Renalda

Renalda
Poor Alda



Angga, Mika dan Alda sedang bermain Uno di depan laptop. Nampak dilayar laptop ada wajah Rafa dan Randi.


"Giliran gue yak" kata Angga sambil menarik sebatang Uno dengan hati-hati.


"Cemen banget Lo, Ga. Ambilnya kayak siput. Lambat bener, entar gua tikung tahu rasa" celoteh Rafa di negara D.


Angga berhasil menarik sebatang Uno tersebut.


"Yang jauh gak usah banyak bacot." Tegur Angga.


"Lo pasti langsung pengen terbang kesini kan, terus main langsung"


"Tahu aja Lo ,Ga" Kata Randi.


Alda mencoba menarik sebatang Uno, tapi dengan jahil Mika menyenggol bahunya.


Pttakkk plakkk


Susunan Uno jatuh berserakan.


"Mikaaaaaaa" teriak Alda memukul kepala kakaknya menggunakan bantal sofa.


Mika tertawa mendapat serangan dari adiknya.


"Tumben banget Lo Ka gangguin tuh bocah" kata Rafa.


"Mika mau puasin diri kalii gangguin Alda, sebelum diambil orang" oceh Angga yang kembali menyusun Uno.


"Lhoo emang Alda mau kemana?" Tanya Randi.


"Lo pada tahu nggak, kemarin nih bocah jalan seharian sama Renal. Terus pulangnya diantar. Mana mama sama papa welcome banget lagi sama Renal" jelas Mika.


"Huaaaah" teriak Rafa heboh.


"Jadi gue udah gugur nih Ka jadi adek ipar Lo?" Tanya Rafa ikut menggoda Alda.


"Maaf ,Raf. Adek gue sepertinya suka sama yang muda-muda." Ucap Mika dramatis.


"Iya, Raf. Mundur alon-alon, Lo. Selain muda, Renal juga tajir melintir" sarkas Angga.


Alda menarik kuping Mika dan Angga.


"Enak aja kalau ngomong" omelnya.


"Jangan percaya deh Raf, Ran" katanya pada dua orang yang sedang berada di negara D.


"Terus ceritanya gimana, Al?" Tanya Randi.


"Gercep juga tuh adik kelas" kata Rafa.


"Gercep ngapain coba?" Judes Alda.


"Gercep ketemu papa mama Lo dedek" greget Rafa.


Jarak tentu bukan penghalang bagi mereka untuk saling berbagi cerita. Jaman sudah begitu maju, teknologi juga begitu canggih dan tentu saja orang-orang sudah sangat mahir menggunakan teknologi. Rafa dan Randi yang jauh pun cukup sering bercerita tentang keseharian mereka. Pun dengan Alda, Mika dan Angga.


Meskipun gak bisa seperti dulu lagi, Alda cukup bersyukur karena masih ada waktu untuk saling bicara-mendengar.


Setelah video call mereka terputus, Alda kembali bermain Uno dengan kakaknya dan Angga.


Lagi-lagi Alda yang menjadi tersangka ambruknya bangunan Uno.


"Dek, buatin minum dong. Jus alpukat, alpukatnya dibanyakin" perintah Mika.


"Gua juga dong Al, pen minum jeruk peras gue." tambah Angga.


"Enak aja nyuruh Alda" Alda memberenggut.


"Yah kan Lo kalah main unonya. Buatin minum itu hukumannya" Angga ngeles.


"Padahal juga biasanya ambil sendiri." ucap Alda tapi tetap berdiri.


"Dek, kakak mau kamu yang buat yah." teriak Mika yang tak digubris Alda.


"Seneng banget kayaknya godain Alda hari ini?" tanya Angga yang lebih menyerupai pernyataan.


Mika merenung sejenak.


"Lagi mood aja. Biasanya itu anak cuman jadi penghuni kamar kalau siangan gini. Mumpung moodnya baik, yaudah gue kasih kesibukan"


"Lagian ada-ada aja sih pilih gap year" decak Angga.


"Otak pintar, finansial mendukung. Kenapa coba gak lanjut terus pilih kedok?"


"Terserah adek gua dong. Kok elu yang sewot?" judes Mika.


Angga hanya mendengar, tanpa berniat menjawab. Hingga Alda datang membawa minuman yang tadi dipesan oleh kedua tuan muda yang dengan santainya rebahan di sofa.


"Silahkan diminum, tuan muda" sarkas Alda setelah meletakkan minum yang dibuatnya.


Mika dan Angga terkekeh mendengar nada sarkas Alda.


"Terima kasih, sayang" ucap Mika kemudian mengecup pipi Alda.