Renalda

Renalda
17th



Karena telah selesai mengerjakan syarat yang diajukan oleh Lathief, kini kartu hitam sudah berada dalam genggaman Mika.


"Untuk apa sih kak?" tanya Alda yang begitu penasaran.


"Supaya bisa lunch dengan fasilitas VVIP, dong" bangga Mika.


"Wahhh, traktir dong" seru Rafa heboh.


"Traktir lah, Ka" Angga ikutan.


"Yooo, GC. Mari bersenang-senang dengan kartu ajaib punya papa Lathief" ucap Mika setuju.


Aina yang melihat para anak muda yang turun dari tangga pun bertanya.


"Lhoo, mau kemana?" tanya Aina.


"Mama Aina cantik, Mika minta tolong untuk bantu dia ngabisin duit papa Lathief" Rafa mulai ngaco.


Aina mendelik ke arah Mika.


"Bener kak?" tanyanya.


Mika menggeleng.


"Gak, ma. Kakak cuma diminta mereka untuk bayar makanan di resto yang katanya high class" jawab Mika.


"Iya, mama Aina cantik. Jangan mudah percaya dengan perkataan buaya yang satu ini. Cukuplah percaya Randi" kata Randi.


"Masih lama gak nih?" tanya Angga yang sudah hapal betul dengan situasi seperti ini.


"Yok berangkat" ajak Alda.


"Mama, kami pamit yah." Alda mengecup pipi mamanya diikuti yang lain.


"Hati-hati yah kalian" Aina mengantar anak-anak sampai ke mobil. Ia kembali masuk setelah mobil yang dikendarai Mika tidak terlihat.


"Anak-anak kemana, nak?" tanya Karina.


"Rafa minta lunch diluar. Jadinya mereka pergi, mumpung dipinjamin kartu ajaib, katanya" jawab Aina


"Aina, sana gih siapin jus timun buat Lathief." perintah Weni pada menantunya.


"Buat apa, ma?" tanya Aina heran.


"Kali aja kepala Lathief pusing lihat SMS yang masuk diponsel nya" jawab Weni kalem.


Dari arah luar Lathief, Hans dan Ares berjalan ke ruang keluarga.


"Ada apa nih rame-rame gini?" tanya Lathief.


"Anak-anak keluar. Minta lunch di resto nganu." jawab Aina.


Lathief mengangguk mengerti.


"Gak apa-apa, nak?" tanya Hans pada menantunya.


"Gak apa-apa lah, Abi. Toh gak setiap hari" jawab Lathief kalem.


"Mereka bakal ngapain yah dengan black card itu?" tanya Aina penasaran.


"Kayak gak tahu mereka aja gimana. Paling makan, habis itu langsung pulang" ucap Lathief miris pada kelakuan anak-anaknya.


"Mika sampai sekarang gak tahu yah gimana cara menghabiskan uang?" tanya Ares.


Lathief dan Aina menggeleng.


"Kapan hari aku pernah lihat dia cari referensi Jeep Wrangler, beberapa hari kemudian ia kirim uang ke rekening aku, di suruh beli itu mobil pake uang yang ia kirim" curhat Lathief.


"Sayang banget gak minta sama kamu yah nak" ucap Karina prihatin.


"Iya, Umma" pasrah Lathief.


Semuanya terkekeh mendengar curhatan Lathief.


Di lain tempat, para anak muda sedang menikmati waktu kebersamaan mereka.


"Raf, kamu jadi ke negara D?" tanya Angga.


Rafa mengangguk.


"Jadi. Dua pekan lagi berangkat." jawab Rafa.


"Yoo man" respon Rafa.


"Kalian jadinya ke kota C?" tanya Randi.


Mika dan Angga mengangguk.


"Alda ambil gap year?" tanya Rafa.


"Iya, Rafa. hehe" jawab Alda.


Saat sedang berbincang bincang tentang masa depan, nampak 3 orang pelayan datang membawa makanan dan beberapa jenis minuman. Dari air putih, jus hingga wine.


"Udah legal aja minum ginian" ucap Mika kalem sambil menyicip wine.


"Enak bener usia 17. Udah legal" kata Angga juga nyicip wine.


Alunan lagu selamat ulang tahun terdengar di ruang VVIP, seorang violin masuk dengan biolanya, diikuti dua orang pelayan sambil membawa kue tart yang dihias begitu keren. Jake juga ikut masuk sambil membawa kamera. Ia ditugaskan untuk dokumentasi.


Alda terkejut kemudian terkekeh.


"Pantas aja disuruh pakaian rapi gini. Mana aku diminta pakai gaun pula" ucap Alda.


"A little surprise for twins. Happy birthday, duo Arunika" Seru Rafa heboh. Ia memeluk Alda kemudian mengecup dahi sahabat kecilnya. Kemudia berhi-five dengan Mika.


Mata Alda berkaca-kaca.


"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang jugaaaaa sekarang jugaaa" nyanyi Randi, Angga dan Rafa saat alunan biola itu terhenti.


Alda dan Mika masing-masing meniup lilin yang tertancap pada kue yang dibawa pelayan tadi.


Alda begitu cantik dengan gaun selutut berwarna peach. Ia dikelilingi oleh lima orang lelaki tampan termasuk Jake yang mengenakan setelan jas dan celana jeans.


"Sorry, telat" ucap Brian dan Brandon yang baru datang.


"Yok makan" seru Alda dan Rafa.


Mereka makan diselingi cerita. Entah membahas masa lalu dan mungkin juga masa depan.


"Selfie yukk" ajak Alda pada semuanya.


"Sana Jake, Lo yang depan pegang handphone" perintah Brian.


"Sialan Lo" umpat Jake sambil menjitak kepala Brian.


Alda mengambil posisi berdiri di belakang Mika, sementara para lelaki begitu rusuh agar terlihat keren di foto.


"Udah, Jake." ucap Alda.


"Aku pengen nge-post dulu di ig"


Jari lentik Alda begitu lincah menari di layar ponsel.


"Tag kakak yah, dek" pinta Mika sambil mengelus kepala adiknya.


"Gue jugalah, Al."


"Aku pun"


"Angga juga yah, Al"


"Sekalian brandon_ , dek"


"jake17 jangan lupa"


"Brian juga yah"


Semuanya minta untuk di tag di insta story Alda.


"Habis ini pasti ponselku bakal rame" kata Alda.


"Lhoo, kenapa?" tanya Brian.


"Mereka pasti sibuk minta dicomblangin" murung Alda.


"Gak usah dibuka satu-satulah pesannya." saran Angga.


"Hooh, Al." Rafa menyetujui.