
Alda sedang disibukkan dengan aktivitas paginya. Memilihkan baju kantor untuk Renal, mengingatkan anak-anaknya tentang jadwal harian.
"Selamat pagi, mom" sapa seorang gadis yang terlihat begitu cantik diusianya yang sudah 13 tahun.
"Selamat pagi, sayang" Alda menyempatkan mencium pipi anaknya sebelum kembali ke belakang mengambil sarapan.
Tak lama, Nevan datang. Bocah 9 tahun itu sudah tinggi semampai. Nyaris menyamai tinggi kakaknya.
"Maaf, daddy lama" ucap Renal yang baru datang dan langsung duduk di kursinya.
Sarapan berlangsung seperti biasa, sesekali terdengar beberapa pertanyaan dari Renal yang dijawab oleh Athena atau Nevan.
Hari ini adalah hari pertama Athena memasuki sekolah dengan jenjang yang lebih tinggi, yaitu SMA. Ia tentu saja bersekolah di Maheswari High school. Tidak seperti dulu, akan dilakukan MOS pada siswa baru, sistemnya berubah seiring waktu.
"Kak, diantar supir sama adiknya yah?" tanya Renal.
Athena menggeleng. Ia memperlihatkan layar ponselnya, jika ojek pesanannya sudah menunggu di depan.
"Hati-hati lho yah." ucap Alda khawatir.
"Siap, mommy. The berangkat. Bye Daddy, dek Nevan" ucap Alda.
Renal tak perlu khawatir. Min dan teman-temannya masih bertugas menjaga Athena.
"Daddy berangkat yah. Ayo, Dek" Renal mencium kening Alda, kemudian menunggu Nevan pamit pada mommy nya.
"Jangan lupa yah hari ini kita kumpul dan kunjungan" ucap Alda mengingatkan.
Kedua lelaki beda usia itu hormat.
"Siap mommy."
Alda tertawa.
Ada banyak hal yang terjadi selama sembilan tahun terkahir. Luna meninggal, tak lama setelahnya pasangan sejoli Hans-Karina juga menyusul, kematiannya persis seperti besannya. Meninggal dihari yang sama. Angga sudah menikah. Beberapa bulan setelah Angga menikah, Arwan dan Arwini kecelakaan saat akan menghadiri pertemuan antar dokter se kota A di sebuah hotel, keduanya mati ditempat. Randi sudah memiliki seorang putra, Erlan sudah pensiun dan Priska menghabiskan waktunya untuk bermain dengan sang cucu.
Sembilan tahun bukan waktu yang sebentar, ada banyak kisah di dalamnya. Beberapa kali Alda harus merasakan kehilangan dan beberapa kali pula Tuhan menggantinya dengan hal yang membahagiakan. Angel dan Rian memilih menetap di Turki, di tempat Mr. Gio dan Luna dulu.
Tok tok tok
Ada orang di depan. Ternyata Aina.
"Sendirian?" tanyanya.
"Sama mbak-mbak, ma" jawab Alda yang mengundang tawa sang mama.
"Kita ngumpulnya disini aja yah?"
"Di rumah mama kenapa?" tanya Alda.
"Kangen aja lihat rumahmu berantakan. Habisnya cucu-cucu mama udah pada besar, gak ada yang berantakin"
Alda tertawa mendengar jawaban mamanya.
"Yaudah, mau masak apa nih?" Alda merapikan pekerjaannya, kemudian membawanya ke ruang kerja Renal, disana tempatnya lebih aman.
"Kita bikin Coto kali yah. Terus bikin buras. Di belakang ada daun pisang kan?"
Alda mengangguk. Pekerja rumahnya begitu gemar menanam tanaman. Entah bunga, sayuran atau pisang. Bagian belakang rumahnya yang dekat dengan paviliun sudah penuh. Ada pohon mangga juga rambutan yang berbuah lebat.
Alda dan Aina memasak dibantu mbak-mbak di rumah Alda.
"Maaf, Ivana telat" ucap Ivana sambil nyengir. Ia langsung aja menuju dapur.
"Wahh ma, menantunya telat tuh" goda Alda.
"Sini mama hukum kasih ciuman"
Ivana benar-benar mendekat dan mendapat ciuman di pipinya oleh sang mertua.
Mereka lalu tertawa. Mbak-mbak disana juga ikut tertawa. Keluarga mereka benar-benar hangat. Kebahagiaan selalu terpancar disetiap mata orang-orang ini.