
Di sebuah ballroom hotel, terlihat beberapa orang hilir mudik berjalan, beberapa membawa perlengkapan di tangannya dan beberapa lagi menginstruksikan kepada yang lainnya.
Tentu saja hal itu terjadi, meskipun Renaldi adalah seorang laki-laki, tapi ia mempunyai Dina, sang ibu yang begitu heboh. Renal sebenarnya tidak ingin semua ini terjadi, hanya perlu meniup lilin dari cake yang mamanya buat, itu sudah cukup. Tapi hal itu tentu saja ditolak mentah mentah oleh Dina. Dina begitu antusias untuk membuat acara ulang tahun anaknya menjadi meriah.
Sementara dikediaman Arunika, Alda sedang bingung. Ia bingung akan mengenakan pakaian apa di pesta ulang tahun orang yang belakangan ini kerap menghabiskan waktu bersamanya.
"Mama, adek gak punya baju untuk dipakai ke pestanya anaknya pak Raka" adu Alda pada Aina.
Yah, Aina sudah kembali ke kota A sejak beberapa hari yang lalu. Ia sedikit cemas meninggalkan putrinya dalam jangka waktu yang lama. Sebulan kemarin pun baginya sudah cukup lama.
"Lho, gimana gimana?" tanya Aina.
"Adek gak tahu mau pakai yang mana" ucapnya bingung.
Aina menghela napasnya.
"Mau mama temanin ke butik? Biar adek pilih sendiri bajunya" saran Aina.
Alda menggeleng.
"Baju adek kan masih banyak, adek hanya gak tahu mau pakai yang mana" ucapnya.
"Yaudah, mama bantuin. Mau?"
"Tentu saja, mama" senang Alda sambil bergelayut manja di lengan mamanya.
Aina menilik walk in closed (benar gak nih penulisan nya) anaknya. Benar apa yang dikatakan Alda, bajunya berjejer rapi. Aina kadang tak sadar membelikan pakaian untuk anak-anaknya. Jika ada yang terlihat menarik, tanpa pikir panjang ia langsung membelinya untuk sang anak.
"Adek pengen gimana nanti?" tanya Aina.
Alda berpikir sejenak.
"Yang sederhana aja, ma. Tapi yang cocok kalau rambutnya dikepang gitu" jawabnya.
Aina beberapa kali mengangkat baju Alda, mencocokkan dengan anaknya. Hingga pilihan nya jatuh pada gaun 3/4 sebetis berwarna maroon.
"Dek, yang ini bagus gak?" tanya Aina.
Alda memandang baju yang sedang dipegang mamanya.
"Bagus, ma. Cocok kalau dikombinasikan dengan kepangan"
"Yaudah, kamu siap-siap dulu. Panggil mama kalau rambutnya mau dikepang. Mama turun dulu, tunggu papa pulang" Aina mencium sekilas pipi anaknya kemudian kembali turun menunggu sang suami.
"Adek kemana, ma? Tumben gak nempelin mama." tanya Lathief setelah mencium kening istrinya.
"Adek diatas. Lagi siap-siap."
"Lho, mau kemana emang?" tanya Lathief.
"Anak-anak diundang sama anaknya pak Maheswari. Dia ulang tahun katanya" jawab Aina.
"Yaudah kalau gitu kita dinner diluar aja bareng yang lain, biar gak kalah sama anak-anak" kata Lathief.
Aina terkekeh tapi tetap menyetujui saran sang suami. Ia lalu menelpon Priska, Rina dan Arwini. Yang tentu saja begitu heboh mendapat ajakan dari Aina.
Mika yang baru saja pulang dari kampus bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi bersama Alda dan Angga ke pesta Renal.
Ia kini duduk di sofa ruang keluarga bersama papanya.
"Kuliahnya gimana, kak?" tanya Lathief.
"Aman, pa" jawab Mika sumringah.
Suara langkah kaki terdengar dari atas. Dua generasi Arunika itu mencari asal suara. Mata mereka berbinar binar melihat kecantikan dua generasi yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Bidadari dari mana nih, Pa?" tanya Mika.
Lathief terkekeh.
"Bidadari nya Arunika ini" jawabnya.
"Cantik banget ibu ratu kita, incess juga cantik betul" puji Mika melihat mama dan adiknya.
Aina dan Alda terkekeh mendengar percakapan Lathief dan Mika.
"Pa, kakak dan adek pergi dulu. Angga udah di depan" pamit Alda pada Lathief. Tak lupa Aina dan Lathief memberi ciuman pada anak-anak mereka.
"Hati-hati, nak" ucap Aina.
Umur keduanya sudah beranjak dewasa, tapi mencium anaknya adalah hal yang tak pernah bisa ia tidak lakukan. Sebesar apapun mereka, mereka tetap anak kecil bagi Lathief dan Aina.
"Giliran kita nih, ma. Let start our dinner" kata Lathief yang disambut gelak tawa Aina.