
Morning Sunshine
Alda terlihat sangat senang hari ini. Papanya, Lathief benar-benar menepati janjinya untuk membawa Athena dan Rafa pulang ke kota A.
"Alexia, kamu udah pesankan tiket untuk ke kota A?" tanya Alda.
"Sudah, nona. Kita hanya perlu menunggu mbak Ni kemudian berangkat ke bandara" jawab Alexia sopan.
Alda bisa saja meminta papanya untuk meminjamkan jetnya, tapi ia tahu jet itu belum istirahat. Jet tersebut baru mendarat dini hari tadi membawa Rafa dan Athena pulang.
Perjalanan dari kota C ke kota A tidak pernah terasa selama ini, menurut Alda. Ia begitu tak sabar untuk melihat gadis kecilnya. Athena-nya pasti makin cantik dan menggemaskan.
Dari luar, Alda bisa tahu ada banyak orang di dalam rumahnya. Apalagi dalam waktu dekat Mika akan melangsungkan pernikahan dengan gadis yang ia incar 4 tahun lalu.
Dari jauh, Alda bisa melihat seorang anak kecil berjalan dengan pelan, seolah masih memperhitungkan langkahnya agar tidak terjatuh. Anaknya sudah bisa jalan, Rafa pasti berusaha keras menuntun langkah Athena. Rafa, ia mencari keberadaan Rafa.
"Lho, Al. Gak masuk?" tanya seseorang dari arah belakang.
Alda menoleh. Nampak seseorang dengan tubuh kurusnya berdiri dihadapannya. Badan yang dulu kekar dan terlihat tangguh, kini terlihat kurus, tak semenawan dulu. Apa yang terjadi dengan sahabatnya? Hal apa yang telah Alda lewatkan pada diri sahabatnya? Seberapa lama Alda pergi hingga tak tahu apa-apa tentang Rafa?
"Rafa" ucap Alda lirih setelah sadar dari kaget yang menguasai dirinya.
Rafa terkekeh melihat wajah cengo Alda. Ia kemudian memeluk Alda erat. Ia tahu apa yang Alda rasakan. Alda tentu saja kaget melihat keadaannya.
Tangis Alda menarik perhatian orang-orang yang ada di ruang keluarga. Alda mencengkeram erat kaos Rafa.
"Gue minta maaf, Al." ucap Rafa tanpa melepas pelukannya.
Alda masih enggan untuk berbicara.
"Mama" panggil anak kecil yang sedang berjalan pelan menuju Rafa dan Alda.
"I'm okay. Gue udah balikin anak Lo, gak usah cengeng" kata Rafa.
Alda menatap anak kecil yang kini sudah memeluk tungkainya.
"Lepas kangen gih sama anak Lo, nanti kita bicara" kata Rafa sebelum bergabung dengan yang lain.
"Mama" panggil Athena.
Alda luruh, ia jatuh duduk dilantai, memeluk Athena erat.
"Anaknya mama udah pulang" katanya. Ia mengelus rambut Athena yang sudah sebahu, mencium permukaan wajah Athena hingga Athena tertawa, memperlihatkan giginya yang sudah berjumlah 12.
Hal itu tentu tak lepas dari mata Lathief, Aina, Rafa, Mika, Randi dan Angga.
"Tega Lo Raf bawa Athena pergi" kata Angga.
"Yah, sorry" ucap Rafa.
"Lo tahu gak, Alda bahkan menghindari Mika selama Lo pergi?" Angga dan mulut lemesnya emang yang terbaik.
Rafa menatap Mika.
"Sorry, Ka"
"Seharusnya gue yang bilang gitu, Raf. Maaf, gak gitu maksud gue. Seharusnya gue tahu, gue ngertiin adek gue" kata Mika.
Lathief dan Aina membiarkan anak-anaknya menyelesaikan masalah mereka. Ia enggan untuk ikut campur, anak-anak yang berada dihadapannya sudah dewasa.
Aina cukup kaget melihat keadaan Rafa saat datang ke rumahnya. Padahal sebelum Rafa pulang, ia sudah diberitahu oleh Lathief tentang penyakit Rafa. Aina tentu saja sedih. Ia merasa bersalah karena telah mengabaikan Rafa, tidak mengurusnya seperti anaknya sendiri. Aina tadi sempat menangis saat melihat Rafa sudah ada didepannya. Ia memeluk anak sahabatnya dengan kata maaf yang mengiringinya.