
Minggu sore.
Alda sudah siap untuk berangkat. Rumahnya kini ramai. Ada orang tuanya dan kakaknya. Ada papi James dan mami Rina, orang tua Rafa. Ada mama Priska dan papa Erlan, orang tua Randi. Dan tak lupa pasangan dokter bedah, yakni Arwan dan Arwini serta sang anak, Angga Prayudha.
"Yang antar adek, siapa nih?" Tanya Alda.
Semua orang angkat tangan. Alda menghela nafasnya.
"Gak deh. Adek diantar sama kakak aja." Putusnya.
"Ohh tidak bisa wahai adek. Abang Rafa juga ikut." Rafa menolak.
"Angga juga ikut" Angga nimbrung.
"Dan tentu saja Kakak Ran juga ikut." Randi dengan sigap menarik koper Alda.
Alda berpamitan pada sang mama. "Ma, adek tinggal yah" ucapnya.
Aina mengangguk. "Jum'at sore pulang yah." Katanya sambil mencium wajah sang anak.
Alda mengangguk. Kemudian berjalan ke arah sang papa. "Pa, bagi uang dong" katanya cengengesan.
Tanpa pikir panjang sang papa, Latief mengeluarkan dompetnya. Memberikan 5 lembar uang pink kepada sang anak. "Di beri kartu kredit kok gak pernah dipakai?" Cibir Halim kemudian mencium kening sang anak.
Sementara tanpa diminta James, Erlan dan Arwan masing-masing menyodorkan duit pink yang entah berapa lembar pada sang anak gadis.
"Ini uang jajan sampai pekan depan. Kalau kurang, minta sama papi James." Celetuk Arwan.
Alda menerimanya kemudian mencium pipi dokter bedah tersebut. "Terimakasih papa Arwan."
Alda kemudian berjalan ke arah James dan Erlan. "Alda pamit yah." Katanya.
"Anak gadis papi beneran jadi anak asrama nih" goda James.
Alda tertawa. "Iya dong papi. Biar strong" jawabnya.
"Ini papi tambahin duit jajan biar nih pipi makin comel" James menyodorkan uang pink kepada anak tetangganya tersebut. Tanpa malu Alda mengambilnya kemudian mencium pipi James.
"Di asrama janga lupa makan yah, nak. Jaga diri juga. Rajin belajar." Erlan memberikan petuah sambil memeluk anak gadis tunggal kompleks itu.
Alda mengangguk. Kemudian berjalan kearah para mama. Nampak mata Priska sedang berkaca kaca. Sementara Arwini dan Rina dengan wajah murungnya.
"Anak gadis mama baik baik yah." Ucap Priska.
"Setiap Jum'at sore mami bakal kirim Angga untuk jemput adek" Rina melanjutkan.
"Skincare nya jangan sampai lupa di pakai yah. Biar makin glowing." Peringat Arwini.
Alda mengangguk. "Terimakasih mama mama sekalian. Adek pamit yah" Alda memeluk mereka bergantian kemudian berjalan ke arah Nissan GT-R berada.
"Enak banget jadi anak gadis tunggal kompleks" cibir Rafa setelah Alda berhasil mendudukkan dirinya di kursi penumpang samping kemudi.
"Enaklah, tinggal nunjuk sim salabim langsung ada di depan mata" Alda menanggapi.
"Dapat berapa duit kamu dek?" Mika kepo.
"R.A.H.A.S.I.A" Alda menjawab.
"Gak usahlah bawa duit banyak. Di asrama gak ada supermarket" Angga bersabda.
"Kan bisa singgah dulu bapak Angga" bela Randi.
Alda mengangguk. Membenarkan ucapan Randi.
✨✨✨
Jam sudah menunjukkan angka 4 sore lewat beberapa menit. Di pintu gerbang asrama sudah ada Dian yang menunggu Alda.
Alda berlari dan memeluk Dian dengan erat. "Halo teman kamar" sapanya.
"Halo juga teman kamar." Dian berteriak girang.
Dari arah belakang Mika di ikuti tiga tetangganya yang juga merangkap menjadi sahabatnya berjalan menuju Alda.
"Dian, gue titip Alda yah." Kata Mika.
"Aman Mik. Alda sama gue." Balas Dian yakin.
Mika mengangguk. "Dek kakak dan yang lain pamit yah. Setelah merapikan barang-barang adek istirahat" Mika mengingkatkan.
Alda mengangguk. Memeluk sang kakak, Rafa, Randi dan Angga.
"Makasih yah udah antar Alda kesini" ucap Alda.
Mereka semua mengangguk. Sebelum meninggalkan Alda tak lupa mereka mencium wajah anak gadis tunggal kompleks itu.
"Sedekat itu Lo Al dengan mereka?" Tanya Dian.
"Iya Dian." Jawab Alda pendek.
"Yok kita masuk. Alda belum beres-beres" ajaknya.
Dian berjalan diikuti Alda. "Tahu gak Al, pekan kemarin Sandi nembak gue." Curhat Dian.
"Wah, terus terus?" Alda antusias mendengar curhatan Dian.
"Terus gue terima. Tiga bulan ini sikapnya Sandi juga gak neko neko."
Alda mengangguk. "Cieee udah gak jomblo. The power of surat cinta" goda Alda.
Dian terkekeh. "Yah gimana lagi. Udah nyaman ada yang perhatiin." Ucap Dian malu.
Tak terasa waktu makan malam tiba. Beberapa meja panjang tersusun rapi, pun dengan kursinya. Setiap 1 meja terdiri dari 6 kursi. Tiga pasang kursi saling berhadapan. Alda dan Dian duduk di meja pojok ruang makan asrama.
"Gimana Al rasanya makan malam tapi gak sama keluarga?" Dian bertanya.
Alda menelan makanannya perlahan, kemudian menjawab "gak seburuk yang Alda bayangin. Ada banyak orang disini, dan itu membuat Alda gak kesepian."
Dian mengangguk mengerti. Apa yang perlu mereka khawatir kan di tempat ini. Makanan yang enak, tempatnya nyaman dan bersih dan juga tentu saja ada banyak orang disini.
"Maaf Yan, aku lama" ucap seseorang yang duduk disebelah kanan Dian.
Dian kini diapit oleh Alda dan Sandi. Yah, lelaki itu adalah Sandi.
Dian mengangguk. Memilih mengabiskan suapan terakhirnya.
"Duduk gih." Perintah Dian ke tiga orang lainnya. Renal mengambil tempat duduk persis dihadapan Alda. Alex dan Rian disebelahnya.
"Hai kak Al" sapa mereka barengan.
Alda tersenyum. "Hai kalian" sapanya kembali.
"Makan gih, keburu makanannya dingin" ucapnya kembali.
Empat orang lelaki yang berada di meja itu makan dengan khidmat. Sementara Alda dan Dian memilih bercerita.
"Kak Al sejak kapan masuk asramanya?" Tanya Sandi setelah acara makannya selesai.
"Baru sore tadi, San." Jawab Alda.
"Kalian sejak kapan tinggal di asrama?" Alda bertanya balik.
"Sekitar dua bulan yang lalu" jawab Alex.
"Cukup lama ternyata." Respon Alda.
"Jangan jangan Dian ikut masuk asrama karna ada Sandi, yah?" Goda Alda.
Dian mencibir sementara Sandi terkekeh.
"Betul tuh kak" Rian ikut menggoda pasangan baru itu.
"Gak gitu yah." Sangkal Dian.
"Papa lagi ada project di luar kota hingga 4 bulan ke depan. Dan mama otomatis ngikutin papa. Daripada gue kesepian di rumah, lebih baik gue masuk asrama lah" jelas Dian.
Seisi meja mengangguk.
"Benar Yan, bukan karena Aku?" Goda Sandi kepada sang pacar.
"Dibilangin juga." Sewot Dian dengan muka merahnya.
Sementara Renal diam memperhatikan Alda.
"Nal, matanya minta dicolok yah?" Ucap Alex.
"Hah?" Bingung Renal.
"Itu, mandangin kak Al terus." Alex buka kartu.
Alda yang merasa namanya di sebut pun menghentikan sejenak game-nya.
"Kenapa Lex?" Tanya Alda.
"Itu kak, Ree....rree.. Akhhh" baru saja Alex akan menyebut nama Renal, kakinya sudah jadi korban injakan.
"Itu, tadi Renal memperhatikan kakak terus" dengan mulut lemesnya Rian melanjutkan ucapan Alex yang terpotong tadi.
"Lemes banget itu mulut" bisik Renal.
"Emang iya Ren?" Tanya Alda.
Renal bingung. "Hmmm, tadi diatas kepala kak Al ada lalat. Iya lalat" ucap Renal ngeles.
"Iyain kak Al" seloroh Sandi sambil tertawa mengejek ke erah Renal.
"Lalat lalat" celetuk Rian dan Alex barengan.
"Ada lalat yah. Kok Alda gak ngerasain yah?" Alda dengan polosnya bertanya.
"Lalatnya udah pergi kok, Al" kata Dian.
Alda mengangguk.
"Yan, Alda boleh nggak pamit ke kamar duluan?" Tanya Alda.
Dian mengangguk. "Emang bisa?"
"Yah bisalah. Tinggal lurus doang kan." Kata Alda kemudian berdiri dari duduknya.
" Gak apa-apa emang? Gue masih belum mau balik ke kamar loh ini." Dian kembali bertanya.
"Gak apa-apa Dian. Suwer dehh" Alda meyakinkan sambil mengangkat dua jarinya.
"Gue anter deh kak" Renal menawarkan diri.
"Gak usah Ren" tolak Alda .
"Yaudah, Ren tolong anterin Alda, yah" Dian memberi perintah.
Renal mengangguk. "Gue anter kak"
"Yaudah Yan, Alda pamit yah. Selamat malam semuanya" pamit Alda kepada yang lainnya.
"Selamat malam" serentak Alex dan Rian.
Tak sampai 7 menit mereka berjalan, tibalah mereka di depan kamar dengan nomor 09.
"Makasih yah Ren, udah anterin Alda. Padahal balik sendiri juga gak apa-apa. Maaf ngerepotin" ucap Alda tak enak hati .
Renal mengangguk. "Santai kak." Katanya.
"Masuk gih. Sleep tight" Renal memutar tubuh Alda agar segera memasuki kamarnya.
Alda kembali berbalik. "Selamat malam dan selamat beristirahat, Ren" katanya kemudian memasuki kamar 09 itu kemudian menutup pintunya.
Renal sejenak memandangi pintu yang baru saja tertutup tersebut. Perlahan bibirnya melengkung indah.