
Di ruang tunggu, terlihat Alda yang sudah berantakan. Matanya begitu sembab, wajahnya juga sudah tidak karuan. Disebelahnya ada sang mama mertua.
Renal duduk bersimpuh depan Alda.
"Ada apa? Kenapa?" tanyanya lirih.
"Athena, Ren." jawab Alda lirih.
"Athena kenapa? Aku udah ingatin kamu untuk minta supir menjemputnya"
"Aku udah minta supir menjemputnya. Seseorang mencelakainya di sekolah"
"Maafin aku" ucap Renal.
Alda mengangguk. Ia menepuk space kosong dekatnya, meminta Renal duduk disebelahnya.
"Siapa yang tega bikin celaka anak sekecil itu?" pikir Renal.
"Aku juga gak tahu, Ren. Athena gadis manis. Kenapa ada orang yang mau mencelakainya." Alda tak habis pikir.
"Apa kata dokter?" tanya Renal.
Alda menggeleng. Ia belum mendapat kabar terbaru dari anaknya selain persiapan transfusi darah yang harus segera dilakukan.
"Maaf terlambat." ucap Jake yang baru saja tiba.
"Bang Jake, tolong Athena-ku" pinta Alda.
Jake mengangguk. Ia meminta suster untuk segera mengambil darahnya.
"Kami terlalu banyak berhutang padamu, Jake" ucap Aina yang duduk di samping brankar Jake.
"Ini bukan apa-apa, nyonya."
"Ini sudah kedua kalinya kami meminta darahmu untuk Athena. Semoga tidak ada yang ketiga kalinya." harap Aina.
"Semoga nona kecil selalu dalam lindungan Tuhan." ucap Jake tulus.
"Ayahmu sekarang ada dimana Jake? Bukannya tadi ikut ke kota A bersamamu?"
"Ayah sedang menemani tuan Lathief menemui orang yang mencelakai nona kecil"
"Kamu tahu orang itu?"
Jake mengangguk.
"Mama kandung nona kecil. Di CCTV terlihat, perempuan itu menjambak rambut nona kecil, kemudian menyeretnya dan mendorongnya ke jalan" jelas Jake emosi.
"Cucuku, Athena-ku" Aina menangis. Ia tidak bisa percaya ini. Kenapa ada orang setega itu.
Jake yang masih sedikit lemah tidak bisa berbuat apa-apa.
Pintu ruang tindakan terbuka. Sebuah brankar dimana ada seorang anak diatasnya di dorong menuju ruang perawatan intensive care unit.
Alda dan Renal yang melihat kepala anaknya kembali dililit perban, juga beberapa bagian tubuhnya yang lain yang tertutupi perban tiba-tiba merasakan lemas. Alat pembantu pernapasan juga terpasang dan beberapa kabel lainnya yang mereka tak mengerti.
"Maaf beribu maaf kami ucapkan bapak dan ibu, kami tidak bisa membantu banyak anak kecil tadi melewati masa kritisnya. Tadi kami hanya sempat menghentikan pendarahan dikepalanya. Rupanya pendarahan itu membuat dia kritis. Mari kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan anak itu. Anak itu sungguh kuat. Napasnya sempat terhenti, tapi kembali berdetak beberapa saat kemudian meskipun dalam keadaan kritis." jelas dokter.
Renal hanya mampu mengangguk. Sedangkan Alda sudah luruh di lantai.
"Kenapa sayang?" tanya Aina yang baru keluar dari ruangan Jake. Ia memperbaiki perasaannya sebelum meninggalkan Jake.
"Athena kritis, ma" jawab Renal sambil membantu istrinya untuk duduk di sofa.
Aina memeluk anaknya.
"Sabar yah sayang." ia mengelus rambut anaknya yang sudah berantakan.
Hari sudah malam, Renal meminta Alda dan Aina untuk pulang. Aina tentu saja butuh istirahat, dan Alda ada Nevan yang masih membutuhkan ASI nya.
Tidak lama setelah kepergian Alda dan Aina, Lathief datang.
"Bagaimana keadaan cucuku?" tanyanya langsung.
"Athena kritis, pa." jawab Renal lirih.
Lathief menghela napasnya.
"Lain kali jangan pernah matiin ponsel dalam keadaan apapun. Meeting sepenting apapun atau kamu akan menyesal jika hal yang sama terjadi. Paham?"
"Paham, pa. Maaf" ucap Renal.
"Tahu nggak, papa pernah kehilangan tender seharga puluhan triliun karena papa tiba-tiba ninggalin ruangan?"
Renal menggeleng.
"Saat itu ponsel papa bunyi. Telpon dari sekolahnya anak-anak. Yaudah papa ninggalin ruangan terus ke sekolah mereka. Ternyata sampai di sekolah gurunya laporin kalau Mika nonjok Randi karena adiknya digangguin." cerita Lathief yang diakhiri dengan tawa kecil.
"Sampai sekarang papa gak lupa itu. Dan papa gak pernah nyesal. Apalah arti puluhan triliun jika anak-anak dan istri kesusahan, merasa diabaikan."
"Terima kasih, pa untuk pembelajarannya. Papa jangan sungkan untuk tegur Renal kalau Renal lalai jadi kepala rumah tangga"
Lathief menepuk bahu menantunya.