
Waktu berjalan begitu cepat. Seperti baru kemarin rasanya menginjakkan kaki di sekolah ini, menjadi peserta MOS, berkenalan dengan orang-orang baru, belajar di kelas, makan di kantin, berjalan di koridor sekolah, mengikuti event yang sesuai dengan bakat. Canda, tawa, sedih, suka dan duka akan menjadi kenangan di masa SMA, akan menjadi hal yang paling akan dirindukan.
"Papa udah datang belum yah?" bisik Alda pada Mika yang berdiri disebelah nya.
Mika mengelus kepala adiknya, mencoba menenangkan.
"Bentar lagi papa dan mama datang, kok" kata Mika.
Dari pintu aula, seorang lelaki dewasa diikuti anaknya berjalan mendekat ke arah Alda dan kawan-kawan.
"Ohh, jadi ini yang berani nampar anak saya kapan hari?" seloroh bapak tadi.
"Iya pa. Rafa nampar Andini karena membela anak pansos itu." Andini mengadu pada sang bapak, Doddy.
Doddy mengikuti arah telunjuk anaknya. Ia memperhatikan Alda dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.
Alda yang merasa ditatap pun cukup diam dan tenang. Tak merasa terintimidasi sama sekali.
"Kamu siapa? Anak beasiswa kan yang cuman kebetulan berteman dengan anaknya pak Arunika" cemooh Doddy pada Alda.
Alda mengangguk.
"Ia pak, saya anak beasiswa" jawabnya tenang.
"Enak bener cuman modal otak doang bisa menggaet para lelaki kelas atas. Matamu cukup jeli bisa melihat bibit-bibit unggul kelas atas ini" sarkas Doddy.
"Alda mending punya otak untuk diandalkan, pak. Anak bapak modal aja gak punya. Cantik nggak, pintar tentu saja tidak dan pastinya bad attitude" Rafa berbicara dengan tenang.
"Bapak tenang aja, Alda nempelin kami pun gak bikin beras di rumah bapak kurang kan?" sarkas Mika pada Doddy.
Ia begitu ingin menghilangkan sosok didepannya ini.
"Ingat pak, sebanyak apapun harta, gak akan bernilai kalau attitude gak punya" sambung Mika.
"Berani sekali kalian berkata-kata di depan saya. Saya akan aduin kalian kepada pak Arunika karna kalian sudah tidak sopan." ucap Doddy emosi.
"Aduin aja, pa. Papa kan temannya pak Arunika" Andini mendukung Doddy.
"Udah-udah. Ayo, kita cari tempat duduk aja. Gue dapat pesan kalau para orang tua sudah di depan" ucap Angga melerai .
Tanpa berkata-kata, mereka berlima meninggalkan Doddy untuk mencari tempat duduk yang telah disediakan oleh pihak sekolah sesuai kelas mereka.
Karna ditinggalkan begitu saja, Doddy merasa begitu marah.
"Kurang sopan sekali mereka." katanya.
"Nah, papa lihatkan" Andini mengompori.
Pembawa acara mulai membuka acara hari ini. Beberapa sambutan dilakukan oleh Pemilik Yayasan, kepala sekolah hingga wakil kepala sekolah bagian kesiswaan. Selain pengumuman kelulusan, juga akan diumumkan peserta ujian terbaik.
"Sebelum kita mendengar pengumuman, mari kita sama-sama berdoa sejenak, mengucap syukur kepada Tuhan dan melangitkan harapan semoga Tuhan membantu mewujudkan" ucap pembawa acara tersebut.
Aula dalam keadaan hening. Masing-masing melangitkan doanya. Berharap hal-hal baik selalu membersamai.
"Tibalah kita pada inti acara, silahkan para siswa membuka amplop cinta yang ada di depan masing-masing. Boleh juga meminta orangtuanya untuk membuka" aba-aba dari pembawa acara.
"Papa mau buka punya adek?" tanya Alda pada sang papa.
"Gak ahh, adek buka sendiri. Apapun hasilnya, papa dan mama bakal selalu bersyukur punya kalian" ucap Lathief.
Alda membuka amplopnya, terlihat deretan nilai yang begitu memuaskan.
Mika mengintip amplop Alda.
"Wah, aku kalah 1 poin nih" bisik Mika yang terdengar oleh Lathief dan Aina.
"Wahhh, selamat yah dek. Kakak juga" ucap Aina.
"Makasih mama, papa" kata twins barengan.
"Panggilan kepada Renalda AA, Mika Arunika dan Rafa untuk segera naik keatas panggung yang telah disediakan"
Alda, Mika dan Rafa berjalan keatas panggung, kemudian duduk di kursi yang telah disediakan.
Semua orang berdecak kagum melihat layar dimana nilai ketiga orang tersebut dipertontonkan. Bukan hal yang baru melihat mereka menjadi yang terbaik. Posisi satu dua selalu menjadi milik Alda dan Mika sementara posisi ke tiga kadang berganti, kalau bukan Rafa yah Angga.
"Gila sihhh, nilai sempurna" bisik-bisik mulai terdengar.
"Gak heran, circle mereka yang menduduki kursi diatas"
"most wantednya Maheswari ini mah. Gak heran coyy"
Bisik-bisik mulai terdengar di aula Maheswari. Berdecak kagum atas pencapaian ke-tiga most wanted itu.
"Para orang tua atau wali dari ananda Alda, Mika dan Rafa mohon untuk menyusul anak-anaknya ke atas panggung"
Lathief dan James dengan gagah melangkah menuju panggung, duduk disofa bersama sang anak.
"Alda, walinya gak datang?" tanya Pak Zul selaku pembawa acara.
"Saya yang waliin, pak" jawab Lathief.
Keriuhan mulai terdengar lagi. Ada apa gerangan sehingga Lathief Arunika dengan santainya menjadi wali Alda. Atau jangan-jangan Alda adalah anak Lathief dari wanita lain. Berbagai persepsi mulai muncul di kepala masing-masing. Tapi Lathief dengan tenangnya mengelus kepala Alda, merapikan poni sang anak.
"Pak James, hal rahasia apa yang anda lakukan sehingga bisa memiliki anak seperti Rafa?" tanya Pak Zul.
James terkekeh mendengar pertanyaan yang diajukan oleh pembawa acara.
"Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua. Apa rahasianya mendidik seorang Rafa? Yah, gak ada. Saya mendidik mereka seperti orangtua pada umumnya. Memfasilitasinya untuk sekolah, membiarkan Rafa mengatur waktunya sendiri dan cukup mendukung hal-hal baik yang ia akan lakukan. Kalau kita bicara rahasia, saya rasa saya tidak punya rahasia atau trik khusus sehingga Rafa bisa seperti sekarang." jawab James santai.
"Kalau Pak Lathief mungkin ada trik khusus mungkin pak"
Lathief mengangguk.
"Seperti yang dikatakan oleh saudara James tadi, saya juga tidak punya trik khusus dalam membesarkan anak-anak. Semuanya berada dalam kendali mereka. Ingin belajar, bermain, berolahraga, liburan, semuanya mereka yang atur. Saya sebagai orang tua tahunya anak-anak aman, nyaman dan merasa cukup. Terima kasih kepada bapak Maheswari telah mendirikan sekolah ini, kepada para dewan guru yang bertugas mencetak penerus bangsa, kepada rekan-rekan semua yang turut andil dalam dunia pendidikan. Anak-anak saya, Mika dan juga Renalda gak akan keluar dengan nilai memuaskan tanpa campur tangan dari dewan guru, dari sistem sekolah dan juga dari penegak kedisiplinan. Terimakasih."
'Anak-anak?'
'Mika dan juga Renalda?'
'jadi Alda ini sodaranya si Mika?'
Bisik-bisik kembali saling sahut menyahut mendengar fakta jika Alda adalah seorang Arunika.
"Lhoo, jadi Renalda ini anaknya pak Lathief?" tanya pak Zul.
"Iya, pak. Anak saya yang kedua" jawab Lathief diplomatis.
✨✨✨
Setelah pengumuman kelulusan, Alda dan kawan-kawan membawa keluarganya berdiri di depan gerbang sekolah untuk berfoto.
"Ini hari terakhir kita pake putih abu-abu, mari buat kenangan" ucap Alda.
Brandon dengan sigap memotret, mengabadikan moment hari ini.
Alda juga tentu saja tak lupa berfoto dengan teman kelasnya, temannya di OSIS dan tentu saja bersama Dian.
"Alllll, proud of you." Dian memeluk Alda erat.
"Apa sih Yan. B aja" ucap Alda.
Banyak adik kelas yang meminta foto bareng dengan para most wanted. Beberapa memberikan bunga mawar kepada idolanya yang kini resmi menjadi alumni.
"Kak Aldaaaaaa, selamat" Angel memeluk Alda erat.
"Angel, semangat belajarnya" kata Alda.
"Nih, Angel bawa bunga untuk princess Alda" Angel memberikan setangkai mawar putih pada Alda.
"Thank you, Angel" ucap Alda sambil menerima bunga yang diberi Angel.
Sudah banyak sekali bunga yang Alda terima hari ini. Ia begitu senang atas rasa antusias para adik kelasnya. Beberapa mungkin ada yang tidak menyukai Alda, tapi sebagian besarnya begitu mengidolakan sosok Alda.