
Kapal kembali berlabuh di dermaga pulau F. Kelima anak belasan tahun itu turun dengan carrier yang masing-masing berada di gendongannya.
Seharian ini mereka berencana menghabiskan waktu di pulau F.
Mika menemui kepala desa disana, meminta izin untuk melaksanakan bakti sosial.
Kepala desa disana tentu menyambut dengan baik kedatangan mereka. Alda bahkan sudah dikelilingi anak-anak yang menggemaskan.
"Disini sudah ada sekolah belum pak?" tanya Mika.
Mereka berjalan mengelilingi kampung yang ada di pulau.
"Sudah ada, dek. SD, SMP dan SMA semuanya ada. Cuman yah begitu, kami ini terbelakang" jawab kepala desanya.
Mika mengangguk. Sesekali membalas lambaian tangan penduduk desa yang terlihat begitu senang melihat kedatangan mereka.
Setelah sampai di sekolah SD, mereka cukup kaget melihat bangunannya yang jauh berbeda dari sekolah mereka waktu sekolah. Dindingnya hanya anyaman bambu, atapnya menggunakan seng dan tentu saja beralaskan tanah.
"Sejak kapan pak sekolah ini dibangun?" tanya Rafa.
"Kurang lebih 5 tahun, dek." jawab pak kades.
"Jadi sebelum ada sekolah gimana pak?" tanya Angga yang begitu penasaran.
"Sebelum ini dibangun, anak-anak diajar di kolom rumah warga. Mereka diajar secara bergantian. Ada yang masuk siang ada yang masuk sore." jelas pak desa.
"Boleh gak pak kami ngasih edukasi singkat tentang cara cuci tangan dan sikat gigi yang benar?" Mika mencoba meminta izin.
Pak kades mengangguk dengan semangat.
"Silahkan dek" katanya.
Kebetulan anak-anak sedang istirahat. Sebuah kantin sederhana berdiri di sudut sekolah. Hanya ada 3 orang penjual.
Pak kades memandu anak-anak untuk mendengarkan arahan dari relawan yang tiba-tiba menyambangi pulau.
Anak-anak yang belum sekolah, yang tadi mengikuti Alda juga diminta untuk berbaris.
"Halo adik-adik" sapa Alda ceria sambil melambaikan tangannya.
"Halooo kakak" sapa anak-anak balik.
Mereka begitu antusias melihat kedatangan lima orang tersebut.
"Siapa yang suka makan permen?" tanya Alda.
Beberapa anak mengangkat tangannya.
"Siapa yang suka makan coklat?" tanya Alda lagi.
Banyak anak-anak perempuan yang mengangkat tangannya.
"Wah, suka yang manis-manis semua nih" kata Alda senang.
"Kumur- kumur" jawab semuanya serempak.
Alda terkekeh kecil.
"Yah, selain berkumur kita juga harus menyikat gigi. Minimal 2 kali sehari, pagi dan sebelum tidur." jelas Alda.
"Pada tahu nggak cara sikat gigi yang benar gimana?" tanya Rafa.
"Belum, kak" jawab beberapa siswa.
"Wah, pinter nih yang tahu. Yang belum tahu kita belajar sama-sama yah" kata Alda.
"YEEEEEE" teriak mereka gembira.
Mika membagikan air gelas kepada mereka. Sedangkan Angga dan Randi membagikan sikat dan pasta gigi.
Setelah semuanya kebagian, Alda dan Rafa memulai mempraktekkan cara menyikat gigi yang diikuti oleh para adik-adik.
"Nah, jangan lupa sikat giginya dibersihkan yah" instruksi Alda.
Setelah membersihkan masing-masing sikat giginya, para adik-adik hendak mengembalikan nya lagi pada Angga dan Randi.
"Ehh, disimpan aja. Untuk adik-adik agar tidak lupa membersihkan gigi" Randi membawa kembali anak-anak pada barisan.
"Sekarang kakak bakal nunjukin cara cuci tangan yang benar. Semuanya ikut yah" kata Rafa.
"Iya kakak" serempak mereka.
Rafa kembali mempraktekkan cara mencuci tangan yang baik dan benar.
"Adik-adik, jangan lupa mencuci tangan sebelum makan, setelah makan, setelah memegang benda yang kotor dan setelah bermain diluar yah."
"Iyaaa kakak" jawab semua nya.
"Nah, sebelum masuk kelas, ada yang mau makan?" tanya Alda.
"MAU"
"Sana, pesan sama mbaknya. Kak Mika lagi baik hati pengen traktir kalian" kata Alda.
Anak-anak berhamburan menuju kantin.
"Baris yang rapi. Semuanya pasti kebagian" Rafa mengatur barisan anak-anak.
Tidak banyak pelajar SD di desa ini, hanya 80 anak.
"Sebelum masuk kelas, kalian ke kakak-kakak yang disana yah" kata Rafa menunjuk Alda, Randi dan Angga yang bertugas memberikan bingkisan kepada anak-anak.
Bingkisan sederhana, hanya beberapa buah buku, pulpen, pensil, sebatang coklat dan beberapa permen.