
The Falcon 900LX mendarat sempurna di bandara RelFath air. Sudah ada beberapa orang yang menunggu kedatangan mereka, juga tersedia 4 Toyota Alphard.
"Selamat datang, tuan" sapa seorang pemuda kepada Lathief.
Lathief mengangguk.
Beberapa orang dengan sigap mengambil koper bawaan dari Lathief dan para tamunya.
Satu mobil untuk para laki-laki, 1 mobil untuk para perempuan dan 2 mobil untuk orang-orang Ares yang bertugas menjadi PA untuk Lathief dan teman-temannya selama di RelFath.
"Teman kita ternyata sultan beneran. Aktingnya pantas nih diacungi jempol" sindir Erlan.
"Kalau Lathief masuk nominasi aktor terhebat, pasti dia nih yang jadi pemenangnya" Arwan ikut menyindir.
"Di kota jadi CEO, punya aset senganu. Pas buka topeng ternyata punya pulau dan isinya" James jago bener ngomong pait.
Lathief memejamkan matanya, meskipun ia tidak tidur.
"Menteri pertahanan gak ada apa-apanya mah Dimata seorang Lathief Arunika" ucap Erlan merendahkan diri.
"Hooh, apalagi aku yang cuma pilot. Mana bentar lagi resign" James ikut merendah.
"Lemes bener itu mulut" ucap Lathief setelah sekian lama diam.
"Buka topeng lah. Jangan-jangan kamu juga udah kuasain negara" tuduh Arwan.
"Kerjaannya pak Ares itu. Kalau aku yah kuasain Aina" Lathief mengaku.
"Yeuhhh, mulutnya juga lemes ternyata" Arwan menggelengkan kepalanya.
Mereka melihat sekitar. Pulau ini serasa bukan pulau, tapi negeri dongeng.
"Yang desain ini pasti pintar bener." Erlan menerka.
"Yang desain ini anak lokal. Dulu jamannya buyut, anak-anak lokal dikirim keluar untuk sekolah setinggi-tingginya. Setelah lulus, mereka kembali untuk membangun pulau ini. Kata Papa 80% isi pulau ini adalah hutan, sementara sisanya hanya lahan yang digunakan para petani untuk bertahan hidup. Gak bisa dibilang bertahan hidup juga sih, dulu ada satu kelompok yang nekan masyarakat sini, hasil panennya harus disetor ke mereka. Entah gimana bisa, buyut membeli pulau ini dengan syarat gak ada sistem pemerintahan di sini. Mereka cukup diakui sebagai warga aja, tapi tetep gak ada pemerintah." jelas Lathief.
"Kok bisa gak ada pemerintah nya? Gak ada kekacauan apa? Aman gak pulau ini?" tanya Erlan beruntun.
Lathief mengangguk.
Mereka kini memasuki kompleks RelFath.
"Lho, Na. Rumahnya keren bener" Priska berdecak kagum.
"Iya, rumahnya emang high class gitu" Aina mengiyakan ucapan Priska.
"Jadi kita nyewa rumah gitu disini?" tanya Rina.
Aina terkekeh geli.
"Kita nginap di rumahnya mertua aku" jawabnya.
"Wahhh, om Ares ternyata kaya bener" ucap Wini.
"Hooh, Win. Sampai punya rumah disini segala. Mana rumahnya keren gini, besar kayak lapangan bola. Mana resmi helipad pula" Priska membenarkan ucapan Arwini.
Mobil memasuki halaman rumah Ares. Nampak para pekerja berbaris rapi, seolah memang untuk menunggu mereka.
"Selamat datang tuan, nyonya" sapa kepala pelayan kepada Ares dan Aina.
"Terima kasih, Mi. Tolong bantu saya untuk menyiapkan keperluan mereka disini" Aina membalas ucapan Mi dengan ramah.
"Dengan senang hati, nyonya" katanya kemudian sedikit membungkuk. Ia lalu mempersilahkan tamunya untuk memasuki rumah.
Para PA yang ditugaskan oleh Ares untuk para ibu-ibu dengan senang hati mengangkat koper menuju kamar tamu yang telah disediakan.
"Mamaaaaaa" Alda memeluk Aina erat.
Aina terkekeh.
"Gimana nih liburannya?" tanya Aina.
"Amazing, ma" jawab Alda semangat.