih polosnya yang dilapisi seragam basket diluarnya.
"ALDAAAAAA" teriak seorang gadis yang bisa dipastikan urat malunya sudah putus.
Alda menoleh ke sumber suara. Ia tersenyum begitu melihat Dian melambai-lambai ke arah nya.
Mika mengelus kepala Alda begitu melihat ia tersenyum.
"Kamu nontonnya bareng Dian" katanya.
Alda mengangguk. Ia memeluk Dian sekilas.
"Kemana aja Lo, Al?" tanya Dian.
"Alda di rumah aja, gak kemana-mana" jawab Alda kemudian terkekeh.
"Yok, duduk" Dian menarik Alda untuk duduk di kursi penonton bagian depan.
"Yang, aku ke lapangan dulu. Bentarr lagi mulai" Sandi pamit pada Dian.
"Semangat" kata Dian.
Renal mengacak rambut Alda.
"Teriak yang kencang. Biar aku semangat" pede Renal.
Alda tersenyum.
"Wish you luck" katanya.
"Renal aja nih dan Sandi yang diberi semangat?" seloroh Alex.
"Alex juga semangat, Rian, dan semuanya" kata Alda.