Renalda

Renalda
Nenek Lampir



Setelah mampir ke cafe untuk mengisi perut dengan bonus mendengar suara merdu seorang pemuda, kini Alda menyeret Dian ke salah satu pusat perbelanjaan di kota A.


"Al, gue ke toilet bentar yah" kata Dian.


Alda mengangguk.


"Aku tunggu di sofa sana" tunjuk Alda pada sebuah sofa panjang yang memang disediakan oleh pihak Mall untuk pengunjung.


Alda dengan tenang memainkan ponselnya sembari menunggu Dian.


"Woii teman-teman, lihat deh. Anak simpanan sedang duduk sendiri" seru seorang perempuan yang terlihat begitu mevvah dengan segala pakaian yang menempel pada tubuhnya.


Alda menoleh ke sumber suara. Andini. Orang yang pernah mencari masalah dengannya.


"Gimana, Din? Maksudnya gimana?" tanya seorang perempuan yang datang bersamanya.


"Lo pada tahu gak sih, dia ini anak simpanannya pak Arunika." Heboh Andini.


"Pak Arunika yang pengusaha itu?" tanya temannya yang satu lagi.


"Iyalah, selain dia siapa lagi coba." sewot Andini.


"Pede bener jalan-jalan padahal anak simpanan" ucap perempuan yang mengenakan baju merah.


"Nah kan, Lo baru ketemu aja udah pengen maki. Gimana gue yang satu sekolah dengan dia. Asal Lo tahu yah, ia yang statusnya sebagai anak simpanan aja belagu, mana akrab banget pula dengan Mika and the geng" Andini kembali mengeluarkan bisanya.


Alda hanya diam, melihat dan mendengar ucapan nyeleneh tiga perempuan di depannya.


"Wah, gak mikirin apa gimana perasaan Mika dan mamanya?" tanya yang pake baju dengan emosi.


"Bahkan nih anak tinggal tuh di rumah nya Mika" beritahu Andini.


"Wah, fix nih gak punya perasaan" maki yang pakai baju merah.


Mendengar keributan, Dian berjalan lebih cepat ke sumber keributan. Ada beberapa orang yang bahkan ikut menonton adegan dimana seorang gadis sedang dimaki oleh tiga gadis lainnya.


Alda tentu saja tidak sendiri, ia tahu beberapa orang ditugaskan menggantikan Brian dan Brandon untuk mengikuti nya. Sejak Andini dan kawan-kawannya mengeluarkan ucapan nyeleneh nya, orang suruhan papanya sudah meminta izin untuk bertindak. Tapi Alda cegah dengan mengirimkan pesan pada mereka.


"Lhoo Al, kenapa?" tanya Dian.


"Ehh, cantik. Jangan mau berteman dengan anak simpanan kayak dia. Nanti Lo ikut tertular busuk kayak dia" pesan perempuan yang bajunya warna merah sambil menunjuk Alda.


"Gimana nih maksudnya?" tanya Dian berusaha sabar.


"Yan, gue kira Lo pintar. Seharusnya Lo cukup tahu kalau teman Lo itu anak simpanan tanpa gue beritahu sejelas ini. Lo sendiri dengar kan apa kata pak Arunika saat kita kelulusan hari itu?" jelas Andini.


"Bukannya pak Arunika bilang Alda anaknya yah?" tanya Dian balik.


"Nah, maka dari itu. Yang kita tahu, yang orang-orang tahu, anaknya pak Arunika itu hanya Mika. Ehh tiba-tiba ia ikut diakui. Sebelum itu kemana aja, yah disembunyikan biar orang gak tahu kalau dia anak simpanan" judge Andini seenaknya.


Karena sudah capek mendengar segala perkataan nyeleneh Andini, Alda berdiri dari duduknya, mendekati Andini.


Alda tersenyum.


"Iya Din, aku emang anak simpanan. Anak yang gak ditahu oleh orang-orang kalau aku anaknya pak Arunika. Tapi yang harus kamu tahu, kamu gak berhak untuk ngusik hidup aku. Kamu bukan siapa-siapa nya aku." ucap Alda tenang.


"Lagian lo ngapain sih ngurus hidup orang? Ngiri Lo?" tanya Dian sarkas.


"Iya, gue iri liat dia hidup dalam circle Mika. Kenapa? Itu urusan Lo?" tanya Andini balik.


Dian tertawa keras mendengar jawaban dari mulut seorang Andini.


"Seharusnya Lo cukup tahu diri untuk masuk dalam circle mereka. Lo itu bumi, sedangkan mereka adalah langit. Tapi meskipun mereka langit, mereka gak lupa bahwa diatas langit masih ada langit dan mereka pun masih berpijak di tanah. Jangan menjadi egois untuk hal yang gak penting, Din." ceramah Dian sebelum menarik tangan Alda pergi dari kerumunan orang-orang.


"Al, pulang aja yuk" ajak Dian.


Alda mengangguk.


"Maaf yah, aku biki kamu gak nyaman tadi" sesal Alda.


Dian terkekeh.


"Apa sih, Al. Nanti kalau gue senggang, kita hang out lagi" kata Dian.


Hari itu mereka tutup dengan Alda mengantar Dian pulang ke rumahnya, mampir membeli pesanan Mika dan pulang.