
Sementara di rumah sakit, Renal sedang menemani istrinya berjuang melahirkan buah cinta mereka. Aina, Dina, Raka dan Lathief duduk di ruang tunggu.
"Tadi Alda makan kan, ma?" tanya Lathief khawatir.
"Makan pa, bareng The." jawab Aina.
"Syukurlah, setidaknya ia ada tenaga untuk mengejan" ucap Dina.
Di ruang bersalin, Alda sedang berusaha mengatur napasnya.
"Udah siap?" tanya dokter perempuan yang didampingi seorang bidan.
"Bukaan nya sudah lengkap?" tanya Renal.
"Sudah, pak" jawab dokter tersebut.
Alda menggenggam tangan Renal, menjadikannya tumpuan, menyalurkan segala rasa sakitnya.
"Yah, tahan"
"satu"
"dua"
"tiga, mengejan"
Alda mengikuti instruksi dari dokter. Hingga kali ketiga ia mengulang hal tersebut, seorang bayi laki-laki lahir ke dunia.
"Wahh, selamat. Anaknya berjenis kelamin laki-laki, tampan dan sempurna" kata dokter tersebut. Ia memberikan waktu untuk Alda mencium bayinya sebelum diberikan kepada bidan untuk dibersihkan.
Renal menangis. Ia mencium pelipis Alda yang sudah begitu basah karena keringat.
"Terima kasih" ucapnya lirih.
Alda mengangguk. Ia masih belum bisa untuk bicara.
Setelah semua prosesnya selesai, Alda dipindahkan ke ruang perawatan. Bayinya juga sudah ikut dipindahkan.
"Wahh, jagoannya bertambah" kata Lathief.
"Iya. Makin banyak pasukan ini" kata Raka menimpali.
"Tampan yah jeng" kata Aina.
Dina yang sedang menggendongnya, mengangguk.
"Tampan sekali. Mamanya cantik, Daddy nya juga tampan"
"Selagi ada Lo, semuanya bakal aman. Iya kan, bang?" tanya Renal menggoda kakak iparnya.
"Syalan" umpat Mika yang disambut gelak tawa oleh semuanya.
Alda bersyukur, masih diberikan kesempatan untuk melihat dunia bahkan setelah ia merasakan sakit yang tiada tara. Ia akan memanfaatkan hidupnya dengan baik. Berbakti kepada suaminya, menjadi ibu yang baik untuk anak-anak nya, menjadi anak yang bisa diandalkan untuk kedua orang tua dan mertuanya, serta menjadi orang yang penuh kasih sayang kepada sesama.
Alda merasa bahagia melihat tawa dan tangis haru karena kelahiran anaknya.
"Mama pamit pulang dulu, kasihan opa dan Oma jagain Athena. Ivana dan Mbak Ni juga pasti sudah kelelahan" pamit Aina. Ia mencium kening sang putri.
"Papa juga pamit. Selamat yah sayang udah berhasil melahirkan cucu yang tampan untuk kami" Lathief juga tak lupa menyematkan ciuman yang cukup lama di kening putrinya.
"Titip, The yah" pinta Alda.
"Gue juga pulang deh. Kasian istri gue" Mika berdiri dari duduknya, menghampiri sang adik, mencium keningnya dan mengusap kepalanya.
"Pulang yah Ren, Tante, om" pamit Mika pada Renal, Dina dan Raka.
"Kami duluan" pamit Aina dan Lathief pada besan mereka.
"Hati-hati di jalan" ucap Raka.
Aina dan Dina bercipika cipiki sebelum berpisah.
Tak lama kepergian besannya, Dina dan Raka juga pamit. Malam semakin larut. Renal melepas kepergian orang tuanya hingga di depan pintu ruang perawatan Alda.
"Adiknya udah tidur yah?" tanya Alda.
Renal melihat sebentar ke keranjang bayi yang terletak di dekat brankar Alda.
"Udah tidur. Nanti pasti bangun kalau lagi lapar" jawab Renal.
Alda mengangguk.
"Anak udah dua aja." ucap Renal.
"Artinya kamu harus kerja lebih keras lagi." kata Alda yang dibubuhi kekehan diakhir kalimatnya.
"Pasti itu. Kerja untuk mommy nya anak-anak, untuk anak-anak juga" Renal mengelus kepala Alda. Ia ikut duduk di brankar sang istri.
"Tanggung jawab kian berat. Kita sama-sama kuat yah besarin mereka, kasih mereka cinta dan kasih sayang yang banyak dan tak terhingga" Alda memainkan jari Renal.
Renal mengangguk. Ia mencium pelipis istrinya.
"Terima kasih" ucapnya tulus.