
Para perempuan kini sedang mendatangi toko seorang pengrajin perhiasan.
"Selamat datang, Nyonya, Nona" sapa seorang lelaki yang sudah tidak muda lagi.
"Terima kasih" ucap Aina sopan.
"Apa yang membawa nyonya dan nona datang kemari?" tanya pengrajin tersebut.
"Paman, saya hendak meminta tolong pada paman untuk membuat perhiasan untuk para mama yang duduk di depan." ucap Alda sopan.
"Apakah mereka adalah orang yang penting bagi nona sehingga nona datang kemari?"
Alda tersenyum. Sangat tulus.
"Mereka memperlakukan aku seperti putrinya. Tentu saja mereka sangat penting bagi aku, paman" kata Alda.
Pengrajin tersebut mengangguk. Ia kemudian memberikan Alda 5 lembar kertas yang berisi desain perhiasan yang akan mereka produksi.
"Silahkan nona pilih desainnya" ucap pengrajin tersebut.
"Aku akan meminta para mama untuk memilihnya sendiri" kata Alda riang kemudian mendekati Priska, Rina dan Arwini.
"Maaf, kami merepotkan mu sepagi ini" ucap Aina tak enak hati.
Pengrajin tersebut menggeleng.
"Sungguh, kami tidak merasa direpotkan sedikit pun. Kami malah merasa terhormat, didatangi langsung oleh generasi Arunika" kata pengrajin itu.
Aina tersenyum.
"Terima kasih"
Alda kembali bersama kertas yang sudah ditulisi namanya masing-masing.
"Berapa banyak biayanya, paman?" tanya Alda sambil merogoh dompetnya.
"Tidak perlu, nona. Ini semua milik nona. Saya hanya bekerja disini." tolak pengrajin itu.
"Tidak paman. Paman akan mengeluarkan tenaga lebih untuk membuat 3 buah kalung dalam waktu singkat. Itu tidak baik jika tidak dibayar" ucap Alda.
"Saya akan merasa sangat bersyukur jika nona menyukai rancangan kami." tolak Pengrajin itu.
Alda yang hendak berbicara berhenti setelah mendapati tangan mamanya memegang lengannya.
"Terima kasih, pak. Jika sudah selesai, tolong antarkan ke rumah pak Ares sebelum petang. Karena kami akan pulang setelah makan malam" ucap Aina sebelum menarik lengan anaknya dan memanggil yang lain untuk pergi.
"Na, yang punya toko tadi siapa?" tanya Rina.
"Desainnya keren bener. Unik gitu" kagum Priska.
Aina mengangguk mengiyakan. Benar apa yang Priska katakan. Desainnya memang benar-benar unik. Dulu waktu masih jamannya ia dan Lathief pacaran, Lathief tanpa sungkan memberikan Aina perhiasan. Dan semuanya memiliki keunikannya masing-masing. Saat Aina bertanya dimana Lathief mendapatkan nya, Lathief hanya menjawab di sebuah toko perhiasan. Aina baru mengetahuinya setelah menjadi seorang nyonya Lathief Arunika.
"Perhiasannya jadinya kapan?" tanya Arwini.
"Mungkin nanti sore. Tergantung yang buat siapa" jawab Aina.
"Maksudnya gimana?"
"Yah tergantung. Kalau paman tadi yang buat, biasanya jadinya agak lebih cepat. Ia begitu lincah merakit perhiasan." jelas Aina.
Arwini mengelus rambut Alda.
"Adek bener tinggal disini?" tanya Arwini.
Alda mengangguk.
"Kan sambil belajar. Biar nanti jadi CEO cantik" polos Alda.
Semuanya terkekeh mendengar jawaban polos Alda.
Anak gadis yang mereka perebutkan sejak dulu, kini ingin mandiri. Balajar menapaki kehidupan nya sendiri.
"Nanti juga tinggalnya bareng kakek dan nenek" ucap Alda.
"Kalau Tante Weni bagi warisan, ingat mama Wini yah dek" canda Wini.
Alda terkekeh.
"Nanti Alda minta nenek bikin wasiat. Tenang deh" Alda ikut bercanda.
"Anaknya mami udah besar aja." Priska menggandeng tangan Alda.
Mereka kini mengelilingi pusat perbelanjaan yang ada di dekat pantai.
"Kok gak ngajak dari kemarin sih kesininya?" tanya Rina.
"Hooh, kita cuman jaga rumah aja" Kata Wini.
Aina terkekeh .
"maafin yaah" kata Aina.