Renalda

Renalda
Plan



"Ren, kira-kira orang tua kak Alda kemana, yah?" Tanya Sandi yang berbaring di ranjang milik Renal.


Renal yang sedang menata miniatur mobilnya pun menghentikan sejenak kegiatannya. Ia melihat ke arah Sandi. Benar. Kemana kira-kira orang tua Alda. Kenapa selama lima bulan ia mengenalnya, Alda selalu pulang ke rumah Mika. Sesekali ia melihat Alda memasuki rumah sahabatnya yang lain, tapi tidak seintens Alda ke rumah Mika.


"Atau jangan-jangan bang Mika dan kak Alda sodaraan, yah?" Tanya Renal balik.


"Mereka kerabat jauh kali. Bisa jadikan kak Alda dititipin di rumah bang Mika." Respon Sandi .


Renal mengangguk. Ia kembali menata miniatur mobilnya.


"Gak penting juga sih, dia anak siapa. Yang penting Lo cinta. Iyakan, Ren?" Tanya Sandi.


"Yooo, man" jawab Renal.


"Cinta doang, gak ada kejelasan status" cibir Sandi.


"Syalan, Lo" umpat Renal.


Sandi terkekeh, berhasil membuat Renal mengumpat.


"Menurut Lo gue perlu gak, ngungkapin perasaan gue?" Tanya Renal.


"Perlu banget. Lo tahukan cewek gimana. Ia butuh kejelasan bro" jawab Sandi.


Renal mengangguk. "Gue ngungkapin nya habis dia kelulusan dah" katanya.


"Gak kelamaan, emang?" Tanya Sandi.


Renal menggeleng. "Gaklah. Lo tahukan empat orang bodyguardnya kak Alda itu damage nya gak ketolong, gue yakin gak seorang pun yang bisa deketin doi"


Sandi membenarkan ucapan Renal. Lima bulan mengenal kelima sosok kakak kelasnya itu, jarang ada yang berhasil masuk ke circle pertemanan mereka. Hanya mereka berlima. Tak ada tambahan. Meskipun kelima orang itu ramah, gak nolak pertemanan tetap baik kepada sesama, tetap ada tembok tak kasat mata yang membuat orang-orang enggan mengakrabkan diri.


✨✨✨


Ulangan semester ganjil baru saja di mulai. Di kelas istimewa tak ada suara. Hanya goresan pena yang menyentuh kertas terdengar lirih. Alda duduk dengan tenang mengerjakan ujiannya. Begitu pula dengan 19 orang lainnya.


"Libur nanti kita kemana nih?" Rafa membuka obrolan setelah formasinya lengkap.


Sudah ada Alda yang duduk bersandar di dada Mika, juga ada Randi dan Angga.


"Ke gunung yok" Randi memberikan idenya.


"Bener. Terakhir kali kita pergi liburan kemarin. Udah lama ." Angga mengiyakan.


Pandangan kini tertuju pada sepasang twins yang hanya diam sedari tadi.


"Gue sih yes" kata Mika.


"Alda juga yes" ucap Alda.


Mereka semua mengangguk kompak. Kelima penghuni kompleks Arunika itu gemar melalukan kegiatan di alam. Mendaki, panjat tebing, snorkeling dan arung jeram mereka kerap lakukan. Para orang tua mengerti dengan hobby anak mereka yang duluar nalar. Terutama untuk Aina dan suami, melepaskan Alda untuk menjelajahi alam luar awalnya terasa berat. Mereka pun memberikan izin dengan sarat orang-orang papa mereka ikut dengan jarak yang telah disepakati. Yaitu 50 meter dari jarak anak-anak mereka. Atau para orang-orang itu menyamar.


Hal tersebut terbukti aman. Para penjaga itu tak pernah ketahuan. Sementara para anak-anak tak juga merasa dikekang.


"Expedisi kali ini kita kemana?" Tanya Mika.


"Ke gunung nganu. Dengan ketinggian 2874 MDPL, kemiringan 45-69 derajat dari pos 1 hingga ke pos 9. Sementara pos 9 ke 10 kemiringan nya diatas 70 derajat." Angga mengeluarkan pendapat.


Mika, Alda, Randi dan Rafa mengangguk.


✨✨✨


Akhirnya ujian semester ganjil tahun ajaran ini selesai. Para murid bisa bernafas lega. Di SMA Maheswari tidak diberlakukan remedial. Kehadiran dan kelengkapan tugas menjadi penentu nilai para murid. Sementara ujian semester diadakan sebagai evaluasi saja.


Asrama ditutup saat hari pertama semester hingga sekolah kembali aktif di semester berikutnya. Semua murid kini kembali ke rumahnya masing-masing.


Sore hari Alda duduk di depan rumahnya, menunggu kurir yang mengantar pesanan makanannya. Ia beberapa kali tertawa renyah karena adegan film yang sedang di nontonnya.


"Kak Alda" panggil Renal yang sedang menggowes sepeda nya.


Alda menoleh. Ia melihat Renal kini berhenti di depannya. "Hai, Ren" sapanya.


Renal tersenyum.


"Lo ngapain kak dipinggir jalan?" Renal bertanya dengan sebelah alisnya terangkat.


"Nunggu kurir" jawabnya.


Baru saja disebut, kurir itu sudah tiba. Alda berjalan menghampiri kurir dan menyelesaikan urusannya.


Kemudian ia berjalan mendekati Renal.


"Gue mau ke taman. Sepedaan" Renal menjawab.


"Lo ikut, gak?" Tawar Renal.


Alda mengangguk semangat. "Tungguin, yah" katanya.


Dengan cepat Alda memasuki rumahnya. Menyimpan makanannya di meja makan, kemudian berlalu ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Tak butuh waktu lama, ia telah selesai. Ia kini mengenakan kaos over size berlengan pendek juga celana selutut. Tak lupa sepatu olahraganya.


"Ma, adek ke taman, yah" pamitnya pada Aina yang kini sedang menonton film.


Aina mengangguk. "Hati-hati, dek" katanya.


Setelah mencium pipi sang mama, Alda berlari ke arah garasi rumahnya. Ia menuntun sepedanya sampai gerbang.


"Sorry, Renal lama nunggunya" ucap Alda.


"Gak selama nungguin mama belanja, kok" Renal merespon kemudian tertawa.


"Yok jalan. Nanti keburu sore" Kata Renal.


Mereka bersepeda ke taman.


"Sering banget yah ke rumahnya bang Mika?" Tanya Renal.


Alda mengangguk mengiyakan. Tanpa berniat menjelaskan.


"Renal sering sepedaan, yah?" Tanya Alda.


"Iya, kak. Beberapa kali ikut event kalau lagi senggang" jawabnya..


"Kalau kak Alda, gimana?" Tanya Renal balik.


"Kalau aku sepedaan nya yah sekitar kompleks aja." Alda menjawab.


"Bang Mika dan yang lain kemana?"


Alda menekan rem sepedanya. Mereka kini sudah sampai di tepi danau buatan yang ada di ujung kompleks.


"Yang lain lagi makan-makan. Mereka abis lengser dari club basket." Jawab Alda .


"Tumben Lo gak ikut, kak" kata Renal.


"Ya nggaklah, Ren. Aku dan basket gak ada hubungannya. Tapi tadi kak Mika udah ngirim makanan untuk aku, kok" Alda menjelaskan.


Renal mengangguk. Ia memperhatikan perempuan yang kini duduk disebelahnya. Peluh membasahi pelipis sang gadis, beberapa anak rambut jatuh tak teratur di dahinya.


"Cantik." Renal berucap lirih.


Alda menoleh. "Ehh. Kenapa, Ren?" Tanya nya.


Renal melihat ke arah danau.


"Danaunya cantik, adem" jawabnya.


Alda mengangguk. Ia menatap ke depan. Danau itu memantulkan langit sore, dengan pohon-pohon disekitarnya. Sungguh indah ciptaan Tuhan.


"Kak Alda rencananya kuliah dimana?" Renal bertanya.


Alda menjawab dengan gelengan. Kemudian berkata "Belum ku list. Aku ikut alur aja, gimana ke depannya."


Renal kaget. Bukankah orang yang sedang duduk disampingnya ini adalah orang cerdas, kenapa ia sampai belum memikirkan akan melanjutkan kuliahnya dimana.


"Aku masuk di Maheswari lewat jalur beasiswa. Bersyukur sejauh ini beasiswanya masih jalan. Kenapa aku gak mikirin kuliah? Kuliah butuh banyak persiapan, baik mental, otak maupun materi. Sejak kecil aku hidup dengan kemauanku dan kemampuanku, aku belajar berdiri diatas kaki sendiri. Aku pernah liat mama nangis liat aku belajar sampai lupa makan dan gak main dengan teman-teman. Waktu itu papa cuma bilang, belajar secukupnya, semampunya, gak usah dipaksa. That's why aku belum mikirin kuliah. Aku gak bisa liat mama nangis, aku pengen bebas melakukan banyak hal." Alda menjelaskan.


"Ternyata dulu kak Alda maniak belajar, yah?" Renal bertanya..


"Gak sampai maniak juga. Lebih ke berusaha, sih. Menurutku." Jawab Alda


"Udah sore, pulang yuk" Alda berdiri dari duduknya.


Renal mengikutinya dari belakang. Mereka menghabiskan sore dengan bersepeda dan berbagi cerita.


"Thanks, Ren. Udah ngajak aku bersepeda" ucap Alda.


Renal mengangguk. "Masuk gih." Katanya memerintahkan Alda agar segera masuk ke rumahnya bang Mika.


"Hati-hati di jalan. Awas ditabrak capung"


Tawa Renal terdengar saat mendengar ucapan Alda. Ia kemudian menggowes sepeda nya meninggalkan kediaman Arunika.