Renalda

Renalda
With Dian



Keseharian Alda kini berubah 180 derajat. Jika selama menjadi pengangguran ia hanya duduk manis, ikut mamanya arisan, mengunjungi Priska, Arwini dan Rina secara bergantian atau marathon nonton drama dari negeri Ging seng sana. Kini yang terjadi adalah ikut memasak bersama pekerja rumahnya, membatu tukang kebun ngurusin bunga-bunga mamanya dan tak lupa berolahraga.


"Udah non, bibi aja yang masak" ucap seorang wanita paruh baya.


Alda menggeleng.


"Aku bantuin, bi" katanya kekeuh.


Ia kini sedang jongkok depan kompor, nguleg sambel untuk makan siang nanti.


"Sambelnya udah ,dek?" Tanya Aina yang baru saja bergabung.


Ya, Aina sudah terbiasa melihat pemandangan seorang gadis jongkok depan kompor sambil nguleg sambel. Awalnya ia sempat kaget. Alda memang sering ke dapur, tapi bisa dipastikan jika ia hanya akan ikut membantu mamanya dan para mama yang lain untuk membuat buat kue-kue kering. Beda cerita saat ia bangun pagi, terus mendengar obrolan di dapur, liat anak gadis yang masih make piama duduk jongkok depan kompor ulekan bikin sambel.


"Udah, ma" jawab Alda.


"Yaudah, taro sambelnya dimeja makan. Terus adek mandi dulu gih. Udah siang banget ini" titah Aina.


Alda berjalan ke kamarnya sambil bernyanyi pelan.


Sementara di dapur, bibi merasa tidak enak.


"Non Alda sudah bibi suruh keluar nyonya, eh malah ngeyel tetap mau bikin sambel" ucap bibi tak enak.


Aina terkekeh.


"Yah gak apa-apa lah, bi. Biar adek juga belajar masak, bi" kata Aina.


Setelah mandi dan makan siang, Alda hanya rebahan depan TV ruang keluarga. Apa lagi yang mesti ia lakukan, bukannya melanjutkan pendidikan malah memilih gap year, entah apa yang ada dipikirannya.


"Kok aku gabut gini yah? Apa ngajak Dian hang out aja kali yah" pikir Alda sebelum mengambil ponselnya dan menelpon Dian untuk menemaninya mengatasi ke-kurang kerjaannya.


Dian tentu saja tidak menolak saat diajak oleh Alda. Hingga mereka kini duduk cantik dalam cafe yang sedang hits sambil menikmati life musik. Di panggung mini, terlihat seorang pemuda yang duduk sambil memangku gitarnya sambil bernyanyi.


"Enak bener suaranya" komentar Dian.


"Ingat Sandi, Yan"


"Yeuhhh, kalau itumah gua gak pernah lupa kalii" kata Dian.


Alda hanya mengangguk sebagai respon atas ucapan Dian. Ia begitu menikmati lagu yang sedang dibawakan oleh pemuda itu.


Dri Ve - Akulah dia


Tak pernah berhenti


Mencari cinta


Selalu saja ada


Yang tak kamu suka


Terlalu jauh


Coba rasakan yang ada di sekitarmu


Sesungguhnya dia ada di dekatmu


Tapi kau tak pernah menyadari itu


Dia slalu menunggumu


Untuk nyatakan cinta


Sesungguhnya dia adalah diriku


Lebih dari sekedar teman dekatmu


Berhentilah mencari


Karna kau t'lah menemukannya


Dia mungkin bukan


Manusia sempurna


Tapi dia selalu ada untukmu


Hanya.. dia..


Yang t'lah mengenalmu


Dia 'kan s'lalu setia


Lirihan Alda yang mengikuti lagu yang dibawakan pemuda tadi begitu terdengar merdu ditelinga Dian.


"Lagunya ngena banget yah Al?" tanya Dian.


Alda yang fokusnya pada panggung menolah ke Dian.


"Kenapa Yan?" tanyanya.


"Suara nya bagus yah?" tanya Dian ngeles.


"Iya, adem gitu" jawab Alda.


"Ehh, gimana Yan tentang dunia perkuliahan?" tanya Alda.


Dian berpikir sejenak.


"Ada serunya, senengnya, kesalnya, komplit deh pokoknya. Gak mau nyoba tahun depan?" tanya Dian.


"Diliat nanti aja, baiknya gimana" pasrah Alda.


Seperti air yang mengalir, Alda hanya ingin seperti itu. Mengalir perlahan, mengikuti arus yang membawanya pergi. Bukan ia tak ingin berusaha, ia hanya ingin hidup tenang, setidaknya sampai ia siap dengan segala situasi yang akan terjadi di masa depan.