Renalda

Renalda
Queen



"Woii Ren" Sandi memasuki kelasnya dengan tergesa-gesa.


"Ngapain lo San?" Tanya Alex heran.


"Bang Randi ngamuk noh dikelasnya Angel" Sandi mengumumkan perkara tadi.


"Lahh kok bisa? Orangnya kalem gitu" Rian heran.


"Kalau bang Rian yang ngamuk lah gue gak kaget. Gak mungkinlah bang Randi ngamuk." Alex membuka suara.


"Dibilangin kok" Sandi ngeyel.


"Bang Randi ngamuk. Gimana tuh?" tanya Renal yang sedari tadi diam.


"Yah dia ngamuk. Kasian tuh adik kelas kena mental." jelas Sandi.


"Emang kenapa bisa ngamuk"? Renal kembali bertanya.


"Noh. teman kelasnya Angel ngatain kak Alda anak ART, benalu, apa lagi yah" jawab Sandi sambil mikir.


"Woaah, lemes amat tuh mulutnya." cibir Rian.


"Berani banget tuh adik kelas." nimbrung Alex.


"Ya beranilah. Orang dia ngandelin kakaknya. Kakaknya mantan ketua tim volley sekolah coy" Sandi kembali bercerita dengan semangat.


"Yang seksi itu?" Alex nyambung dengan omongan Sandi.


"Yap, 100 buat anda. Mana tu orang nampar bang Randi pula"


"Lah. Terus bang Randinya gimana?" Renal ikut penasaran.


Randi ini lho. Orangnya kalem, adem ayem, gak neko-neko. Lurus-lurus aja hidupnya.


"Bang Randi semacam syok gitu. Habis nampar bang Randi, kak Andini kembali ngata-ngatain kak Alda. Ehh ternyata bang Rafa dengar, tanpa segan dia kembali nampar kak Andini"


"Woaaaah. Seru Rian, Alex dan Renal.


✨✨✨


"Kok lo bisa tahu ada yang ngatain Alda?" tanya Angga.


"Tadi gue nebengin tuh anak baru. Terus dia tanya, bener kagak Alda itu anak ART di rumah Mika. Gue emosilah." jawab Randi


"Tunangannya Renal itu?" tanya Rafa.


Randi mengangguk.


"Kalian sih ninggalin gue."


"Sorry Raf, tadi Mika buru-buru gitu. Tahunya pas sampai sekolah guru-guru pada rapat" kata Rafa.


"Ada-ada aja sih pikiran orang-orang tentang Alda. Anaknya kalem gitu, gak neko-neko"


Rafa dan Randi mengangguk, mengiyakan ucapan Angga.


"Queen gue itu setelah mama" ucap Rafa.


"Kok kalian bisa sampai ke bangunan belakang sih?" tanya Randi.


"Dian ke kelas, terus bilang lo ngamuk. Jadi deh kami lari ke belakang. Ternyata beneran ngamuk" jawab Mika sambil meletakkan jus alpukat di depan teman-temannya.


"Ho'oh. Kok Randi ngamuk sih?" tanya Alda yang baru saja dari UKS mengambil handuk yang di isi es batu untuk mengompres pipi Randi.


"Ya ngamuklah, orang kesayangan gue dikatain" jawab Randi sambil meringis.


"Ngeri juga tuh tamparan Andini" Rafa ikut meringis melihat Randi.


"Lebih ngeri tuh tamparan lo ke Andini. Lagian ngapain sih lo nampar perempuan?" tanya Mika.


"Ya kali gue biarin kesayangan gue dikatain" jawab Rafa acuh.


"Entar gue ngadu ke mama lo" Angga ngomong.


"Ngadu sono. Emak gue bakal depak tuh orang dari sekolah" kata Rafa santai.


"sekate- kate kalo lo ngomong." Mika menjitak kepala Rafa.


"Emangnya ini sekolah punya nenek lo" Angga mencibir.


*****


Sore hari di asrama, Alda sedang mengerjakan tugasnya. Pintu dibuka dari luar, nampak Dian datang membawa beberapa makanan ringan dan juga sekotak ice cream.


"Al, nih" Dian menyodorkan ice cream ke Alda.


Tanpa sungkan Alda menerima nya.


"Terimakasih, Dian baik hati cantik jelita"


"Yeeeeuh, bukan dari aku tauuu" kata Dian.


"Terus dari siapa, Yan?" tanya Alda penasaran.


"Dari Renal lah." jawab Dian enteng.


"Kalian ketemu dimana?" tanya Alda.


"Di lapangan basket. Tadi gue nonton Sandi latihan, terus disana Renal juga latihan. Kan satu tim mereka. Pulangnya diajakin ke supermarket depan, terus deh dijajanin, terus Renal beliin ice untuk lo dan dititip ke gua" jelas Dian panjang kali lebar.


"Panjang amat ceritanya" Alda mendumel.


Ia mengambil ponselnya.


^^^^^^Alda^^^^^^


^^^Thanks ice creamnya^^^


Renal


Siip


Setelah mengucapkan terimakasih dengan singkat, Alda kembali mengerjakan tugasnya.