
Setelah acara makan gorengan, Alda mengajak Athena untuk segera tidur.
"Ayo nak, sikat gigi dulu, terus ganti baju" Alda mengajari Athena tutorial sebelum tidur sejak dini.
"Mawuu jelapah" tunjuk Athena pada piyamanya yang bergambar jerapah.
Alda mengangguk. Ia kembali membantu Athena untuk memakai piyama tidurnya.
Athena lalu berusaha sendiri naik ke tempat tidurnya, kemudian diikuti Alda.
"Mau nyanyi atau dongeng?" tanya Alda.
"tung bintang" jawab Athena sambil menunjuk plafon kamarnya yang dipenuhi bintang jika malam.
Alda mengangguk. Ia ikut menghitung bintang bersama anaknya hingga anaknya tertidur.
Krek
Pintu penghubung antara kamarnya dan kamar Athena terbuka. Nampak Renal yang sudah selesai dengan bersih-bersihnya.
"Yah, udah tidur. Padahal pengen ikut ngelonin" katanya.
Alda terkekeh. Ia bangun dari tidurnya. Mencium kening anaknya lama.
"Selamat malam anak mama" ucapnya.
"Aku bersih-bersih dulu" pamit Alda.
Renal mengangguk. Ia menggantikan posisi Alda yang tadi tiduran di samping Athena. Ia memperhatikan wajah kecil itu, yang semakin hari terlihat semakin menawan. Ia pasti akan kerepotan mempunyai anak yang cantik nanti, pasti anaknya akan digandrungi oleh banyak laki-laki. Apalagi Athena yang paling tua. Si kembar masih kecil, anaknya juga masih dalam kandungan, tidak ada yang bisa diharapkan menjaganya. Ia pasti akan menjadi bapak yang galak kalau anaknya didekati laki-laki.
Setelah puas menatap wajah anaknya, Renal kemudian mencium keningnya.
"Tumbuh yang baik dan membanggakan. Daddy sayang The" ucapnya pelan sebelum menutupi badan Athena selimut hingga dadanya.
Di kamarnya, Alda sudah duduk bersandar di headbord tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Renal ikut bergabung. Ia melihat apa yang sedang istrinya kerjakan. Rupanya perkembangan rumah sakit di kota C. Brian kini di bantu Alexia karena Alda sudah tidak memungkinkan untuk kesana. Apalagi perutnya sudah besar.
"Grafiknya bagus" komentar Renal.
Alda mengangguk.
Setelah semuanya di cek, ia kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia melihat ke arah suaminya yang sedari tadi terus melihatnya.
"Kenapa?" tanyanya.
Renal menggeleng. Ia kemudian berbaring, Alda juga ikut berbaring.
"Perut kamu udah besar, dedeknya udah hampir minta dikeluarin" ucap Renal sambil mengelus perut besar Alda. Sesekali ia akan merasakan anaknya menendang di dalam sana.
"Aku bisa nggak yah?" tanya Alda khawatir.
"Kamu kuat. Kamu pasti berusaha yang terbaik. Aku percaya" jawab Renal.
Alda mengangguk. Ia menggenggam tangan Renal yang masih berada di perutnya.
"Maafin aku yah" ucap Alda.
"Untuk?" tanya Renal.
"Maaf tadi karena masalah The" cicit Alda lirih.
"Aku yang minta maaf. Seharusnya aku gak nekan kamu kayak tadi. Tapi tolong Al, tolong perhatikan Athena, jangan selalu melamun lagi yah. Be better, kita bentar lagi jadi orang tua dengan dua anak" kata Renal.
Alda mengangguk.
"Kalau anak ini lahir, kamu bakal lebih sayang yang mana? Athena atau dia?" tanya Alda.
Renal mengelus perut Alda lagi.
"Kalau bisa sayang kakaknya, adiknya dan mamanya sekaligus kenapa harus salah satunya sih. Kalian itu kesayangan nya Daddy Renal" jawab Renal sambil mengecup pelipis Alda.
Alda terkekeh mendengar jawaban serakah Renal. Benar, jika bisa semuanya, kenapa harus salah satunya.
"Kamu tidur gih, udah malam" kata Renal.
"Pengen peluk tapi gak bisa tidur miring" ucap Alda.
Renal terkekeh. Ia yang harus mengalah untuk tidur menyamping dan memeluk istrinya.