
Lathief bolak balik mengecek ponselnya. Ia heran, sekarang sudah 180 menit sejak ia meminjamkan black card itu pada anaknya, tapi sampai sekarang belum ada satupun notifikasi yang menandakan black card itu terpakai.
"Lathief, ada apa?" tanya Hans.
Sejak tadi Hans dan Ares melihat Lathief mondar mandir, sesekali menggaruk kepalanya.
"Anak-anak main kemana yah?" Lathief balik bertanya.
"Papa kira kenapa, ternyata sedang mikirin anak-anak" cibir Ares.
"Kamu khawatirin anak-anak atau uang kamu?" tanya Hans.
"Nah, makanya itu Pa. Anak-anak sudah pergi lama tapi Lathief belum terima notifikasi apapun" jelas Lathief.
Hans dan Ares terkekeh mendengar perkataan sang anak.
"Gak usah pusing lah, paling mereka lagi haha hihi. Khawatir banget uangnya gak kepake" Abraham muncul dari pintu.
"Selamat siang, tuan" sapa Abraham pada Ares dan Hans.
"Abraham, apa kabar?" tanya Ares menjabat tangan Abraham.
"Saya sehat, tuan" jawab Ares sopan.
"Brian dan Brandon kemana?" tanya Hans.
"Mereka menyusul ke tempat tuan dan nona muda, tuan Hans" jawab Abraham.
Percakapan hangat terus berlanjut di kediaman Lathief.
Sementara di rumah nomor 09, Rian membuka mulutnya lebar. Ia benar-benar terkejut melihat story Alda.
"REEEN,BUKA HP GC!" teriak Rian tak santai.
"Apa sih, Yan?" tanya Renal mempause gamenya.
Mereka kini tengah berkumpul di rumah Renal. Rian rebahan di kasur, sedangkan Renal dan Alex duduk di sofa bermain PlayStation.
"Liat story nya bang Mika gih!" suruh Rian.
Dengan malas Renal mengambil ponselnya, membuka aplikasi itu untuk melihat story Mika.
Renal terdiam begitu melihat sebuah foto dengan keterangan "Me and Mika's birthday" di bagian bawah foto, tak lupa nama-nama orang yang ada didalam foto itu.
"Kaget kan Lo?" sarkas Rian.
"Apa sih Yan?" tanya Alex penasaran. Ia beranjak dari duduknya, mendekat ke arah Renal.
"Lo gak tahu kak Alda ultah hari ini?" tanya Alex.
Renal menggeleng.
"NOOB banget jadi laki" cibir Alex yang dihadiahi timpukan bantal.
"Sandi chat gua, katanya ia sedang menemani kak Dian beli cake untuk surprise kak Alda nanti malam" kata Rian.
"Yaudah Ren, kita nebeng kak Dian aja ke rumahnya bang Mika" Alex memberikan saran.
"Boleh tuh Ren" Rian setuju.
Renal mengangguk.
"Gue ke bawah dulu deh, tanya mama"
Rian beranjak dari sofa, hendak turun menemui sang mama.
"Tanya apa Ren?" tanya Alex.
"Perempuan sukanya apa" jawab Renal polos.
Renal menuruni anak tangga rumahnya. Terlihat Angel tengah bermanja-manja dengan Dina sambil nonton cartoon yang tentu saja Renal tebak itu adalah pilihan Angel.
Renal menjitak kepala Angel.
"Jauh-jauh Lo dari mama gue" katanya.
Angel mengelus kepalanya.
"Sakit tahuuu" rengek Angel.
Dina mengelus kepala Angel dengan sayang.
"Kenapa sih, nak? Tengkar teruuus"
"Angel tuh ma" adu Renal.
"Gak yah. Orang lagi nonton kok" bantah Angel.
Dina menarik kuping anaknya yang kini sedang duduk disampingnya.
"Ampun, ma" rengek Renal.
Merasa kasihan melihat kuping anaknya yang merah, Dina melepaskan tangannya.
"Ma, cewek biasanya suka apa?" tanya Renal sambil yang memeluk mamanya dari samping.
"Wah wah wah, ada kemajuan nih" ledek Angel.
"Apa Lo? Sana jauh-jauh" usir Renal.
"Ma Diiiin" rengek Angel.
Dina merangkul keduanya supaya berhenti bertengkar.
"Kenapa nak, kok tumben bertanya?" heran Dina.
Renal menggaruk dahinya, ia kini salah tingkah.
"Anaknya pak Arunika ulang tahun. Sebaiknya Renal kasih mereka kado apa ya Ma?" tanya Renal.
"Jadi kak Alda ulang tahun?" tanya Angel.
"Bang Mika juga kaliii" tambah Renal.
"Selera tiap orang itu beda, bang. Perempuan juga gak sama, masing-masing punya hal yang disukai." jelas Dina.
"Beliin case ponsel aja, Ren. Lucu tahuu kalau kak Alda pake case ponsel unyu unyu" Angel memberikan saran.
"Buat bang Mika?" tanya Renal.
"Kasih sepatu aja" Angel kembali memberikan sarannya.
"Gue yakin sepatunya bang Mika udah numpuk"
"Daripada gak ngasih kado, kan Lo bakal malu sendiri" cerca Angel.
"Iya, apapun itu mereka pasti senang kok. Mama lihat mereka itu sederhana, gak neko-neko" Dina setuju.
"Yaudah, Renal keluar dulu. Angel, diatas masih ada Alex dan Rian, sana gih main" suruh Renal.
"Ogah" Angel nolak.
"Lebih baik manja-manja aja bareng mama Diin"
Angel tiduran dengan paha Dina sebagai bantalnya.